
| Jumat, 30 Agustus 2002 | Berita Utama |
Kelangkaan Solar Segera TeratasiJAKARTA-Kelangkaan solar di Jawa Tengah diharapkan akan segera dapat diatasi dalam satu dua hari mendatang. Pihak Pertamina yang sebelumnya menjatah 2,25 juta kilo liter bahan bakar tersebut memutuskan untuk menambah pasokan solar, khususnya di titik-titik yang dianggap strategis. Kepada Suara Merdeka di Jakarta Kamis (29/8) petang, Kepala Humas Pertamina Ridwan Nyak Baik menjelaskan, terjadinya kelangkaan solar di Jateng belakangan ini akibat BUMN tersebut sedang mencoba menyesuaikan antara kebu-tuhan riil dan stok mereka. Masalahnya sampai dengan bulan Juli lalu permintaan solar sudah melebihi perkiraan. "Untuk Jateng kita sebenarnya sudah memberikan jatah 2,2 juta kiloliter. Tapi sampai Juli, sudah 70% yang terpakai. Padahal, kita masih punya lima bulan lagi sampai Desember," ujar Ridwan. Karena itu, pada bulan Agustus Pertamina coba melakukan penyesuaian berapa kebutuhan riil yang sebenarnya. Di samping penyesuaian pasokan dan permintaan, kelangkaan diduga karena masyarakat panik terpengaruh isu kenaikan BBM minggu lalu. Seperti diketahui, dengan kebijakan pemerintah menyesuaikan harga BBM dengan MOPS (Mid Oil Platt Singapore) masyarakat memang bisa mengalkulasikan sendiri berapa perubahan harga BBM setiap bulannya. Dan belakangan ini tren harga minyak memang mendekati 30 dolar per barel. Ridwan menjelaskan, adanya kepanikan masyarakat ini mendorong permintaan melonjak dari kebutuhan yang sebenarnya. Akibatnya jatah yang semestinya cukup untuk memenuhi kebutuhan, menjadi kurang seperti yang terjadi sekarang. Namun untuk mengatasi kelangkaan itu Pertamina akan segera menambah suplai solar, terutama di tempat-tempat strategis.
"Kami tidak akan melakukan operasi pasar. Karena dengan situasi seperti sekarang, berapa pun banyaknya operasi pasar akan diserap habis. Yang dilakukan adalah kita coba atasi dengan melepas suplai," jelasnya. Menurut Ridwan, Kamis kemarin Pertamina telah melakukan pengkajian dengan Unit Pemasaran IV dan Pemda Jateng untuk menentukan titik-titik mana saja yang dianggap strategis dan perlu dilakukan penambahan pasok. Dengan demikian, tidak semua SPBU dilakukan penambahan jatah. Berkaitan dengan hal itu, dia minta bus-bus dan truk jurusan Jakarta-Surabaya dapat mengisi bahan bakarnya lebih dini sebelum memasuki Jateng. Saat menjawab pertanyaan, Ridwan memperkirakan dengan adanya penambahan pasokan tersebut kelangkaan solar di Jateng dan sekitarnya dapat diatasi dalam satu atau dua hari ini. "Kita harapkan dalam satu dua hari sudah dapat dinormalkan," harapnya. Tapi Ridwan mengingatkan, semua itu tergantung pada konsumen. Apalagi sekarang sudah memasuki akhir bulan, padahal awal September pemerintah akan mengumumkan perkembangan harga BBM yang baru, sehingga biasanya konsumen akan berspekulasi berkaitan dengan harga BBM. "Sebaiknya masyarakat tidak perlu berspekulasi, karena stok nasional cukup untuk 23 hari,"pintanya. Demi stabilnya pasokan solar, Ridwan mengharapkan masyarakat membeli bahan bakar tersebut sesuai dengan kebutuhan. Misalnya nelayan-nelayan yang hendak melaut, tak perlu membawa jerigen rangkap. Tambahan Kuota Salah satu penyebab kekosongan stok solar bersubdisi di Jateng adalah permintaan tambahan kuota yang diajukan Gubernur Jateng H Mardiyanto ke pemerintah pusat belum dipenuhi. Sebelumnya, Gubernur mengajukan tambahan kuota BBM untuk Jateng 5.000 kl. Namun sampai sekarang permintaan itu belum dijawab. Permohonan Gubernur itu, kata Ir Bambang Supriyadi MM, Kepala Bagian Produksi Biro Perekonomian Pemerintah Provinsi Jateng, tertuang dalam surat bernomor 541/2054 tertanggal 20 Februari 2002. "Karena sampai sekarang belum ada jawaban, Wakil Gubernur menyampaikan permohonan tambahan lagi yang tertuang dalam surat bernomor 541/11746 tertanggal 28 Agustus 2002," kata dia, dalam keterangan pers di Kantor Badan Informasi, Komunikasi, dan Kehumasan Jalan Pahlawan, kemarin. Hadir dalam kesempatan itu I Gusti Bagus Wisnu (Kepala Hubungan Masyarakat Pertamina Unit Pemasaran IV Jateng/DIY ), Umar Chotib (Kepala Wira Penjualan Rayon I), dan Drs Wardjito Suharso MSi dari Badan Informasi, Komunikasi, dan Kehumasan. Menghadapi kelangkaan solar belakangan ini, Gubernur Jawa Tengah H Mardiyanto mengimbau masyarakat tidak melakukan tindakan anarkis yang menimbulkan keresahan masyarakat. Pemerintah Jateng sudah berusaha mengusulkan penambahan kuota solar kepada pemerintah pusat. "Saya minta warga sabar. Dalam membeli solar agar antre dengan tertib dan tidak melakukan tindakan-tindakan yang menjurus kepada perbuatan anarkis," kata Gubernur di Banyudono, Kabupaten Boyolali, kemarin. Dia mengatakan, sudah memerintahkan Pertamina untuk melakukan pengecekan di lapangan. Ternyata penggunaannya melebihi kuota. "Pengendalian memang perlu. Tapi kalau memang kebutuhan masyarakat lebih banyak, mestinya itu yang diutama-kan,"katanya. Saat menyikapi hal tersebut, dia sudah mengajukan usulan kepada pemerintah untuk menambah kuota BBM Jateng. Sebab, dalam perhitungan untuk satu tahun, kuota solar untuk Jateng dirasakan kurang. Selain itu, provinsi ini sebagai daerah perlintasan Jabar-Jatim atau Jabar-Jateng, tentu penggunaan solar sangat banyak. "Saya sudah mengajukan usulan penambahan kuota. Namun sampai sekarang belum dikabulkan," tambahnya. Di samping itu, Gubernur juga meminta kalangan industri tidak menggunakan BBM secara berlebihan. Demi-kian juga masyarakat tidak melakukan penimbunan. Anggota Komisi B DPRD Jateng, Drs H Sutoyo Abadi, menduga kelangkaan solar di Jateng terjadi karena ketidakberesan manajemen PT Pertamina UPMS IV Semarang. Sebab, kelangkaan solar itu hanya terjadi di sini. Di Jatim dan Jabar tak ada gejolak kekurangan solar. "Saya menduga ini hanya permainan karyawan Pertamina, yang mencari keuntungan dengan memanfaatkan harga subsidi dan industri." Dia mempertanyakan kalau terjadi overtarget, yakni realisasi solar tahun 2002 hingga Juli 67,25% dari target 58,33%, kenapa tak dikendalikan sejak dulu. "Kan yang memegang kendali Pertamina. Kalau overtarget jelas kesalahan Pertamina. Tidak boleh menyalahkan kuota nasional. Kenapa Jatim dan Jabar tetap aman, tidak ada gejolak seperti di Jateng," kata dia. Sekretaris FPG DPRD Jateng itu khawatir kasus serupa menimpa perse-diaan minyak tanah. Sebab, terjadi selisih cukup besar antara harga minyak yang dapat subsidi dan industri. Yakni, sekitar Rp 630. "Saya yakin sebentar lagi kelangkaan minyak tanah terjadi. Ini hanya permainan Pertamina," katanya. Mengenai alasan Pertamina kelangkaan itu berkait dengan pengaturan pembagian solar agar merata, Sutoyo menduga itu hanya alasan yang mengada-ada. "Kita semua dianggap bodoh oleh Pertamina. Sebab, aturan teknis seharusnya diukur sejak awal bulan (Januari-Red) hingga bulan Desember, bukan Agustus." Sementara itu, DPD Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Jateng dan DIY Drs H Harsono telah mengajukan penambahan pengedropan solar secukupnya ke Pertamina. Itu untuk mengantisipasi keberlanjutan kelangkaan solar di sejumlah SPBU di beberapa tempat. "Permohonan ini untuk mengantisipasi kelangkaan solar, sehingga stok di SPBU normal kembali," kata dia." (A20-60t) (A20,D10,D14,F2,G2,G5,sri,G9-17,60gt) |