logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 17 September 2002 Internasional  
Line

Irak Ditekan tapi Israel Kok Tidak

NEW YORK - Para anggota delegasi Arab pada sidang tahunan Majelis Umum PBB di New York, Minggu waktu setempat mengecam sejumlah pelanggaran Israel terhadap resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB.

Mereka juga menyeru suatu penyelesaian damai atas krisis Irak. Pidato paling keras berasal dari Menlu Suriah Farouq Al-Shara, satu-satunya anggota Arab di DK PBB.

''Kami tidak melihat adanya pembenaran bagi pemicuan perang lain di Timur Tengah,'' ujar Al-Shara kepada majelis, tiga hari setelah Presiden AS George W Bush memperingatkan bahwa aksi terhadap Irak tidak dapat dihindari, jika Irak terus menentang PBB.

Bush menantang badan dunia itu untuk menegakkan sejumlah resolusi yang disahkan setelah invasi Irak ke Kuwait pada 1990, terutama tuntutan agar Bagdad menyerahkan semua senjata penghancur massalnya untuk dimusnahkan.

''Mengapa dunia hanya menuntut Irak untuk mematuhi resolusi-resolusi Dewan Keamanan PBB, sementara Israel dibolehkan bebas dari hukum internasional?'' tanya Menlu Suriah itu, pada sidang MU PBB tersebut.

Diplomat senior Suriah itu juga menyeru kembali bagi pemusnahan semua senjata penghancur massal di Timur Tengah, termasuk milik Israel. ''Negara Yahudi itu juga seharusnya diminta untuk mengizinkan pemeriksaan pada sejumlah fasilitas nuklirnya,'' tuntut Al-Shara.

Diingatkannya, serangan terhadap Irak tidak dapat dibenarkan, karena negara itu tidak menduduki suatu negara asing. Sebaliknya, Israel menduduki wilayah Palestina, katanya.

Yordania dan Bahrain, negara-negara lain Arab yang berpidato di Majelis Umum PBB, mengeluarkan pernyataan serupa, namun tidak begitu keras.

Aksi Muslim Inggris

Sementara itu di London, para juru dakwah muslim radikal mengerahkan ribuan pengikutnya di sebuah lapangan hoki es, Minggu kemarin. Mereka mencela negara-negara Barat.

Mereka berpidato berapi-api di hadapan sekitar 9.000 orang, terutama kaum muda. Kelompok moderat mengatakan, muslim radikal hanyalah golongan kecil dari komunitas mereka.

Kaum moderat itu menuduh media massa Barat terlalu membesar-besarkan aksi kaum radikal guna memojokkan seluruh umat Islam. Namun, hadirin khotbah di London itu setuju pada kecamam keras terhadap Barat.

''Kami ke sini pada hari ini untuk menggambarkan jalan yang harus diikuti kaum muslim di Barat, wilayah yang mengalami kemerosotan budaya, tempat jebakan integrasi berbahaya harus dihindari,'' ujar seorang organisator pertemuan itu, Imran Wahid, yang juga juru bicara partai politik muslim Hizb ut-Tahrir.

''Sejak 11 September kami telah mengatakan akan memilih antara menerima kapitalisme atau dicap teroris. Namun jalan ketiga kami adalah mempertahankan identitas Islam kami,'' tambah Imran.

Namun dia menambahkan, dia tidak akan menyerukan kaum muslim Inggris untuk memberontak jika Inggris bergabung dengan AS untuk menyerang Irak. Seruan seperti itu telah disampaijan sebagian golongan muslim radikal.

Issam Amireh, seorang warga Palestina, mengatakan: ''Mereka ingin kaum muslim berintegrasi dan menerima demokrasi, yang merupakan selembar tiket searah menuju api neraka.''

Terpecah

Kelompok-kelompok Islam di Inggris terpecah, antara mereka yang menyatakan melihat kaum muslim telah menjadi bagian dari masyarakat Inggris dan mereka yang menyatakan menolak nilai-nilai Barat.

Sebuah golongan kecil tetapi vokal, memperlihatkan simpati pada para pelaku aksi kamikaze 11 September. Simpati tersebut mendatangkan kekhawatiran di kalangan kelompok arus utama, yang menyatakan pandangan seperti itu mencemarkan mayoritas muslim yang cinta damai.

Sebagian muslim paling radikal mengadakan pawai di sebuah masjid di London Utara pekan lalu, saat berlangsung peringatan setahun aksi kamikaze yang mereka juluki ''hari gemilang dalam sejarah''.

Seorang juru bicara untuk Dewan Muslim Inggris, sebuah organisasi payung bagi organisasi muslim di negeri itu, mengatakan kepada Reuters, tidak ada yang tidak islami untuk bergabung dengan arus utama.

Namun pesan lebih radikal yang disampaikann tampaknya menggugah syaraf sebagian orang. Seorang remaja yang mengenakan topi baseball bertuliskan ''Properti Islam'', mengatakan: ''Saya jemu agama saya dikecam dan saya siap bertempur membelanya.'' (rtr-ben-30)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA