logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 13 September 2002 Budaya  
Line

Membangun Spirit dari Kothekan Lesung

JALAN terjal berkerikil terhampar begitu memasuki Kampung Bonoroto. Sebuah wilayah di sebelah timurlaut kota Solo. Sawah membentang di antara rumah dari bilik bambu khas pedesaan.

Dalam dingin malam, saat jarum jam menunjuk angka tujuh, sayup-sayup terdengar bunyi lesung dipukul. Makin lama makin jelas, kadang diselingi tawa perempuan. Begitu memasuki sebuah halaman, beberapa perempuan tua memegang alu. Keriangan tampak di wajah mereka.

Terlihat nenek-nenek sedang kothekan lesung. Permainan musik dengan alat penumbuk padi (alu dan lesung).

Berkat kothekan lesung, banyak hal terjadi pada masyarakat Bonoroto. Kondisi wilayah kampung itu sekarang juga jauh berbeda. Hari Genduk, salah seorang tokoh mengisahkan, dia datang pada tahun 1990. Saat itu, Bonoroto sangat memprihatinkan.

Masyarakat menutup diri. Apalagi wilayah itu belum terambah listrik dan pengerasan jalan. "Saat itu saya kebingungan, bagaimana mesti bersosialisasi," katanya. Akhirnya dia menemukan cara, yaitu menghidupkan kembali kesenian lesung.

Nyai Lesung

Harapan itu menjadi kenyataan. Setiap malam masyarakat berkumpul untuk membunyikan lesung. Makin lama lama mereka makin akrab dan terbuka.

Hingga sekarang kothekan lesung menjadi ciri khas daerah Bonoroto. Hampir semua wilayah Solo pernah dijadikan ajang pentas mereka. Bahkan sudah dua kali kesenian itu manggung di Jakarta.

Lesung bagi masyarakat Bonoroto tidak akan lepas dari cerita tentang Nyai Ledhek Lesung. Nyi Prenjak, salah seorang warga, menceritakan, dahulu Bonoroto merupakan lumbung padi wilayah Solo dan sekitarnya.

Di sela-sela menumbuk padi, saat istirahat, mereka melepas lelah dengan bermain lesung. Gending-gending seperti "Saur-sauran", "Bluluk Gigol", "Katisen" tercipta dari kebiasaan itu.

Di antara orang yang bermain lesung itu ada Nyai Rebi. Dia selalu manembromo sesuai dengan irama. Suaranya merdu sekali. Kabar itu terdengar sampai keluar wilayah Bonoroto. Jadilah wanita itu menjadi "penyanyi" dan menjadi Nyai Ledhek Lesung.

Masyarakat Bonoroto memandang lesung bukan sekadar alat namun menjadi simbol bagi banyak hal. Simbol untuk sarana mendatangkan hujan atau mengusir setan seperti dalam cerita Bandung Bandawasa. Juga simbol kemakmuran.

Ole-ole enthong\Semar mantu Petruk jjagong\Entho-entho enthak\entho-entho jemblem\Semar mikul kothak\Suradadu mikul mriyem (Wisnu Kisawa-75)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA