
| Selasa, 17 September 2002 | Jawa Tengah - Pantura |
Los Pasar Kedungwuni DiubahKAJEN- Setelah diprotes dan diadukan ke Dewan oleh para pemilik rumah toko (ruko), desain pembangunan los baru di Pasar Kedungwuni diubah. Lokasi antara ruko dan los diberi jarak tiga meter, tinggi bangunan pun dikurangi 30 cm dari desain semula yang 5,72 meter. Kepala Dinas Pendapatan Daerah (Dipenda) Djoko Pranowo SH didampingi Kasubdin Pasar Nico M Roem kemarin menyatakan perubahan desain itu dilakukan setelah ada kesepakatan delapan orang perwakilan pemilik ruko, perwakilan pedagang, Muspika Kedungwuni, Lurah Kedungwuni, DPU, Dipenda, dan Asisten II Sekwilda Drs Sudiyantoro, belum lama ini. Dalam kesepakatan itu, ujar Djoko, proyek pembangunan Rp 168,1 juta itu tetap dilanjutkan dengan mengakomodasi permintaan pemilik ruko agar tidak merasa terganggu. Permintaan tersebut adalah tidak menambah pedagang baru, tidak memasang tenda atau sekat pada los baru, bangunan tidak terlalu tinggi, dan menambah jarak tiga meter dari ruko agar tetap dapat dilewati mobil atau parkir para pembeli yang ingin ke ruko. ''Dengan demikian, desain awal terpaksa diubah agar pemilik ruko tidak dirugikan.'' Soal kontrak awal yang menyatakan larangan untuk membuat bangunan selama 20 tahun di depan ruko, anggota Dewan tersebut mengaku tidak tahu-menahu. ''Yang pasti proyek itu sudah dilaksanakan lama dan Dewan telah menyetujui.'' Tidak Dijual Dia mengemukakan, proyek itu untuk menertibkan lalu lintas pasar di Kedungwuni yang semrawut. Banyak bangunan liar yang berdiri di pinggir jalan baik untuk berdagang maupun aktivitas lain sehingga mengganggu lalu lintas. ''Untuk menertibkan, Pemkab membangun los agar ditempati para pedagang yang sebelumnya berjualan di pinggir jalan.'' Soal pemilihan lokasi yang diprotes pemilik ruko, Djoko menjelaskan, karena memang tidak ada lagi areal di sekitar lokasi itu. Padahal, para pedagang tidak mau ditempatkan di belakang pasar. ''Karena pedagang tak mau pergi dari situ, Pemkab membangun los untuk menampung mereka agar lalu lintas lebih tertib.'' Menjawab soal kabar miring di masyarakat, los tersebut dijual dengan harga Rp 10 juta per unit, Djoko membantah. Dia menekankan, empat los berdaya tampung 27 pedagang tersebut memang dibangun untuk menampung para pedagang. ''Tidak benar bila ada kabar, los tersebut dijualbelikan. Dia menegaskan, proses pembangunan los telah dibicarakan dan disepakati para pedagang yang telah lama berjualan di situ termasuk mereka yang menempati los tesebut. Para pedagang kaki lima yang kebanyakan berdagang buah semua akan tertampung. Seperti yang diberitakan Suara Merdeka (16/9), para pemilik ruko mengadukan pembangunan los baru ke Dewan lantaran dianggap merugikan ruko yang sudah ada lama di situ. Dengan los baru itu, pemandangan ruko akan terhalang dari jalan selain menyempitkan ruang parkir bagi pembeli.(br-17j) |