logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 9 September 2002 Jawa Tengah - Pantura  
Line

Perlu Dialog untuk Mengatasi Limbah Jins

H Rosif Rofiqi SM/ br

MASALAH limbah jins yang mencuat di Kabupaten Pekalongan belum lama ini dalam pandangan Ketua Paguyuban Pengusaha Jins Kabupaten Pekalongan, H Rosif Rofiqi, harus menjadi perhatian para pengusaha. Perusahaan yang berpotensi menghasilkan limbah harus siap mengolah demi menjaga lingkungan dan masyarakat sekitar.

Sebelum muncul reaksi dari masyarakat yang meledak dalam aksi penutupan saluran limbah, kata dia, beberapa pengusaha yang tergabung dalam paguyuban itu sudah siap mengelola limbah.

Namun karena kurang komunikasi antara pengusaha dan masyarakat serta kelalaian beberapa pengusaha yang membuang limbah ke sungai, warga pun emosi. "Setelah berdialog, masalah itu dapat diselesaikan dengan baik," tutur dia.

Beberapa kendala teknis dan pembiayaan pengolahan limbah, kata dia, memang menjadi kendala bagi masyarakat. Setelah pemerintah membantu dalam pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dan mengoperasikan mobil penyedot limbah, pengusaha sepakat bersama-sama mengolah limbah agar tak meresahkan masyarakat.

Namun ketika mobil penyedot dan pengangkut limbah yang ditunggu pengusaha tak kunjung datang, pengusaha setengah putus asa. Apalagi kondisi pasar makin lesu.

Kapasitas Kurang

Dalam dialog terjadi kesepakatan antara pemerintah dengan pengusaha, Jumat lalu (6/9). Pemerintah berjanji membantu memfasilitasi pengoperasian penyedotan limbah. Rosif yakin pengusaha akan berusaha tidak lagi membuang limbah ke sungai.

Daya tampung mobil tangki setiap penyedotan hanya 3.000 liter dan beroperasi 6 kali selama satu minggu atau 6 x 3 m3 setiap penyedotan satu minggu. Padahal pengusaha jins di lokasi itu, menurut data Kecamatan Kedungwuni, 18 pengusaha. Dengan demikian, limbah yang dihasilkan pada saat produksi tinggi, tidak akan sebanding dengan daya tampung mobil penyedot.

Untuk mengantisipasi masalah itu, kata Rosif, paguyuban akan menginventarisasi pengusaha yang berkemampuan lebih untuk membangun IPAL dekat dengan lokasi pabrik. "Kami berencana membangun satu unit IPAL untuk setiap lima pengusaha hingga beban biaya dapat ditanggung bersama," ujar dia.

Rosif yakin jika semua permasalahan dapat dikomunikasikan dengan baik oleh masyarakat sekitar dan pengusaha, masalah limbah sedikit demi sedikit dapat ditangani. Paguyuban bahkan berencana menyosialisasikan dan mengaji secara intensif bersama Badan Pengkajian dan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bappedal) untuk memberikan kesadaran menjaga lingkungan.

Dia menegaskan pengusaha di Kedungwuni sudah berusaha memikirkan semua tanggung jawab, termasuk untuk melindungi lingkungan dan memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat. Namun yang jadi masalah, tidak ada iklim kondusif dalam masyarakat.

"Kami sebagai pengusaha tahu bahwa melindungi lingkungan dari kerusakan adalah tanggung jawab kami. Karena agama juga memerintah umat manusia tak membuat kerusakan di muka bumi ini." (Muhammad Burhan-17g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | English | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA