logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 30 Agustus 2002 Berita Utama  
Line

Panitia Ospek ISI Sandera Wartawan

BANTUL - Kasus kematian Cisilia Puji Rahayu (19), mahasiswi Fakultas Perternakan Undip, peserta Pengenalan Kegiatan Ilmiah Kampus (Pekik) belum selesai, sudah muncul kasus serupa walau tidak menimbulkan korban jiwa yang dilakukan panitia Ospek Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan cara menyandera empat wartawan dan merampas kamera wartawan Bernas dan Kedaulatan Rakyat yang sedang meliput kegiatan tersebut.

Keempat wartawan yang disekap dan diintimidasi itu adalah Nyoman (reporter), Yohanes Suroso (fotografer), keduanya wartawan harian Bernas. Sedangkan dua yang lain adalah Jayadi (reporter) dan Evi Wijono Putro (fotografer), keduanya wartawan harian Kedaulatan Rakyat.

Selain menyekap dan mengintimidasi keempat wartawan, kamera dan film Yohanes Suroso dan Evi Wijono Putro juga dirampas. Akibat perlakuan yang kurang simpatik tersebut, Bernas mengadukan permasalahan tersebut ke Mapolres Bantul.

Ospek yang dilakukan mahasiswa ISI Yogyakarta dengan diberi nama Belajar Bersama Mahasiswa (BBM) tersebut dimulai Kamis kemarin dan rencananya baru akan berakhir Sabtu (29-31/2002) besok, terpaksa dibubarkan oleh Rektor ISI Yogyakarta Prof Dr I Made Bandem, karena dinilai pelaksanaan Ospek terlalu keras dan jauh dari nuansa ilmiah.

Akibat pembubaran tersebut, panitia dan sebagian mahasiswa ISI Yogyakarta marah dengan cara merusak papan informasi, bangku-bangku, memecah sejumlah pot bunga, dan melakukan aksi corat-coret di gedung rektorat.

Corat-coret yang berisi makian serta umpatan kasar atas kebijakan rektor tersebut, sama sekali tidak mencerminkan etika seorang maahasiswa. Misalnya, sampai tega-teganya menyebut 'Kopet' rektor mereka sendiri.

Kelakuan brutal yang ditunjukkan mahasiswa itu sangat tidak berbudaya. Buktinya, mereka sudah berani merusak kampus serta berani memaki-maki dosen dan rektornya. Lebih memprihatinkan lagi mereka menyekap dan menyandera wartawan, bahkan juga merampas kamera wartawan.

Setelah merampas kamera, para mahasiswa juga meminta secara paksa film serta memaksa Evi Wijono Putro, untuk menghapus semua gambar yang bisa direkam melalui kemera digital. Akibat tindakan itu, Evi kehilangan baterai asli Nikkon Qulpix.

Mengambil Gambar

Menurut keterangan empat wartawan tersebut, kasus itu bermula dari keinginan wartawan tersebut meliput aksi yang dilakukan oleh sebagian mahasiswa ISI Yogyakarta di kampus ISI Jalan Parangtritis, Bantul.

Saat itulah salah seorang wartawan yang meliput kegiatan itu langsung beraksi mengambil gambar, namun kerja wartawan itu justru mendapat perlakuan yang kurang simpatik.

"Kamu wartawan ya! Jangan macem-macem di kampus ini," bentak salah seorang mahasiswa sambil menarik lengan wartawan dan merampas kamera.

Kemudian para wartawan itu dibawa ke salah satu ruangan di kampus itu. Di dalam ruangan itu, keempat wartawan langsung diintimidasi oleh puluhan mahasiswa sambil merampas kamera kerja.

Keempat wartawan itu disekap dalam ruangan itu kurang lebih dua jam. Mereka baru dibebaskan pukul 11.45 WIB, setelah ada negosiasi yang dilakukan Agus Lelur, dosen Teater ISI dan Desi Mahendra, mahasiswa Fotografer, dengan salah seorang panitia Ospek Wendy.

Meski bisa dibebaskan, keempat wartawan khususnya fotografer kehilangan moment yang bisa diabadikan dengan kameranya. Karena film dan hasil rekaman kamera digitalnya harus dihapus.

Akibat tindakan itu, Bernas dan Kedaulatan Rakyat akan mengadukan permasalahan itu ke pihak yang berwajib. "Pihak Bernas sudah mengadukan permasalahan ini ke Mapolres Banatul, bahkan Nyoman, Pak Roso, dan Pak Leman hingga malam ini (Kamis pukul 19.00 WIB-Red) belum pulang dari Polres Bantul," kata salah seorang wartawan Bernas ketika dikonfirmasi semalam.

Sehubungan dengan kasus itu, Pembantu Dekan III Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Edy Susilo menyatakan secara resmi pihaknya belum menerima laporan. Meski demikian, pihaknya sangat menyesalkan terjadinya kasus tersebut.

"Silakan Saudara mengadu kepada pihak yang berwajib, kalau perlu kami juga akan turut mendampingi Saudara. Karena kami pun saat ini sedang pusing, kenapa mereka sampai begitu," katanya.

Terus terang secara resmi ISI Yogyakarta belum berani mengeluarkan pernyataan setelah melihat dan menyaksikan ulah mahasiswanya itu.

"Terus terang kami sedang pusing, kami tidak menyangka mereka berani berbuat sejauh itu," katanya.

Sementara itu, PWI Cabang DIY dalam keputusan rapat yang dilakukan semalam, mengutuk keras tindakan tersebut dan meminta aparat menyelesaikan masalah ini secara tuntas.

Sedangkan wartawan KR setelah meminta visum, hari ini akan melaporkan secara resmi kasusnya ke polisi, sementara laporan melalui telepon sudah dilakukan kemarin. (sgt-16t)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA