logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 9 September 2002 Tajuk Rencana  
Line

Tatkala yang di Bawah telah Berjabat Tangan

- Dua bangsa Korea, Sabtu lalu menggelar diplomasi sepakbola yang sangat menyentuh hati. Kedua kesebelasan memasuki Stadion Olimpiade Seoul dengan bersama-sama mengusung bendera unifikasi. Bendera putih besar dengan peta jazirah Korea tanpa garis pembatas. Sebagian pemain lain berlari ke tengah lapangan dengan saling bergandeng tangan. Setelah pertandingan selesai dengan skor 0-0, pemain kedua kesebelasan kembali mempertontonkan semangat persahabatan yang tulus. Berjabat tangan dan berangkulan. Ke luar lapangan pun sambil bergandengan tangan. Pemandangan mengesankan itu disaksikan puluhan ribu warga Seoul. Korea Utara juga akan terjun ke Asian Games Busan pada akhir bulan ini.

- Adegan di stadion itu sangat kontras dengan konflik kedua bangsa yang kembali pecah akhir tahun ini. Kembali terjadi tembak-menembak penuh permusuhan. Perang dan damai seolah terus terjadi pada kedua bangsa yang dipisahkan oleh perbedaan ideologi sejak akhir Perang Dunia II itu. Dalam catatan kita, beberapa tahun belakangan kedua bangsa sudah berkali-kali berusaha menggelar titian untuk membangun unifikasi. Antara lain izin berkunjung antarkeluarga yang terpisah, dan "diplomasi sapi" semasa Presiden Kim Young-sam untuk membantu rakyat Korea Utara ketika menghadapi kelaparan akibat kemarau panjang. Diplomasi sepakbola Sabtu lalu yang sangat mengesankan itu adalah yang terakhir.

- Sebelumnya, Presiden Korea Selatan Kim Dae-jung telah mengunjungi Pyongyang. Sebuah peristiwa politik yang sangat langka yang sebenarnya merupakan cerminan kuat keinginan kedua bangsa. Namun keinginan itu hingga sekarang toh tetap tinggal keinginan. Dari berbagai peristiwa itu, seperti kunjungan antarkeluarga, dan diplomasi sepakbola sebenarnya kita melihat keinginan untuk bersatu kembali sangat kuat. Di bawah, rakyat sangat terbuka untuk berjabat dan bergandeng tangan. Namun, kenapa unifikasi belum juga terwujud? Konflik selalu muncul dan pecah kembali? Mungkinkah lantaran keinginan tulus belum lahir dari hati para pemimpinnya akibat berbagai kepentingan? Atau mungkinkah karena peran negara adidaya AS yang memiliki kepentingan strategis lain di sana?

- Rasa persahabatan yang terjalin hangat di Stadion Seoul itu sekaligus mengingatkan kita kepada kejadian-kejadian di Tanah Air belakangan. Terutama menyangkut konflik-konflik yang pecah di beberapa daerah. Di Ambon, Poso, dan bahkan di Aceh. Usaha membangun kembali perdamaian di Ambon dan Poso sudah berkali-kali digelar. Pertemuan dari hati ke hati antara para pemimpin formal dan informal, para rohaniwan dan ulama, dan antarkelompok yang bertikai sudah beberapa kali digelar. Yang paling utama, pertemuan Malino yang difasilitasi Menko Kesra Yusuf Kalla. Pertemuan itu dapat meletakkan landasan bagi keterwujudan kembali perdamaian dan persahabatan mereka yang terlibat konflik. Dua kelompok itu sama-sama anak bangsa. Dialog tentang Aceh juga sudah berkali-kali digelar di Jenewa.

- Akan tetapi tiap kali kita dibuat kecewa. Bom kembali berledakan yang sekaligus terasa bagai menghancurkan hati kita sebagai bangsa. Membuyarkan kembali harapan terciptanya kehidupan masyarakat yang tenang dan damai. Yang kita yakin sangat didambakan oleh rakyat kecil di sana. Di Ambon, Poso, dan Aceh. Pertanyaan besar pun timbul dalam hati kita. Jika si kecil, rakyat the grassroot level sudah berjabat tangan, berangkulan, dan bergandengan tangan kembali, siapa pelaku peledakan bom di sana? Benarkah tengara Wapres Hamzah Haz, memang ada pihak-pihak yang tidak menginginkan rakyat di sana kembali hidup tenang dan damai? Benarkan di sana memang ada yang disebut provokator? Siapakah sebenarnya mereka itu? Apa kepentingannya?

- Secara sederhana bisa diperkirakan, bila seluruh rakyat sudah ingin damai yang meledakkan bom dan mengorbankan rakyat tentulah oknum di luar lingkaran masyarakat itu. Bisa jadi bagian dari rakyat itu, tetapi sudah terperangkap kepentingan dari luar. Pernah disebut-sebut kelompok statusquo. Pendukung rezim masa lalu yang tersingkir. Bila demikian, kelompok itu sebenarnya sangat jelas. Namun mengapa aparat keamanan, baik polisi maupun TNI, tak juga mampu memecahkan masalah? Mungkinkah kedua kekuatan itu juga dipisahkan oleh kepentingan? Seperti elite politik bangsa yang terus konflik akibat mendahulukan kepentingan kelompok? Andaikata kita mau becermin kepada semangat persahabatan di Stadion Seoul, bergandengan tangan untuk bersama mendahulukan kepentingan bangsa, ada harapan derita itu bisa segera diakhiri.


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | English | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA