
| Jumat, 30 Agustus 2002 | Sala |
REHATSerabi Notosuman Memikat Bung Karno
PERNAH makan serabi Notosuman? Siapa sangka makanan gurih yang kini diusahakan di tujuh cabang di Solo dan Yogyakarta itu berawal dari pesanan tetangga? Kali pertama dibuat pun bukan serabi, melainkan apem untuk ruwahan. Dengan cenuk bersantan di tengah serabi itu terasa lebih gurih. Barangkali itulah kekhasan serabi Notosuman yang kini ditiru serabi di daerah lain. Adalah Ny Hoo Gieng Hok yang mengawali usaha itu sejak tahun 1923 di Jalan Veteran. ''Waktu itu nenek saya diminta membuat apem yang memiliki pinggiran. Jadilah serabi seperti ini, nggak seperti apem yang nggak memiliki pinggiran,'' ujar Ny Lidiawati, generasi ketiga yang kini meneruskan usaha serabi Notosuman di Jalan Moh Yamin 24 Solo. Tanggapan warga Solo kala itu cukup menjanjikan. Jadilah Ny Hoo Gieng Hok menekuni usaha itu hingga pindah tempat tiga kali. Saat masa kontrak rumah di Jalan Veteran habis, warung pindah ke Jalan Yos Sudarso. Kemudian pindah lagi ke Jalan Moh Yamin 24 Solo. Saat itu sang nenek hanya membuat sedikit serabi berbahan utama tepung beras tersebut. ''Kala itu nenek hanya menghabiskan 3 beruk beras (takaran dari batok kelapa-Red). Harga saat masih murah. Satu benggol dapat tiga serabi,'' kenang dia. Seiring perjalanan waktu, usaha itu dilanjutkan Ny Margo Utomo, putri Ny Hoo. Kini, serabi yang selalu menjadi langganan keluarga Cendana bila berkunjung ke Solo itu tetap digemari masyarakat. Diborong BK Saat Soekarno menjadi presiden, serabi Notosuman pernah diborong. Saat itu pemilik usaha tak boleh menjual serabi ke siapa pun, kecuali ke Soekarno. Bahkan ajudan menjaga rumah Ny Hoo sehari sebelumnya sejak pembuatan serabi dilakukan. ''Saya lupa tahunnya. Tapi waktu itu rumah dijaga polisi sejak sore. Dan semua dagangan diborong Pak Karno,'' ujar Ny Margo Husodo (84), yang didampingi Ny Lidiawati, kemarin. Saat Soeharto berkuasa pun, Ny Lidiawati pernah diundang keluarga Cendana. ''November 1997 saya diundang untuk bikin serabi di Cendana. Saat itu ada penyambutan Sultan Brunei dan pameran di salah satu hotel bintang lima di Jakarta.'' Kini pun serabi Notosuman tetap digemari siapa pun. Meski kini diolah secara modern, rasa gurih sejak kali pertama pembuatan tak berubah. (Anie R Rosyidah-51g) | |||||