logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 5 September 2002 Karangan Khas  
Line

Menghindari Investasi Agrobisnis Bodong

Oleh: Khudori

MESKIPUN jauh hari sudah diramalkan pasti ambruk, rontoknya PT Qurnia Subur Alam Raya, perusahaan investasi bagi hasil berbasis pertanian di Sukabumi Jawa Barat membuat banyak pihak tercengang. Mereka tidak percaya, perusahaan yang sudah meraksasa dan terbukti memberikan keuntungan berlipat-lipat kepada para penanam modal di sana, bakal ambruk. Kini dikabarkan sekitar Rp 300 miliar dana dari 6.000 investor macet. Meskipun investor dijanjikan uangnya bakal dikembalikan, mereka masih dicekam rasa takut.

Inilah ironi bisnis investasi di bidang agrobisnis. Semua orang yang paham seluk-beluk investasi, pasti mereka sudah punya referensi apa untung-rugi sebuah investasi. Ketika seseorang memutuskan membenamkan uangnya di bidang agrobisnis, sudah semestinya dia menghitung apa saja dan berapa keuntungan yang bakal ia dapat.

Dan apa saja dan berapa peluang kerugian yang bakal ia tanggung. Secara natural, investasi yang memberikan keuntungan besar, risikonya juga besar.

Semua orang tahu, bisnis di bidang agrobisnis selain dihadapkan pada ketidakpastian juga risiko yang tinggi. Faktor ketidakpastian dan risiko merupakan faktor eksternalitas, yaitu variabel yang sulit dikendalikan oleh produsen (petani).

Sumber ketidakpastian yang penting adalah fluktuasi produksi dan harga. Di luar itu, agrobisnis juga masih menghadapi risiko iklim dan cuaca yang kurang bersahabat (kering, banjir atau bencana lain), hama dan penyakit yang mengganas dan iklim usaha yang tidak kondusif.

Namun, karena import content-nya hampir nol, sektor agrobisnis masih tetap bisa tumbuh positif karena sektor-sektor lain kelimpungan diterjang krisis.

Lalu, realistiskah jika ada perusahaan di bidang agrobisnis, seperti Qurnia Subur Alam Raya menawarkan keuntungan 60%, bahkan 100% dalam setahun? Apakah tawaran tersebut masuk akal, di saat usaha di bidang lain sulit mencetak laba?

Jawabannya, bisa ya, bisa juga tidak. Meskipun tergolong berisiko dan penuh ketidakpastian, investasi agrobisnis bisa mencetak keuntungan hingga 300%. Usaha tani cabe komersial, misalnya, memerlukan investasi Rp 40 juta/ha/sekali tanam selama lima bulan. Jika hasil panenan bagus dan kebetulan harga baik, uang Rp 120 juta bahkan Rp 150 juta dengan mudah didapat. Tapi, meskipun hasil panenan baik, jika harga anjlok, investasi Rp 40 juta bisa lenyap tanpa bekas.

Di sinilah pentingnya memahami karakteristik komoditas pertanian dan melihat kemampuan pengusaha agrobisnis dalam menanggulangi risiko dan ketidakpastian. Ini penting diketahui sebelum terjun di bidang agrobisnis, agar tidak tertipu.

Karakteristik komoditas pertanian amat berbeda-beda. Misalnya, bawang merah monokultur yang diusahakan petani di Brebes, tentu karakteristiknya amat berbeda dengan tanaman tembakau yang dibudidayakan petani di Jember dan Temanggung.

Ketika musim bersahabat, panen melimpah dan berkualitas bagus. Namun, pada tanaman bawang tidak otomatis menjamin keuntungan besar. Bisa jadi malah bangkrut. Soalnya, panenan yang demikian banyak dalam rentang waktu yang pendek, pasti bakal diikuti turunnya harga. Ini bisa dimaklumi karena sifat permintaan produksi bawang ini inelastis, maka ketika terjadi over supply, harga pasti terjun bebas.

Hal sebaliknya terjadi pada tembakau. Ketika musim panen hasilnya bagus dan berlimpah, petani justru diuntungkan. Ini terkait dengan sifat permintaan tanaman tembakau (daun tembakau) yang relatif lebih elastis ketimbang bawang. Sebab, pembelinya bukan konsumen langsung, melainkan berasal dari pabrik-pabrik rokok yang jumlahnya banyak.

Kendati produksinya tinggi petani masih mendapatkan harga yang relatif baik karena terciptanya persaingan di antara pembeli tembakau (pabrik rokok). Di sini, posisi tawar petani tembakau relatif lebih kuat ketimbang petani bawang.

Memiliki Kualifikasi

Pengusaha yang profesional, sebut saja Bob Sadino, tentu piawai mengelola risiko dan ketidakpastian dalam Agrobisnis.

Dengan mengadopsi teknologi yang canggih, manajemen profesional dan penguasaan pasar yang kuat, pengusaha agrobisnis semacam Bob Sadino bahkan bisa meminimalkan risiko dan ketidakpastian hampir mendekati nol. Jika demikian, apakah tawaran keuntungan Qurnia Subur Alam Raya yang dipajang besar-besar di media massa itu bukan pepesan kosong?

Pertanyaannya, apakah pengusaha tersebut mampu mengatasi ketidakmampuan tadi? Jika ya, pertanyaan berikutnya, apa yang bakal dilakukan bila terjadi over supply. Sebab yang diusahakan oleh pengusaha ini mudah ditiru pengusaha lain, termasuk oleh petani. Jika jawabannya masuk akal, masih perlu ditelusuri di lapangan, apakah kegiatan investasi yang ditawarkan itu riil ada atau ilusi belaka.

Jika pun jawabannya amat memuaskan, jangan buru-buru menceburkan diri berinvestasi. Teliti dulu legalitas lembaga yang menawarkan. Karena yang berhak mengumpulkan dana pihak ketiga (masyarakat) hanyalah bank dan pemerintah, lembaga penyelenggara investasi haruslah punya badan hukum.

Dan apakah badan hukum itu bergerak di bidang yang ditawarkan? Lalu, apakah mereka memiliki kualifikasi untuk melaksanakan usaha tersebut.

Sejauh ini, investor selalu dijanjikan keuntungan dan keuntungan. Tapi bagaimana jika usaha tersebut merugi dan apa tanggung jawab kedua belah pihak, hampir tidak pernah dibicarakan. Untuk meminimalkan risiko, sebaiknya pilih investasi yang berasuransi. Terakhir, bagaimana lembaga tersebut melakukan pengembangbiakan uang masyarakat tadi? Di sinilah diperlukan transparansi. Jika mereka tidak mau menjelaskan (tertutup) dengan berbagai alasan, lebih baik campakkan tawaran tersebut karena itu tanda-tanda investasi bodong.

Pengetahuan tentang rambu-rambu ini, berikut kemampuan untuk membuktikan di lapangan, haruslah dipegang teguh oleh calon investor di bidang agrobisnis. Tawaran investasi di bidang agrobisnis yang marak sejak krisis moneter pertengahan 1997 sesungguhnya lebih banyak didorong oleh motif memanfaatkan ketidaktahuan investor tentang seluk-beluk sektor ini. Krisis ekonomi membuat banyak usaha rontok. Orang-orang kota yang berduit bingung ke mana harus berinvestasi. Ketika muncul tawaran investasi agrobisnis dengan keuntungan setinggi la ngit, mereka ngiler. Padahal, tawaran ini terjadi karena adanya disagregasi perbankan, yakni tidak berjalannya fungsi intermediasi bank, lalu lembaga penyelenggara investasi mencari dana ke masyarakat. Caranya, menebar janji keuntungan selangit tadi. Praktik yang dijalankan mirip bisnis multi level marketing, yaitu prinsip gali lubang tutup lubang. Keuntungan investor pertama ditutupi dari investor yang datang kemudian. Karena lubangnya makin besar, investor yang belakangan pasti tidak kebagian. Kuncinya, jangan mudah percaya dan terperdaya. Sebab, jika benar agrobisnis memberikan keuntungan besar, lalu mengapa petani kita masih banyak yang miskin?(33)

-Khudori,alumnus Fak Pertanian Universitas Jember dan analis sosial-ekonomi dari Pusat Kajian Integrita Jakarta


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA