logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 9 September 2002 Semarang & Sekitarnya  
Line

Disinyalir Ada PDAM dalam PDAM

SEMARANG- Ada sinyalemen ketidakmerataan suplai air ke pelanggan terjadi karena ada PDAM di dalam PDAM. Keberadaan "direktur" di luar struktur PDAM merugikan pelanggan lain.

Wali Kota H Sukawi Sutarip SH menyinyalir ada yang mengatur aliran air untuk pelanggan tertentu. "Karena itu saya minta pejabat di PDAM menindak tegas orang itu, " katanya, baru-baru ini.

Dia meminta untuk memperbaiki manajemen dan meningkatkan kinerja, orang yang bermain di dalam PDAM ditindak tegas. Biasanya orang itu benar-benar menguasai siklus suplai air. Dengan demikian, mereka bisa mengatur secara berlebih untuk pelanggan tertentu yang memesan.

Sebelum mengeluarkan SK tarif air PDAM yang baru, dia akan rutin meninjau ke perusahaan daerah itu. "Paling tidak seminggu sekali saya ke PDAM, mungkin juga dua kali. Saya pantau terus bagaimana kerja mereka dalam mengumpulkan data sebelum saya mengeluarkan SK."

Dia terus memberikan semangat ke direksi untuk bekerja keras dan memberi waktu tiga sampai enam bulan. "Kalau tidak berhasil, minggir saja. Jika tidak ada yang sanggup, biar saya pegang sekalian PDAM."

Dia menuturkan kunci untuk membuat PDAM lolos dari ambang kebangkrutan adalah kemauan. "Jika hanya mengandalkan kemampuan, banyak yang mampu. Saya akan pantau selama enam bulan ini. Mudah-mudahan selamat semua."

Kurang Tegas

Namun Wali Kota H Sukawi Sutarip SH dinilai kurang tegas bersikap pada direksi PDAM. Perusahaan daerah tersebut nyaris kolaps dan itu tak lepas dari kinerja para elite di PDAM.

Hal itu dikatakan Wakil Ketua DPRD Kota Hamas Ghanny di Gedung DPRD, Rabu (4/9). Dia menuturkan semestinya peningkatan biaya operasional yang akhirnya memengaruhi tarif bisa ditanggapi sejak lama. "Namun selama ini direksi sibuk mengurusi proyek, sehingga tak sadar perusahaan hampir kolaps."

Jika SK Wali Kota mengenai tarif air PDAM terakhir keluar 1997, dua tahun setelah itu harus segera ditinjau ulang. Bila kenaikan terjadi saat itu, pasti tidak setinggi sekarang. "Kenaikan bisa sedikit demi sedikit, tidak langsung 200% lebih."

Dia mempertanyakan apa yang dilakukan direksi pada kurun waktu 1997-2002. Karena itu dia menyimpulkan yang menyebabkan tarif naik begitu drastis adalah kesalahan manajemen. Pergantian dua direksi PDAM beberapa waktu lalu bukan jaminan akan terjadi perbaikan di tubuh PDAM, selama kedua direksi yang baru tak memiliki kekuatan mengambil kebijakan. "Kalau mau ganti semestinya semua."

Beban

Dia khawatir rencana pendirian perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK) di bawah PDAM justru menjadi beban baru. Sebab, pelayanan ke pelanggan selama ini juga belum baik.

"Untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi pelanggan saja tidak bisa, malah mau membuat perusahaan baru."

Standar pelayanan minimal, kata dia, tidak tergantung pada lamanya air mengalir. Justru yang terpenting jumlah air yang diterima pelanggan. "Lebih baik mana air mengalir 14 jam tapi cuma dapat air 2 m3 karena ngithir campur angin, sedangkan mengalir dua jam dapat air 5 m3."(G7-71g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | English | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA