
| Selasa, 17 September 2002 | Budaya |
Jelajah Ruang JoiceDI sebuah pendopo, seseorang menari. Gerakannya tajam, kadang tidak beraturan. Sesekali dia tertawa, mendesah, dan menghentakkan kaki. Suara hentakan kaki itu menjadi musik; irama yang mengiringi geraknya. Sepintas, polanya sederhana; namun sangat kuat dalam penghayatan. Kemudian, pendopo seperti hilang. Hanya penari yang terlihat. Dia seakan membuat ruangan sendiri; tidak menari di pendopo lagi. Terus bergerak dengan geliat yang sangat detail: gelengan kepala, perubahan jari, bahkan arah pandang mata. Kemudian terjadi perubahan gerak, menajam, seperti orang bersilat. Makin lama makin kuat, dan membuat kesadaran ruang makin terlihat. Dia tampak seperti bergerak di udara, di bawah sesuatu, atau kadang seperti ada yang menutupinya. Permainan level (atas, bawah, sedang), terlihat "cantik" sekali dilakukan. Pengalaman Batin Itulah, sajian tunggal Joice Lim di pendopo Sono Seni Solo, Minggu malam lalu. Hanya tiga menit dia menari, namun mampu memberikan pengalaman tersendiri pada penonton. Yaitu, ternyata ruang bisa diciptakan dari arah gerak tubuh penari. "Bagi saya, menari adalah pengalaman batin yang luar biasa" ujarnya seusai menari. Karena itu, dia sangat menikmati ketika menari. Tidak ada yang dia pikirkan, kecuali tubuhnya yang sedang bergerak. Dia menambahkan, tari tradisi Asia paling sulit dipelajari, walaupun dia berasal dari Malaysia. Maka, dia lebih senang belajar tari kontemporer; namun kadang idiom-idiom tari tradisional Malaysia diambil juga. Sarjana utama tari dari New York itu mengatakan, ada perubahan yang dia rasakan setelah bergelut di dunia seni. Dulu, dia berasal dari dunia ilmu pengetahuan. Dia seorang sarjana kimia. Suatu ketika, dia tertarik mempelajari tari dan meraih gelar S2 bidang seni itu. Kemudian, Joice melanglang buana, termasuk Indonesia. Dan malam itu, dia menuntaskan geliat talentanya di Solo, dengan penuh pukau.(Wisnu Kisawa-41) |