
| Jumat, 30 Agustus 2002 | Berita Utama |
Buntut Pemulangan TKI IlegalBanyak Proyek di Malaysia Terbengkalai
SEMARANG - Pemulangan TKI ilegal yang bekerja di Malaysia ternyata berdampak sangat luas. Di antaranya banyak proyek pembangunan pemerintah, swasta, dan perseorangan terbengkalai, sebab tenaga kuli dan tukang bangunan itu sebagian besar menggunakan TKI ilegal. Hal itu diungkapkan Prof Dr Ramli Nazir PhD, seorang staf Departemen Geoteknik dan Transportasi Universitas Teknologi Malaysia (UTM) kepada Suara Merdeka seusai mengisi kuliah umum di lingkungan Fakultas Teknik (FT) Unissula. Namun Ramli tidak menyebutkan secara pasti jumlah proyek pembangunan yang terbengkalai. Ketika memberikan penjelasan dia didampingi oleh antara lain Dekan FT Unissula Ir H Soedarsono MSi, Pembantu Dekan I Ir Kartono Wibowo MM, dua dosen FT itu Ir Pratikso MST PhD yang belum lama ini meraih doktor dari UTM itu dan Ir Rinda Karlinasari MT. Menurutnya, banyak pemborong dan kontraktor bangunan gedung di Malaysia sudah terbiasa memakai TKI ilegal. Alasannya, upah tenaganya tergolong murah di negara jiran itu. Untuk kuli per hari sekitar 30 ringgit (per ringgit di kurs uang Indonesia Rp 2.500), lalu untuk upah tukang antara 60-100 ringgit (Rp 150.000-Rp 250.000) per hari. Jika memakai TKI legal lebih mahal, misalnya upah kuli bisa mencapai 100 ringgit, dan upah tenaga tukang bangunan antara 250-300 ringgit per hari. "Hebatnya lagi, tenaga TKI ilegal mau bekerja mulai pukul 08.00 sampai 16.00, lalu masih bisa diminta kerja lembur mulai pukul 17.00 hingga 22.00. Mereka pun siap bekerja dengan tekun dan baik," kata Ramli Nazir, yang saat ini sedang membangun rumahnya ikut terkena dampak terbengkalai. Fondasi Tiang Mikro Pada bagian lain, ahli geoteknik ini lebih lanjut menjelaskan, sebagian besar struktur tanah di Kualalumpur (ibu kota Malaysia) dan sekitarnya mengandung lapisan batu kapur, yang mudah erosi atau terkikis jika terkena tekanan air, apalagi yang mengandung garam. Karena itu, untuk memperkuat bangunan gedung lebih cocok diterapkan jenis fondasi tiang mikro, yaitu dengan memasukkan tiang pancang berupa besi bertulang yang dicor beton minimal berukuran diameter 15 cm, sepanjang kedalaman 20 sampai 25 meter. Sesudah pekerjaan itu selesai, biasanya diteruskan memasang besi bertulang rata dengan tanah di atas fondasi tiang mikro, sesuai dengan ukuran bangunan yang dikehendaki, lalu dicor setebal 15 cm bagi calon ba-ngunan rumah lantai 1-2. Sedangkan untuk calon gedung lantai tiga ke atas umumnya menyesuaikan perencanaan lebih matang dari pihak kontraktor yang bertanggung jawab dari pelaksanaan proyek itu. "Pokoknya bangunan rumah dan gedung ber-tingkat tinggi, jika ingin hasilnya baik, kuat, dan bertahan lama, harus berani mengeluarkan biaya 60 persen untuk bagian fondasinya. Untuk menyelesaikan berdirinya gedung biasanya hanya diberi anggaran 40 persen, sehingga mampu mengantisipasi bentuk ba-ngunan secara keseluruhan, agar tidak mudah miring, ambruk, atau mengalami penurunan," tambahnya. (C25-16t) | |||||