
| Jumat, 30 Agustus 2002 | Tajuk Rencana |
Soal Irak, Bush Dapat Tentangan Luas- Terjadi perkembangan kontroversial soal Irak. Pada satu pihak, kapan serangan dilakukan Washington seolah tinggal menghitung hari. Pernyataan beberapa pejabat tinggi AS memberi gambaran gamblang. Wapres Dick Cheney awal pekan ini mengemukakan, menyerang Irak dapat menimbulkan keadaan tidak baik, tetapi membiarkan Saddam Hussein seperti sekarang menyebabkan keadaan lebih buruk. Dia menyebutkan, Bagdad telah memiliki senjata kimia dan biologi serta sedang berusaha menambah dengan senjata nuklir. Persenjataan tersebut jelas bukan jenis untuk mempertahankan diri. Tiga pejabat penting yang properang, yaitu Menhan Donald Rumsfeld, Deputi Menlu Paul Wolfowitz dan penasihat keamanan Gedung Putih Condoleza Rice menyatakan AS mampu perang sendiri. Tak perlu menunggu dukungan sekutu.
- Di Jepang, Deputi Menlu AS Richard Armitage sedang mengusahakan dukungan negara itu. Dia meyakini, banyak pemimpin sependapat dengan Presiden Bush. Bahwa tindakan terhadap pemimpin Irak adalah perlu. Dia menyakini, dukungan pada saatnya nanti akan diperoleh. Pejabat tersebut selain berkunjung ke Tokyo akan meneruskan perjalanan ke beberapa negara Asia lain untuk tujuan serupa. Perjalanan tersebut memperluas dan memperkuat usaha yang telah dilakukan sebelumnya oleh Menlu Colin Powell. Powell awal bulan ini mengunjungi tujuh negara Asia termasuk Pakistan, India, Indonesia, dan Singapura. Presiden Bush pernah mengutarakan, serangan belum akan dilakukan bulan ini. Akan tetapi, diplomasi pembantu-pembantunya yang gencar memberi isyarat lain.
- Pada pihak lain, tentangan terhadap rencana Presiden Bush juga semakin kuat dan luas. Bahkan tentangan itu juga datang dari kalangan sekutunya, baik sekutu di Eropa, Timur Tengah maupun Asia. Di Eropa, Kanselir Jerman Gerhard Schroeder menilai, pendapat Wapres AS Dick Cheney sebagai sebuah "kekeliruan" dan bukan gagasan yang telah dipikir dengan matang. Pemimpin itu berpendapat, pemecahan masalah dengan mengirim kembali tim pemeriksa senjata ke Irak tetap pilihan terbaik. Mandat baru dari DKK PBB harus diperoleh. Toh Bagdad sudah mengisyaratkan kesediaan membuka pintu bagi tim tersebut. Baghdad hanya memberi syarat agar langkah tersebut disertai pencabutan embargo ekonomi. Schroeder menekankan, Saddam Hussein bukan sesuatu ancaman besar bagi AS. - Di Asia dua negara besar terkemuka menyatakan tentangan. Menlu Cina Tang Jiaxuan berpandangan, penggunaan kekuatan militer tidak akan menolong untuk memperbaiki keadaan di Irak. Sebaliknya, justru akan meningkatkan ketidakstabilan dan ketegangan regional. Pendapat itu dikemukakan ketika menerima kunjungan Menlu Irak Naji Sabri di Beijing, Rabu. Negara besar lain, India, menandaskan pendirian serupa. New Delhi sejak awal tidak mendukung rencana Presiden Bush. Menlu India Yashwant Sinha malah menunjukkan sikap lebih tegas. New Delhi jelas tidak bisa mene-rima tindakan bersenjata oleh satu negara terhadap negara atau orang lain. Apalagi bila bertujuan untuk menggulingkan kekuasaan yang sah di sana.
- Di Aleksandria, Presiden Mesir Hosni Mubarak menegaskan, tentangan yang sangat jelas. Berbicara ketika baru saja bertemu dengan sejumlah pemimpin Arab lainnya, Hosni Mubarak, menyatakan semua pemimpin negara Arab menentang rencana Bush. Aksi militer bila benar-benar dilaksanakan tidak cuma mengguncang Baghdad, tetapi juga menimbulkan kekacauan di negara-negara Arab lain. Pemimpin Mesir itu mengungkapkan, dirinya juga tidak senang terhadap Saddam Hussein, tetapi tetap tidak setuju penggunaan senjata dan militer untuk menyingkirkannya. Serangan itu jelas-jelas tidak akan memperbaiki keadaan, terutama hubungan Washington dengan Palestina, selagi bangsa itu masih sangat menderita sehubungan dengan perkembangan terakhir konflik dengan Israel.
- Di Irak memang ada perkembangan yang menguntungkan AS. Yaitu kebangkitan kekuatan oposisi yang bertekad menggulingkan Saddam Hussein. Oposisi tersebut terus menyusun kekuatan di Inggris dan Eropa. Namun sebaliknya, di sana ada juga faktor yang tak menguntungkan. Suku Kurdi menolak memberi dukungan bagi AS. Suku yang mendukung AS dalam perang lalu kecewa lantaran pascaperang tidak memperoleh keuntungan apa pun. Malah menghadapi tindasan makin keras dari Saddam Hussein. Sekutu dekat AS lain, Turki, juga tidak mendukung Bush. Pemerintah Turki justru waswas bila perang pecah lagi, justru akan memancing Suku Kurdi untuk bergerak dan menggunakan kesempatan itu untuk memperkuat perjuangan mendirikan negara sendiri. AS menghadapi keadaan yang sangat pelik. |