
| Selasa, 17 September 2002 | Budaya |
Jangan Kunjungi Eliana Malam Minggu
JIKA Eliana, Eliana menjadi indah, barangkali karena film itu tidak menghadirkan Jakarta ketika di-make-up. Kemungkinan lain, film garapan Riri Riza itu juga tidak sedang menjual mimpi: tak ada jagoan, juga tak ada tokoh awalnya menderita kemudian menjadi pengusaha sukses pada ending. Sebaliknya, dalam durasi putar hampir dua jam, film itu menyuguhkan segala yang kelam dan kusam: perkampungan kumuh, gang sempit, air comberan, kamar kontrakan yang mirip kapal pecah, suasana toko-toko setelah tutup, atau gudang tua dengan dinding penuh grafiti. Itu tentang setting. Sisi penokohan pun menawarkan suasana yang tak jauh berbeda. Tokoh-tokoh yang muncul, Eliana (Rachel Sayidina), Bunda (Jajang C Noer), Heni (Henidar Amroe), dan Ratna (Mercella Zalianty) adalah para sosok yang tergesa, gelisah, dan hampir selalu marah nyaris sepanjang pertunjukan. Simaklah, pertemuan Bunda dan Eliana yang sejak awal diselimuti amarah. Bahkan, kemudian berlanjut hingga sepanjang sekitar lima jam, ketika mereka bersama-sama mencari Heni, sahabat Eliana. Sesuatu yang menarik kemudian terjadi, ketika Eliana, Eliana nyaris tanpa cerita. Jika boleh disebut cerita, kisah itu sebenarnya sudah selesai sejak awal, ketika Bunda datang ke Jakarta mengajak Eliana, anaknya, pulang. Namun, Eli, panggilan Eliana, menolak. Bunda akhirnya pulang sendiri ke Padang. Maka, keindahan Eliana, Eliana sebenarnya bukan pada kerangka cerita (plot), melainkan justru pada adegan-adegan kecil dalam kerangka besar tersebut. Bangunan Miniatur Adegan-adegan yang berkesan sebagai sampiran seperti saat Eliana ditemani Bunda mencari Heni, sahabatnya, itu justru muncul menjadi kekuatan. Di luar itu, muncul peristiwa-peristiwa sepele yang sebenarnya sangat dekat dengan kita tapi menjadi indah ketika menjadi bagian dari sebuah film. Riri Riza tampaknya menjadikan adegan-adegan itu sebagai media untuk membangun sebuah miniatur yang lain tentang Jakarta. Karena itu, Eliana, Eliana pun menjadi utuh sekaligus indah karena adegan-adegan sepele tersebut. Kecerdasan Riri, barangkali terletak pada penyambungan adegan kecil yang semula seperti numpang lewat, tapi tiba-tiba memiliki kesinambungan pada babak-babak akhir. Penonton mungkin abai dengan cerita sopir taksi tentang anaknya yang suka memotreti orang-orang biasa. Namun, mau tak mau mereka kembali ingat, sekaligus berpikir, karena menjelang ending tokoh fotografer (dan kameramen?) yang dimainkan Timur Angin tersebut muncul. Ya, itulah satu dari puluhan film yang akan diputar dalam Semarang International Film Festival di Auditorium RRI Semarang dan Hotel Santika, Rabu-Minggu (18-22/9), yang digelar oleh Kronik Kine Klub dalam format Djarum Black Selected Cinema. Pada akhirnya, Eliana, Eliana memang sebuah film indah. Namun, jika berharap memperoleh mimpi-mimpi dari film tersebut, Anda keliru. Sebab, film yang skenarionya ditulis Prisma Rusdi dan Riri Riza itu bukan sinetron yang menawarkan kemustahilan sebagai muzikat. Eliana, Eliana bukan hiburan asal tonton pada malam Minggu yang membuat penonton terpaku. Bukan, bukan itu! (Ganug Nugroho Adi-41e) | |||||