logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 2 September 2002 Jawa Tengah - Pantura  
Line

MEGONO SEDEP

Kamir, Kue Khas Pemalang asal Arab

SIAP DIJUAL: Ny Khafifah dan suaminya Ali Mahrochi saat memilah-milah kue kamir yang siap untuk dijual.(Foto: Suara Merdeka/sf)

KUE kamir begitu namanya. Konon kue ini diperkenalkan kepada masyarakat kali pertama oleh orang dari negara Arab. Tetapi kini menjadi makanan khas Pemalang yang sangat dikenal.

Bentuknya bulat menyerupai kue apem tetapi sedikit lebih gemuk. Sedangkan ukurannya bervariasi. Yang terbesar sampai sebesar lingkaran piring makan. Sedangkan terkecil sebesar lingkaran mangkok. Ukuran-ukuran itu tergantung pemesannya. Bahkan pernah akan dibuat ukuran raksasa tapi gagal tidak matang.

''Saya sering mendapat pesanan untuk oleh-oleh. Mereka ada yang datang dari Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Bahkan ada yang hendak pergi ke Negara Brunei pesan kamir dulu di sini,'' ujar pembuat kue kamir di Kelurahan Mulyoharjo Khafifah (35) kemarin.

Dia mengetahui pembuatan kue itu dari ibunya Khodijah kini sudah meninggal. Menurut cerita ibunya yang masih dia ingat, orang pertama yang membuat kue kamir adalah orang Arab yang tinggal di Kelurahan Mulyoharjo. Namanya dia tidak ingat karena sudah puluhan tahun lalu.

Nama kamir itu sendiri tidak jelas berasal dari nama apa. Apakah berasal dari kata khamer (bahasa Arab) yang berarti memabukan. Atau dari nama orang keturunan Arab itu sendiri. Yang jelas kini kue itu sudah memasyarakat di Pemalang. Tetapi tidak memabukan kalau dimakan. Kecuali kalau kebanyakan.

Anehnya, kini meskipun di Kelurahan Mulyoharjo banyak keluarga keturunan Arab tidak ada yang membuat kue itu. Mungkin mereka rela sudah diwariskan kepada warga asli dan menjadi makanan khas.

Kue itu terbuat dari adonan terigu, mentega, pisang ambon, tape dan telor. Adonan tersebut setelah jadi dituangkan dalam cetakan yang sudah dipanaskan dengan kompor minyak. Setelah matang baru dihidangkan.

Lima Tahun

Pembuatan kue kamir tergolong mudah. Tetapi tidak semua orang bisa membuat dengan rasa enak. Sebab bahan campurannya seperti pisang dan tape tentu akan terasa lain. Kue kamir yang bagus seperti buatan Khafifah, rasa bahan campuran itu sudah tak terasa lagi di lidah. Tetapi berubah menjadi rasa kue yang khas.

Daya tahan kue kamir relatif lama karena bisa dihangatkan lagi. Sehingga cocok untuk oleh-oleh bila bepergian jauh. Pembuat kue itu di Kelurahan Mulyoharjo sekitar 20 orang. Belum di Kelurahan Kebondalem, Pelutan dan desa lainnya.

Bagi pembeli dari luar kota yang ingin praktis dapat mudah mendapatkannya pada toko-toko roti. Atau kios-kios jajanan di sepanjang Jalan A Yani. Tetapi biasanya yang sudah tahu tempat pembuatannya mereka datang sendiri. Karena lebih puas dan harganya lebih murah.

Pembuat kue kamir yang cukup dikenal di Pemalang adalah Bu Dijah alias Khodijah. Setelah meninggal kini keahliannya itu diturunkan kepada anak-anaknya. Tetapi dari delapan anaknya hanya Ny Khafifah saja yang berhasil meneruskannya sampai sekarang.

Ny Khafifah belajar membuat kue khamir sejak masih kanak-kanak. Setelah bersuami dia mencoba buka sendiri dan berhasil. Usaha itu ditekuni sudah lima tahun ini.

''Hasilnya lumayan, Mas. Bisa menyekolahkan anak-anak termasuk pasang pesawat telepon,'' kata Ny Khafifah didampingi suaminya Ali Mahrochi (40).

Ibu dan bapak empat anak itu setiap hari bekerja mencetak kue khamir dari pukul 14.00 sampai 21.00. Setiap hari menghabiskan tepung terigu sebanyak 100 kilogram. Sedangkan tape 20 kg, telur 10 kg dan pisang ambon satu cengkeh.

Penjualan kue kamir tidak perlu dijajakan keliling kampung. Tetapi cukup dititipkan pada toko-toko roti, pasar, hotel dan penginapan. Harga untuk ukuran kecil Rp 750 dan ukuran besar Rp 1.500.

Bahkan banyak pembeli yang datang sendiri ke rumahnya. Meskipun rumahnya tersembunyi, masuk gang kecil dan terselip dari rumah-rumah lainnya di perkampungan Arab, banyak orang yang mengetahuinya. Sebab dia tetap menggunakan nama ibunya yaitu Bu Dijah.

Dia sangat bersyukur sekarang ini di Pemalang ada yang terkenal melakukan pengobatan alternatif, yaitu Mbak Atun. Tamunya tidak saja dari Pemalang dan sekitarnya. Tetapi datang dari kota-kota besar. Bahkan ada tamu dari kalangan selebritis dan pejabat tinggi.

Tamu-tamu yang berobat itulah yang sering beli kue kamir sebagai oleh-oleh. Sehingga meskipun kue daerah digemari juga oleh para selebritis dan pejabat tinggi. (Saiful Bachri-20)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA