logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 9 September 2002 Karangan Khas  
Line

Mengapa Banyak Mahasiswa UT Drop Out

Oleh: Waidi

UNIVERSITAS Terbuka (UT), sebuah lembaga pendidikan tinggi yang menggunakan sistem pendidikan jarak jauh (PJJ), pada tanggal 4 September lalu genap berusia 18 tahun. Dalam perjalanannya, lepas dari kekurangan dan kelebihannya, UT telah andil dalam peningkatan kesempatan memperoleh pendidikan tinggi. Puluhan ribu alumninya telah tersebar di seluruh pelosok Tanah Air.

Salah satu kelebihan PJJ adalah kemampuannya untuk mengatasi rintangan belajar konvensional. Pada model pendidikan konvensional proses belajar mengajarnya sangat tergantung pada kuliah tatap muka dan tersedianya kelas. Pada model PJJ proses belajar mengajar dapat berlangsung kapan dan di mana saja.

Pada era internet ini PJJ semakin banyak ditawarkan. Ratusan home page di internet menawarkan berbagai jenjang program studi, dari program profesi sampai gelar akademik.

Ke depan, PJJ melalui internet akan menjadi pilihan paling tepat bagi manusia pembelajar. Mereka bisa kuliah di perguruan tinggi ternama dunia dengan tanpa harus meninggalkan rumah dan tempat kerjanya. Drydendan Vos (1999) dalam bukunya "Revolusi Cara Belajar" menyebutkan bahwa melalui internet berkecepatan 600 juta bit per detik, pembelajar jarak jauh dapat mengakses 100 universitas dan 30 jilid ensiklopedi dalam waktu kurang dari satu detik.

Namun demikian perlu dicatat bahwa belajar jarak jauh, seperti di UT, relatif lebih sulit dari pada belajar konvensional. Kesulitan utamanya terletak pada model belajar jarak jauh itu sendiri. Belajar yang hanya mengandalkan modul atau tutorial tertulis dan elektronik, tanpa kehadiran dosen secara fisik (tatap muka) bukanlah hal yang mudah.

Itulah sebabnya mengapa mahasiswa UT banyak yang drop out karena belajar di UT lebih banyak tantangannya dibanding dengan belajar di perguruan tinggi konvensional. Mereka yang tidak tahan banting akan lari ke kelas jauh, kelas ekstensi negeri dan swasta yang relatif ringan tantangan belajarnya.

Stolz (2000) dalam bukunya berjudul Adversity Quotient (AQ) menyatakan bahwa orang sukses, termasuk sukses studi, adalah orang yang memili AQ tinggi. AQ diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup.

Orang yang ber-AQ tinggi adalah orang yang tahan banting, orang yang mampu mengubah kesulitan menjadi peluang. Mereka adalah orang-orang optimistik yang memandang kesulitan bersifat sementara dan bisa diatasi. Orang ber-AQ rendah adalah mereka yang pesimistik yang memandang kesulitan bersifat permanen, tidak bisa diubah. Mereka mudah menyerah dan tidak memiliki ketekunan sama sekali.

AQ sangat berpengaruh terhadap hasil belajar. Carol Deweck, seorang peneliti terkemuka dari University of Illinois menyatakan siswa ber-AQ tinggi memiliki motivasi dan prestasi belajar tinggi.

Belajar jarak jauh memprasyaratkan AQ tinggi. Bagi mereka yang ber-AQ tinggi, kesulitan belajar karena tidak ada tatap muka, sulit memahami isi modul, bukanlah merupakan alasan untuk berhenti belajar atau pindah ke tempat lain.

Bagi yang ber-AQ tinggi kesulitan semacam itu justru membuatnya menjadi manusia tahan banting. Benturan demi benturan belajar merupakan "mata kuliah" tersendiri yang memiliki kompetensi AQ.

Kesulitan memahami isi modul bukan lantas berhenti belajar atau menyerah. Bagi mahasiswa jarak jauh yang ber-AQ tinggi itu merupakan motivator untuk berusaha lebih keras lagi agar mampu memahami isi modul seperti mencari buku refensi, tanya kepada siapa saja yang dianggap bisa, mengikuti tutorial dan sejumlah cara lainnya.

Kegagalan

Kegagalan demi kegagalan dalam ujian semester atau ujian komprehensif, bukan alasan untuk keluar dari kuliah dan pindah ke perguruan tinggi lain yang menjanjikan cepat lulus. Tabu bagi mahasiswa jarak jauh yang ber-AQ tinggi untuk lari dari kesulitan belajar.

Lari dari kesulitan belajar hanya untuk tujuan pragmatis, mencari mudahnya saja, sama artinya dengan menjerumuskan diri ke dalam kebodohan emosional dan intelektual. Lari dari kesulitan hanya akan menghasilkan kesulitan lain yang lebih besar.

Intinya semakin besar tantangan belajar, semakin tertantang untuk mengatasinya. Baginya, mengatasi kesulitan adalah media belajar paling baik untuk menambah kualitas diri. Menurut Gede Prama (2001) seorang pakar personal power, bahwa universitas paling baik di dunia ini adalah universitas kesulitan. Belajar pada dasarnya adalah mengatasi kesulitan, tanpa kesulitan tidak ada belajar.

Persoalannya, mengapa ada orang yang justru memiliki hobi mengatasi kesulitan sehingga ia berhasil dalam studinya, tetapi ada orang yang begitu mudah menyerah? Menurut Dr Seligman pakar psikologi dari American Psychological Association itu tidak lepas dari apa yang disebut dengan "ketidakberdayaan yang dipelajari."

Artinya, seseorang yang memiliki pengalaman belajar bahwa kesulitan demi kesulitan tidak bisa diatasi, ia akan membiasakan diri dengan pesimisme, manusia cengeng. Sebaliknya seorang yang memiliki pengalaman belajar bahwa setiap kesulitan ternyata dapat diatasi, ia akan membiasakan diri optimisme, yakni manusia tahan banting.

Bagaimana agar anak didik kita tahan banting? Sejak dini harus dibiasakan dengan tantangan-tantangan. Terlalu memanjakan anak termasuk pelajaran yang kurang tepat untuk pertumbuhan AQ anak. Inilah mengapa di Super Camp, suatu model dalam quantum learning, peserta didik dihadapkan dengan kesulitan (tantangan-tantangan fisik) agar siswa menjadi pribadi yang tahan banting.

Belajar jarak jauh adalah belajar dengan banyak kesulitan/tantangan. Dari yang bersifat administratif, akademik, sampai ke tantangan interakasional. Namun itu bukanlah hal yang harus dihindari. Dari tantangan tersebut akan diperoleh peluang ganda, AQ dan IQ meningkat.

Perubahan dari AQ rendah (pesimistik) ke AQ tinggi (optimistik) hanya dibutuhkan waktu satu detik saja, yakni saat ini juga. Perubahan tidak datang dari pihak lain tetapi dari diri masing-masing mahasiswa.(33)

-Waidi SIP MBA, alumni UT dan Leicester University, dan karyawan Unsoed Purwokerto


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | English | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA