logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 4 September 2002 Berita Utama  
Line

Korban Bisnis PT Qurnia Subur Alam Raya (1)

Tabungan Hari Tua Ludes, Hanya Dapat Terong

DIPERIKSA: Direktur Utama PT Qurnia Subur Alam Raya (QSAR), Ramli Araby, dikawal dua petugas untuk dimasukkan kembali ke ruang tahanan di Polres Sukabumi, Jawa Barat, seusai menjalani pemeriksaan, kemarin. (Foto: Suara Merdeka/md-15)

JANGAN percaya deh sama orang yang menjanjikan keuntungan yang besar. Begitulah jawaban yang kali pertama muncul dari Sugandi (64), salah satu investor PT Qurnia Subur Alam Raya (PT QSAR), kepada Suara Merdeka di salah satu lokasi kebun PT QSAR, di Jl Raya Suryakencana Kadudampit, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, kemarin.

Sugandi yang jauh-jauh datang dari Kabupaten Subang, patut berduka cita dengan kenyataan yang harus diterimanya. Karena uang tabungannya untuk pensiun Rp 24 juta yang ditanam di PT QSAR yang dipimpin Ramli Araby akhirnya menjadi tidak jelas juntrungannya.

''Abdi ayena pusing pisan heunte teupara ruguh. Iue sesana tinggal terong doang (Saya sangat pusing, rasanya tidak karuan. Ya sisanya hanya terong saja),'' kata bapak empat anak dan kakek tujuh cucu tersebut.

Karena datang terlambat Sugandi hanya memperoleh terong yang sudah siap dipanen. Sementara itu, sebelumnya para investor lainnya sudah sempat ''menjarah'' berbagai aset PT QSAR, walaupun hal itu juga tidak sesuai dengan nilai uang yang ditanamkan.

Selain itu, para investor juga sempat mematok lahan-lahan produktif yang ada di kompleks kebun PT QSAR. Dua anggota Polisi Pamong Praja yang berada di lokasi yang berjarak sekitar 120 km dari Jakarta tersebut, mengatakan urusan patok-mematok lahan PT QSAR sempat membuat bentrok sesama investor.

''Ya karena datang terlambat, beberapa investor nggak kedapetan lahan lagi. Akhirnya dia mencabut lahan yang sudah dipatok investor lainnya. Ternyata yang dicabut itu rumahnya deket sini saja, dia marah-marah datang ke sini ya runyam jadinya,'' tutur petugas yang bernama Edi tersebut.

Terpengaruh Pejabat

Ketika ditanya alasan Sugandi menanamkan uangnya di PT QSAR, pensiunan pegawai Pemda Sumedang tersebut mengaku hanya didasari oleh besarnya keuntungan yang dijanjikan. Pria berkacamata tebal tersebut mengaku tidak terpengaruh oleh adanya para menteri serta tokoh-tokoh nasional yang sengaja didatangkan di kebun PT QSAR oleh Ramli.

''Yang pertama membuat saya tertarik ya keuntungan yang dikatakan lewat brosur PT ini (QSAR-Red). Kalau Pak Hamzah dan pak menteri yang lain dateng mah nggak pengaruh. Ya wajar kalau kebunnya bagus kayak gini,'' kata pria berkacamata tebal tersebut, yang kemarin ditemani keponakannya yang bernama Anwar.

Ketika ditanya mengapa percaya begitu saja dengan keuntungan yang ditawarkan, padahal dari segi agrobisnis yang normal tidak masuk akal, Sugandi mengaku karena selain dirinya tidak punya ilmu soal usaha pertanian, juga karena dirinya mempunyai banyak kebutuhan.

''Uang segitu (Rp 24 juta-Red) kan sedikit kalau di bank. Ya kalau untungnya bisa empat atau lima kali lipat dari bank gimana nggak bagus. Lagi pula cucu pertama saya butuh uang untuk kuliah di Bandung,'' katanya.

Ketika ditanya bagaimana langkahnya untuk memperjuangkan uangnya yang makin tidak jelas nasibnya, Sugandi terdiam sejenak, dan kemudian dia hanya bisa berdoa dan pasrah.

''Saya hanya bisa berdoa, semoga saja uang kembali. Kapan kembalinya, ya saya pasrah. Banyak yang tanam uang lebih gedhe juga ingin balik uangnya,'' katanya.

Menurut Sudinta, warga sekitar lokasi, dalam dua minggu ini selalu saja ada investor yang datang dan marah-marah di kebun PT QSAR.

''Macem-macem Pak, ada yang naik mobil mewah tapi ya juga ikut ngambilin sayur-sayur yang masih sisa. Ada yang naik motor ngangkut kursi, ada yang ngamuk lalu merusakin ini itu,'' katanya.

Yang tidak mengenakkan dirinya adalah bila investor yang marah dengan seenaknya tiba-tiba menginterogasi warga sekitar yang dianggap seolah-olah tahu di mana Ramli berada.

''Ya kita cuma kenal Pak Ramli gitu-gitu aja. Yang kita tahu di sini Pak Ramli orangnya baik-baik saja. Kalau marah liat-liat orangnya dong,'' gerutu pria berambut keriting tersebut.

Pertanian Terpadu

Berdasarkan pemantauan Suara Merdeka, lokasi yang luas keseluruhannya 10 hektare tersebut - termasuk rencana pengembangannya - memang didesain untuk pertanian modern. Karena dibuat pemrosesan secara bertahap, mulai dari pembibitan hingga siap panen. Semuanya dalam dua bagian, yaitu di lahan terbuka serta di ruang ruang yang diselimuti kain kasa hitam serta bangunan 'rumah kaca' yang bentuknya menyerupai hanggar.

Bangunan tempat memproses hasil budi daya pertanian tersebut juga mempunyai sistem pengairan yang baik, dengan dilengkapi alat penyembur air yang merata di seluruh bagian bangunan.

Di lokasi kebun tersebut juga terdapat gedung pengelola yang dibagi menjadi berbagai divisi-divisi layaknya kantor yang modern. Seperti divisi hortikultura, divisi investasi, plasma, kelautan, ekspor impor, trading, sistem syariah, umum, security, dan majelis taklim.

Di sekitar lokasi kebun milik PT QSAR juga terdapat sawah-sawah yang subur dan usaha perikanan darat dengan komoditas yang menonjol, seperti ikan emas, lele dan gurami milik warga setempat. Dengan letaknya yang berada di dataran tinggi, hawa sejuk, sinar matahari cukup dan gampang dicapai (hanya jalan naik empat kilometer dari Polsek Cisaat- Asrama Haji Sukabumi) menjadikannya lokasi yang ideal untuk usaha pertanian.

Dengan prasarana yang sudah tertata rapi seperti ini, kita jadi teringat apa yang dikatakan Wapres Hamzah Haz baru-baru ini yang mengatakan sebaiknya aset PT QSAR dikelola lagi karena masih potensial untuk dikembangkan. Sayangnya amarah para investor sepertinya sudah tidak dapat dikendalikan. Mereka merusak tanaman dan menjarah potensi tersebut.

''Yang ada ya sisanya seperti ini. Paling hanya bangunan dan kertas saja,'' kata seorang anggota Polres Sukabumi-yang namanya tidak mau ditulis-yang bertugas di lokasi tersebut.

Ternyata apa yang dikatakannya terbukti. Ketika Suara Merdeka hendak ke kamar kecil, ternyata yang ada tinggal bak yang berisi air kotor. Pintu, lampu, keran air, dan kloset duduknya sudah raib entah dijarah investor atau pihak lain yang tak bertanggung jawab yang memanfaatkan keadaan untuk menjarah.

Kini police line telah mengelilingi lokasi tersebut. Patok-patok yang saling tumpang-tindih mengklaim hak atas kebun juga sudah diamankan di Mapolres Sukabumi. Kapolda Jabar Irjen Pol Sudirman Ali juga sudah mengimbau kepada seluruh investor untuk mengembalikan aset milik PT QSAR.

Pertanyaannya, apakah gampang membuat orang yang telah kecewa menyerahkan apa yang dianggapnya sebagai kompensasinya. Apalagi Forum Komunikasi Investor (FKI) QSAR secara tegas sudah menyatakan baru akan mengembalikan aset bila uang yang ditanamkan kembali dengan utuh. (Hartono Harimurti-16t)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Analisis | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA