
| Senin, 9 September 2002 | Semarang & Sekitarnya |
Perlu Perubahan KonsepPT Pusat Rekreasi dan Promosi Pembangunan (PRPP) Jateng di Jalan Anjasmoro Tawang Mas Semarang sebenarnya telah menjadi satu perusahaan penyelenggara pameran dan promosi yang termasuk memiliki areal terluas di Tanah Air. Total lahan 45,5 ha yang dibagi dalam dua lokasi usaha, yaitu PRPP 21 ha dan Taman Mini Jateng (Puri Maerakaca) 24,5 ha. Sebelum berbentuk PT, berawal dari kepanitiaan Pekan Raya Semarang (PRS) yang digelar di THR Tegalwareng (Taman Raden Saleh) yang dibentuk wali kota dengan Kadinda Jateng. Mulai 1985, PRS berganti nama menjadi Pekan Raya dan Promosi Pembangunan (PRPP) Jateng bersamaan dengan kepindahan lokasi pameran ke Tawang Mas dengan pengelola Yayasan PRPP. Pada 1995, yayasan tersebut diubah menjadi PT dengan tujuan mewujudkan kinerja yang lebih profesional. Pada tahun lalu, PRPP satu perusahaan milik Pemprov Jateng yang memiliki modal dasar Rp 50 miliar dan modal disetor Rp 32,872 miliar. Mayoritas saham dikuasai oleh Pemprov dengan 50,99%, Bank BPD Jateng memegang 22,26%, dan 26,75% sisanya dibagi untuk 35 pemkot/ pemkab se-Jateng. Sebagai satu BUMD, PRPP menetapkan visi untuk menjadikan areal sebagai pusat informasi bisnis dan membentuk Puri Maerakaca sebagai pusat informasi budaya Jateng. Selain itu juga mengemban misi untuk memperkenalkan perusahaan kepada masyarakat di Jateng sebagai pilihan utama untuk berekreasi dan berpromosi melalui pembenahan sarana prasarana dan penambahan fasilitas baru. Sama seperti BUMD lain pada era otonomi daerah, PRPP juga diharapkan bisa mengisi pundi PAD. Dan, dengan semua aset serta fasilitas yang dimiliki sebenarnya harapan tersebut tidak berlebihan. Namun, bila Perusda itu belum bisa memberikan sumbangan signifikan, maka sangat lumrah bila muncul pertanyaan soal bagaimana sebenarnya konsep pengelolanya selama ini.
Sebagai salah satu aset Pemprov Jateng, berarti PRPP juga milik masyarakat sehingga sewajarnya mereka juga menginginkan PRPP tampil sebagai perusahaan yang sehat, profesional, dan sangat kontributif dalam menunjang pembangunan. Berkaitan dengan pelaksanaan kali ini, panitia memang perlu diacungi jempol. Sebab, di tingkat manajemen dan direksi masih dilanda kemelut namun penyelanggaraannya dinilai lebih berhasil dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Sekitar tiga tahun belakangan, PRPP seperti memasuki masa prihatin. Bagaimana tidak? Untuk membayar gaji karyawan saja, perusahaan masih kembang kempis atau masih kesulitan membayar gaji karyawan. ''Beruntung ada PRPP Expo. Jika tidak, kami sulit dapat pemasukan,'' ungkap Agus Prabowo, ketua pelaksana kegiatan itu. Dia tidak muluk-muluk saat awal pelaksanaan pameran. Dia dan para karyawan hanya berharap, modal kembali dan sedikit untung. ''Yang penting kami bisa menggaji karyawan dan menutup biaya operasional.'' Bila melihat kenyataan tersebut, selayaknya pihak-pihak terkait yang peduli dengan PRPP seharusnya ikut turun tangan. Sebab, dalam skala yang lebih luas diperlukan prestasi lebih dari sekadar membayar gaji. Apalagi bila dipandang dari ukuran tingkat imbal hasil investasi (ROI) yang ditanamkan dan imbal hasil aset (ROA) yang dimiliki yang kini lazim digunakan sebagai bagian indikator kesehatan satu perusahaan. Lalu bagaimana caranya? Wagub II Jateng Djoko Sudantoko pada saat pembukaan beberapa waktu lalu menekankan, perlu konsep dan ide untuk pengembangan areal PRPP sebagai wahana pameran dan promosi yang lebih berbobot dan berdaya tarik serta citra kuat di kalangan dunia usaha dan juga masyarakat. ''Dengan demikian, pembeli atau pengunjung bukan hanya dari masyarakat sekitar Jateng melainkan buyer dari luar negeri, sehingga dampak jangka panjangnya bagus bagi investasi di sini.'' Bila menilik pameran kali ini, konsep pesta rakyat yang dicanangkan panitia sebenarnya sudah bagus. Hanya saja, apakah akan selalu berkutat pada model pameran demikian? Karena itu tidak mengherankan, bila anggota masyarakat termasuk Ketua Kadin Jateng H Soendoro menilai, PRPP kali ini seperti pasar malam. Dari satu sisi, penyelenggaraannya memang menarik pengunjung dan nilai transaksi pun lebih bagus, Rp 1,6 miliar. Akan tetapi, jika lebih profesional dan meningkatkan kualitas pameran bukan tidak mungkin kesulitan perusahaan untuk membayar karyawan bisa teratasi. Gubernur H Mardiyanto juga berpesan agar PRPP bisa menjadi sarana untuk lebih mengoptimalkan promosi dan perdagangan Jateng sekaligus sebagai ajang untuk mengidentifikasi produk unggulan provinsi ini. Lantaran itu, hendaknya panitia tidak segan-segan belajar dari pengalaman negara lain dalam penyelenggaraan pameran yang lebih representatif dan efektif. Sekali lagi, bukan seperti pasar malam.(Arie Widiarto-45j) |