
| Senin, 9 September 2002 | Sala |
Diskusi Bedah Buku Bung HattaMundur dari Jabatan Wapres Keteladan yang Sulit TerwujudSOLO-Perbedaan pandangan yang menajam antara Soekarno dan Hatta tak bisa dihindari. Pada tahun 1956 Bung Hatta pun memilih melepas jabatan wakil presiden (wapres). Keteladanan mulia yang dicontohkan politikus besar negeri ini itu agaknya sangat sulit ditiru ahli waris pemimpin bangsa saat ini. ''Jadi jangan salah, karena merasa tak cocok dengan visi Presiden (Bung Karno-Red), beliau (Bung Hatta) mengundurkan diri. Itu keteladan sangat langka atau bahkan mustahil kita temui pada zaman sekarang,'' tegas Sekjen Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Dr Ir Koensatwanto Ipasihardjo Dip HE MSc, di Hotel Sahid Kusuma Solo, Jumat malam. Di depan sekitar 150 peserta bedah buku Bung Hatta Bapak Kedaulatan Rakyat, dia menjadi pembahas bersama staf ahli Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Prof Dr Gunawan Sumodiningrat, Rektor UNS Prof Dr Haris Mujiman, dan Sekda Kota Solo Drs Qomarudin MM. Menantu Bung Hatta, Prof Dr Sri-Edi Swasono, tampil paling awal sebagai presenter buku dipandu Direktur Utama PDAM Abimanyu BE. Bedah buku itu diselenggarakan Kadin Kota dan Yayasan Bung Hatta. Hadir beberapa pejabat serta kalangan pengusaha dan pendidikan. Dalam acara itu Dr Koensatwanto menajamkan sisi pandang terhadap isi buku yang baru kali pertama dibedah tersebut. Selain penegasan mengenai sikap Bung Hatta pada tahun 1956 itu, dia melihat keserasian dwitunggal Soekarno-Hatta. Mereka sama-sama mempunyai keunggulan dan keunikan yang menjadi kekuatan luar biasa ketika dipadukan. Sebagai editor sekaligus presenter Sri-Edi mengemukakan buku 705 halaman berisi 57 tulisan para tokoh beragam latar belakang itu pas dengan tema bedah buku untuk memperingati HUT RI. Dalam buku itu, kata dia, hanya ada beberapa hal yang sangat penting. Yakni, dua maklumat dan dua wasiat. Dua Pesan Dua wasiat itu adalah pesan Bung Hatta beberapa saat menjelang wafat. Bung Hatta mewanti-wanti jenazahnya tak dimakamkan di Makam Pahlawan Kalibata. Dia ingin dikubur di pekuburan rakyat agar sewaktu-waktu gampang ditengok keluarga dan rakyat. ''Wasiat kedua tak diberikan kepada keluarga, tetapi ke Mas Guntur Soekarnoputra. Antara lain, 'Omongan orang-orang itu tidak benar dan yang benar naskah Pancasila yang ditulis bapakmu (Bung Karno-Red).' Termasuk hilangnya tujuh kata dalam Piagam Jakarta, yang tentu atas keberhasilan lobi beliau,'' kata mantan Ketua Dewan Koperasi Indonesia itu. Banyak sekali kenangan berupa nasihat bijak dan falsafah kehidupan ditinggalkan Bung Hatta baik yang disebut-sebut dalam buku maupun belum. Dia menuturkan mertuanya itu pernah marah besar pada akhir masa bakti sebagai wakil presiden dan mengeluarkan kata-kata dalam bahasa Jerman tentang kekerdilan orang-orang pada zaman dan abad besar waktu itu dan mungkin pula saat ini. Bagi Prof Dr Gunawan Sumodiningrat, berbagai istilah dan sebutan kehormatan kepada Bung Hatta sebenarnya bisa dirangkum menjadi satu predikat. Yakni, bapak sejatining urip. Artinya, jika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini sadar betul terhadap tugas dan kewajiban berproduksi, melakukan tugas yang menghasilkan pendapatan atau distribusi serta mewujudkan kesejahteraan, itulah sebenarnya yang disimbolkan Bung Hatta. (won-42g) |