logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 30 Agustus 2002 Berita Utama  
Line

Manajer PT Berhasiltex Akhirnya Menyerah

PEKALONGAN-Diantar DPP Front Pembela Islam (FPI) dan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) DKI, Beny, Manajer PT Berhasiltex datang ke Mapolwil sekitar pukul 16.15. Lelaki buron Polres Pekalongan itu didampingi adiknya, Jimy, dari Jakarta.

Begitu sampai di Mapolwil, Kapolwil Kombes Drs Rismawan dan pejabat lain lega setelah sejak siang khawatir Beny tidak datang. Beny langsung diserahkan Ketua I DPP FPI Ustaz KH Salim Nasir yang didampingi Imam Markas Besar Laskar Pembela Islam (LPI) Tugabus Sidik dan Badan Anti Kekerasan DPP FPI Tubagus Hasanudin, serta Ustaz Reza Pahlevi, Kepala Staf Personalia FPI, serta Karyono, anggota laskar.

DPP FPI juga didampingi Ketua Dakwah dan Pendidikan PITI DKI Loe Peng Kun dan M Jauhari. Ikut menyaksikan penyerahan tersangka, antara lain Kapuskodal Ops Polwil AKBP Drs Mukhlis, Wakapolres Drs Iswandi Hari SH MSi, dan Kasatserse AKP Arifin.

Namun ketika ditanya Kapolwil dan FPI, Beny belum dapat berbicara. Dia hanya diam dan tidak dapat mengeluarkan kata-kata. Karena itu, dalam pertemuan selama satu jam itu, DPP FPI belum memperoleh keterangan dari tersangka. Mengingat keterbatasan waktu, rombongan DPP FPI langsung kembali ke Jakarta.

Tidak lama kemudian, beberapa anggota DPW FPI Pekalongan dipimpin Ketua Abu Ayas juga hadir ke Mapolwil untuk melihat langsung bahwa tersangka sudah menyerah.

Stres

Imam Markas Besar LPI Tubagus Sidik mengatakan, kehadirannya ke Mapolwil Pekalongan untuk mengantar Beny yang diduga sebagai pelaku penganiayaan sekaligus mengadakan cek ulang tentang keterangannya di Jakarta. "Namun buron itu stres dan belum bisa dimintai keterangan," katanya.

Bagi FPI, yang penting Beny sudah diserahkan ke Kapolwil Pekalongan dengan aman untuk segera diproses sesuai dengan hukum," ujarnya usai menyerahkan tersangka Beny.

Menurut dia, sejak terjadi amuk massa di Pekalongan, Beny mengaku bersembunyi di rumah saudaranya di Jakarta selama enam hari lantaran ketakutan. Tetapi melalui PITI DKI, keluarganya minta FPI menjamin keamanannya sekaligus mengantar ke Mapolwil Pekalongan untuk menyerahkan diri. Permintaan itu dilakukan Selasa malam (27/8).

Malam itu juga laskar FPI siap mengantarkannya dengan tujuan agar masalah amuk massa di Pekalongan tidak meluas. Namun malam itu Beny tidak hadir dan baru hadir malam berikutnya.

Untuk menuju ke Pekalongan, ada dua mobil yang berangkat. Rombongan DPP FPI menumpang minibus dan Beny didampingi Ny Meliana (kakak) dan Jimy (adik) bersama dua pengurus PITI DKI menumpang mobil Kijang.

Mereka lepas dari Sekretariat DPP FPI di Petamburan Jakarta Pusat hari Rabu pukul 20.00. Ketika sampai di Cirebon, sekitar pukul 23.00 Beny terlihat stres dan berteriak-teriak di dalam mobil. Karena itu, Beny dan Jimy serta Meliana turun di Cirebon untuk menenangkan bos Berhasiltex. Sedangkan FPI tidak diberitahukan.

Rombongan FPI sampai di Mapolwil pukul 05.30. Namun alangkah terkejutnya dengan sikap pengurus PITI yang mengizinkan tersangka istirahat di Cirebon. Hal itu baru disampaikan ketika sampai di Mapolwil. Kekesalan itu makin menjadi setelah tersangka tidak dapat dihubungi lagi.

Setelah melakukan pertemuan dengan Kapolwil, akhirnya DPP FPI, PITI, dan FPI Pekalongan terpaksa menunggu Beny sampai pukul 16.00. Ketika DPP FPI sudah pasrah dan akan pamitan pulang, Beny bersama Jimy datang dan langsung dimasukkan ke ruang Puskodal Ops.

DPP FPI segera menyerahkan ke Kapolwil, dan setelah Beny tak dapat dimintai keterangan, segera kembali ke Jakarta mengingat sudah capek menunggu sejak pagi hingga sore. Kapolwil pun sebenarnya akan meminta keterangan Beny, tetapi tidak berhasil karena lelaki yang ditunggu-tunggu kehadirannya di Pekalongan itu masih stres dan belum dapat diajak bicara karena ketakutan. (A15-64t)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA