logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 9 September 2002 Berita Utama  
Line

16.000 TKI Masih Bertahan di Nunukan

  • Lokasi Penampungan Makin Kumuh
BEREBUT MAKANAN: Ribuan TKI, kemarin masih berada di penampungan lapangan Porsan Nunukan, Kalimatan Timur. Ketika truk pengangkut nasi dengan lauk ikan teri datang, mereka langsung berebut. (Foto: Suara Merdeka/G1-15)

NUNUKAN - Sebanyak 16.000 TKI dan keluarganya yang terdampar di Nunukan, Kalimantan Timur, masih bertahan di 10 posko penampungan serta rumah-rumah Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI). Kemarin petang mereka masih memenuhi kantong-kantong penampungan dan tenda-tenda darurat.

"TKI dan keluarga di penampungan milik pemerintah dan di rumah-rumah PJTKI masih 16.000 lebih," tutur satgas penanggulangan TKI bermasalah dan pusat data Kabupaten Nunukan, Irawan, kemarin.

Sepuluh posko yang masih dipadati tersebut antara lain berada di Puskesmas Nunukan, Lapangan Porsas, penampungan H Ramli, pelabuhan, Jalan Tawakkal, dan Mambunut. Hujan deras yang mengguyur Nunukan pagi hari membuat tanah di sekitar tenda-tenda dan bangunan panggung penampungan bertambah lembab dan becek.

Dikhawatirkan penyakit saluran pencernakan dan pernapasan akan cepat berkembang. Di penampungan H Ramli, para TKI dan keluarganya terlihat duduk-duduk di sekitar Pasar Inhutani I. Lokasi Kantor Bea dan Cukai Nunukan juga dijadikan lokasi istirahat.

Tenda-tenda untuk istirahat, makan, menyusui bayi, dan memasak dengan alat dan makanan seadanya bercampur menjadi satu. Selain lembab, lokasi tersebut terlihat kumuh. Sampah berserakan dan sisa makan berceceran.

Empat ibu yang masing-masing menggendong bayinya langsung menyapu teras kantor itu setelah hujan mereda. Tikar yang masih basah digelar kembali untuk menidurkan anaknya yang terus menangis.

Lalat-lalat yang menyerbu di lokasi tersebut makin bertambah. "Kondisi mereka makin menyedihkan. Setiap malam bayinya terus menangis, tapi hanya bisa ditutup dengan tetek. Mereka tidak bisa berbuat banyak untuk menghentikan tangis bayinya. Apalagi orang tuanya juga terserang batuk-batuk," tutur Susanto, staf Kantor Bea dan Cukai.

Erna (20), warga Bulu Kumba, Sulawesi Selatan, tampak segera menyusui bayinya yang menangis. Nuranti (9 bulan) terkena penyakit mata, batuk, dan pilek. Badannya memanas. Dia telah sebulan lebih berada di lokasi tersebut, tidur beralaskan tikar dan berselimut kain seadanya.

Di teras kantor itu pula, Geni (50), warga Waloppo, Sulawesi Utara, harus berjalan tertatih-tatih untuk mengambil makanan. Dia tampak memegang perutnya yang membuncit. Bukan karena kehamilan, tetapi dia terserang penyakit tumor sebesar bola kaki.

Enggan Pindah

Sebagian besar penghuni tempat itu tampaknya enggan pindah ke penampungan Wana Wisata Mambunut. Keengganan tersebut karena mereka belum mendapat perintah dari perusahaan penyalur. "Tidak ada perintah untuk pindah. Kami tetap tinggal di sini saja," kata Haruna asal Makassar.

Selain itu, beberapa TKI lain juga menuturkan lokasi tersebut terlalu jauh dari lokasi PJTKI untuk menyalurkan kembali ke Malaysia. Lokasi tersebut berjarak sekitar 4 km dari kota Nunukan. Berada di kawasan hutan wisata milik Inhutani I, penampungan Mambunut seluas 13 hektare itu terletak di pinggir laut.

Lokasi itu terus didirikan rumah-rumah panggung dari papan. Alat berat seperti beghu terlihat diaktifkan untuk membuat saluran air dan sarana MCK.

Direncanakan di tempat tersebut akan dibuatkan 100 rumah panggung. Setiap rumah mampu menampung 100 TKI dan keluarganya.

Namun, lokasi penampungan yang bisa digunakan dalam jangka lama itu baru terisi sekitar 500 orang. Kendati lokasinya lebih baik dibandingkan di Lapangan Porsas, para TKI dan keluarganya itu belum berniat untuk pindah ke sana.

Bertepatan dengan berlabuhnya KM Kerinci tujuan Nunukan-Pantoloan-Toli Toli, Balik Papan-Surabaya, dermaga Tunon Taka dipadati masyarakat. Calon penumpang tersebut diperkirakan termasuk TKI yang hendak pulang ke kampung halamannya. "Saya pulang dulu sambil menunggu kepastian bisa berangkat ke Malaysia," ujar TKI asal Jember, Jatim, Sunaryo, (40). Dia mengaku bekerja di Sabah sebagai pengemudi di sebuah perusahaan elektronik.

Kesibukan lain, 72 koli obat-obatan diturunkan dari kapal tersebut. Obat-obatan terdiri atas 25 item (terutama obat saluran pernapasan atas dan pencernakan bawah) dikirim dari Yayasan Stanley Nugroho Jakarta. Bantuan obat tersebut ditujukan kepada Kapolda Kaltim dan Gereja Katolik untuk disalurkan kepada para TKI dan keluarganya. (G1-16t)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | English | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA