logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 9 September 2002 Semarang & Sekitarnya  
Line

Rp 40 Juta untuk Jadi Kuli

KULI PANGGUL: Seorang mandor sedang mengawasi kuli panggul yang membawa karung berisi lada ke atas truk yang parkir di Jalan Gang Pinggir, Semarang. (Foto:Suara Merdeka/G4-45k)

SEBUTANNYA kuli panggul. Pekerjaannya menaikkan dan menurunkan barang-barang dagangan dari dan ke atas truk. Sebuah pekerjaan yang tidak enak disandang, karena predikat itu sama dengan buruh kasar.

Namun siapa sangka, profesi buruh kasar itu mampu menghasilkan Rp 150.000/hari atau Rp 4,5 juta/bulan? Kuli panggul di Pasar Johar, contohnya. Saat ini, kuli panggul di Pasar Johar jumlahnya mencapai 190 orang. Mereka berusia 25-50 tahun.

Memang tidak semua kuli panggul pendapatannya mencapai Rp 4 juta-4,5 juta/bulan. Ada pula yang hanya berkisar Rp 2 juta-3 juta/bulan. Bergantung dari kelompok mana, kuli panggul itu menjadi anggota.

Menurut Sukarno, Sekretaris Serikat Pekerja Transportasi Indonesia (SPTI) Unit Pasar Johar, saat ini ada 157 kuli panggul yang tergabung dalam tujuh kelompok. Yaitu, kelompok Brebes (siang dan malam) dengan total anggota 26 orang, kelompok Jimbaran beranggota 10 orang, kelompok Bandungan dan Ambarawa yang masing-masing anggotanya 26 orang, kelompok Salatiga 22 orang, kelompok Playon (serabutan-red) (selatan dan utara) beranggota 32 orang, kelompok Tahu (bongkar muat tahu) tiga orang, dan kelompok Tampan yang bertugas khusus menaikkan barang ke timbangan yang punya anggota 12 orang.

"Sisanya, atau separo dari jumlah kuli panggul yang ada, tidak ikut kelompok mana pun. Mereka freelance. Di antaranya buruh gendong, tugasnya melayani para bakul yang sedang kulakan di Johar atau Yaik," katanya.

Menurut dia, kelompok Brebes adalah kelompok yang paling "basah". Pendapatan tiap anggota yang biasa menangani bongkar-muat berbagai komoditi dari daerah Brebes, seperti bawang mencapai Rp 50.000-150.000/hari.

Hal itu juga dibenarkan Rochayat (36), anggota kelompok Brebes. "Kalau sedang musim bawang, saya bisa mendapatkan Rp 100.000-150.000/hari. Namun kalau sedang sepi, saya tetap bisa membawa pulang Rp 50.000," katanya.

Penghasilan itu diperoleh dari pemilik barang/bakul yang membongkar dagangannya. Adapun tarif (uang jasa) angkat/angkut setiap jenis barang berbeda. Bergantung dari berat barangnya.

"Setiap karung berisi bawang yang beratnya 135 kg ongkos kulinya Rp 2.000. Adapun yang berbobot 110 kg ongkosnya Rp 1.250/karung. Setiap karung berisi cabai dengan berat 90 kg, ongkos panggulnya Rp 1.000/karung. Kalau, karung tomat dengan berat 60 kg lebih murah, yaitu Rp 800/karung," ungkap kuli asal Sragen ini.

Jual Rumah

Mengingat pendapatan yang menggiurkan itulah, kelompok Brebes menjadi incaran. Meski demikian, tidak ada penambahan anggota baru. Jumlah anggota kelompok Brebes sudah cukup banyak, yaitu 26 orang, sehingga digunakan sistem shift siang dan malam. Masing-masing shift 13 orang.

"Ada beberapa anggota yang pensiun karena faktor usia, dan diganti anggota baru. Syaratnya mengganti/membeli kartu anggota dengan nominal uang Rp 40 juta serta membayar biaya balik nama Rp 3 juta. Padahal sebelum masa krisis, harga kartu tanda anggota kuli panggul kelompok Brebes masih berkisar Rp 25 juta."

Salah satu anggota baru kelompok itu adalah Ngadiyono (35). Dia rela menjual rumah, sepeda motor, dan kartu anggota kuli panggul yang dia miliki sebelumnya, untuk menjadi anggota kelompok Brebes.

Untuk menjadi kelompok lain, seperti Ambarawa, Salatiga, Playon, Tahu dan Tampan, biayanya hanya Rp 6-10 juta. Seperti diungkapkan Warno (37). Pada tahun 1989 lalu, dia menggantikan anggota kelompok Ambarawa yang sudah pensiun dengan membayar Rp 1,7 juta. "Sekarang ada yang berani menawar Rp 10 juta."

Warno menambahkan, uang yang dikeluarkan untuk membeli keanggotaan itu bila dipergunakan usaha lain belum tentu tampak hasilnya. "Uang Rp 10 juta, sekarang cukup untuk apa? Mau dibelikan sawah di kampung dapat berapa meter? Nanti kalau sawah tersebut dikelola, belum tentu dapat untuk menghidupi keluarga. Lebih enak kerja di sini. Asal sehat, pulang bisa membawa uang."

Sebagai pekerja kasar, para kuli panggul itu harus benar-benar menjaga fisiknya. Seperti diungkapkan Rochayat, anggota kelompok Brebes. Agar tetap fit, setiap hari sekali dia minum jamu. Di samping banyak minum air putih menjelang dan sesudah tidur. "Biasanya saya minum jamu pegel linu serta mengonsumsi telur ayam kampung mentah tiga buah/hari."

Saat ini, para kuli panggul yang bergabung dalam beberapa kelompok itu bernaung di bawah Serikat Pekerja Transportasi Indonesia (SPTI) Unit E Pasar Johar. Di unit tersebut, setiap anggota selain diwajibkan membayar uang pangkal Rp 15.000, per hari juga harus menabung Rp 50.000. Uang tabungan yang terkumpul akan dibagikan satu minggu sebelum Lebaran.

"Dengan mendapat uang sebelum Lebaran, seperti mendapat Tunjangan Hari Raya (THR) yang diperoleh para pegawai," tambahnya. (Setyo Sri Mardiko-45)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | English | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA