
| Jumat, 30 Agustus 2002 | Berita Utama |
Nelayan Tambaklorok Gunakan Minyak Tanah
SEMARANG - Sebagian nelayan Tambaklorok, Tanjungmas, Kecamatan Semarang Utara, terpaksa menggunakan minyak tanah untuk mengisi mesin diesel perahunya, akibat sejak Sabtu lalu kesulitan mendapatkan solar. "Kami terpaksa menempuh cara itu meski resikonya sangat besar terhadap mesin. Namun apa boleh buat, kami tak punya pilihan lain, daripada keluarga tidak makan," kata Marsono, seorang nelayan, kemarin. Dia menuturkan setiap kali melaut (berangkat pukul 05.00 pulang pukul 16.00) mesin tempel perahunya membutuhkan sedikitnya 20 liter solar. Dia membeli solar eceran ke bakul seharga Rp 1.475/liter. Setiap kali melaut setiap nelayan rata-rata mengeluarkan biaya untuk bahan bakar sekitar Rp 30.000. "Itu belum termasuk biaya perbekalan, makan, minum, dan rokok. Padahal, saat ini ikan di laut sepi. Hasil penjualan ikan paling banter hanya antara Rp 30.000 dan Rp 60.000. Itu pun hasil kotor." Nelayan lain, Yatin (39), curiga atas kelangkaan solar saat ini. "Jangan-jangan ujung-ujungnya harga solar naik. Padahal, dengan harga seperti sekarang saja penghasilan nelayan terkadang tidak dapat menutup biaya operasional alias tekor. Bisa dikatakan sudah jatuh tertimpa tangga," kata ayah tiga anak itu. 2.000 Nelayan Nelayan di Tambaklorok 2.000 orang. Ada yang memiliki perahu, namun sebagian lagi hanya buruh nelayan. Mustaron (30), penjual solar di Tambaklorok, menyatakan saat ini nelayan memang resah. Bahkan beberapa waktu lalu ada yang nekat hendak membuka keran solar milik Pertamina yang melalui permukiman nelayan itu. Pipa besar untuk menyalurkan solar dari kapal tanker ke depo Pertamina itu memang melintasi permukiman nelayan Tambaklorok. "Untung, polisi segera turun tangan sehingga tindakan itu dapat dicegah. Saat ini mereka juga sudah berencana unjuk rasa ke Pertamina apabila kebutuhan solar tak segera dipenuhi," kata dia. Dia mengaku saat ini ibarat punya utang ke para nelayan. Hampir setiap hari dia dikejar-kejar para nelayan agar bisa memasok solar secepatnya. "Beberapa waktu kami minta surat keterangan dari RT, kelurahan, dan kecamatan. Di dalam surat keterangan itu saya minta Pertamina memenuhi kebutuhan solar nelayan Tambaklorok. Surat itu sudah saya sampaikan ke Pertamina di Pengapon dan direkomendasikan ke pengelola stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jalan Raden Patah. Waktu itu permintaan kami dipenuhi. Namun yang jadi persoalan, apabila solar di SPBU itu kosong seperti saat ini." Prihatin Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K) mendesak Pertamina segera mengatasi kelangkaan pasokan solar. Sebab, hal itu sangat meresahkan dan mengganggu pemenuhan akan transportasi orang dan barang serta mengganggu perekonomian. "Jika tidak segera ditangani pasti segera diikuti lonjakan harga barang-barang lain," kata Ketua LP2K Drs Gunarto MM. Dia menduga kelangkaan solar di Jateng dan DIY akibat ketidakmampuan Pertamina menindaklanjuti penyimpangan distribusi. Dia mencontohkan saat ini masih banyak tempat "kencing" mobil tanki berkesan dibiarkan. Bisa saja dari tempat-tempat itu solar disalurkan ke industri dengan harga internasional. Selama ini upaya mengurangi penyimpangan distribusi dilakukan dengan membatasi pasokan ke pelanggan. Namun hal itu justru membuat persediaan solar untuk transportasi terkurangi. "Semestinya upaya membersihkan penyimpangan distribusi dilakukan melalui tindakan hukum bersama aparat keamanan. Setelah upaya itu berhasil, Pertamina bisa mengatur ulang distribusi," kata dia. Resah Sementara itu ribuan nelayan di Kecamatan Wedung dan Bonang, Demak, sejak empat hari lalu resah karena kelangkaan solar seiring dengan pengurangan jatah solar di sejumlah SPBU. Sebab, mereka sangat tergantung pada bahan bakar itu untuk melaut setiap hari. "Sudah empat hari ini solar langka. Kami terpaksa hanya bisa memaksimalkan persediaan," kata Mustofa (42), nelayan Morodemak, Bonang, siang kemarin. Dia menuturkan bila solar datang, para nelayan yang tidak cepat tak akan kebagian. Akibatnya, nelayan itu tak bisa melaut karena tidak memiliki solar untuk bahan bakar mesin diesel perahu. Umumnya, kata dia, nelayan membeli solar di sejumlah depot solar di sekitar Desa Morodemak, Margolinduk, dan Purworejo. Meski harga tidak naik, solar langka. "Harga tidak naik. Tetapi barangnya tidak ada. Kan sama saja, sulit dicari." Stok ke depot-depot solar di sana sangat terbatas. Para nelayan itu juga membeli secara terbatas. Akibatnya, mereka tak bisa melaut dengan jarak tempuh jauh. "Paling-paling hanya menempuh perjalanan tiga jam. Kami hanya dekat-dekat saja kok," ujar Hamzah (60), nelayan lain di Morodemak. Pengalaman yang sama dialami Nurhasyim (46), nelayan asal Wedung. Karena tak kebagian solar di depot penjual solar langganannya, dia memanfaatkan solar sisa hari sebelumnya untuk melaut. "Sisa solar itu tidak dapat memenuhi kebutuhan seperti bila keadaan normal. Lampu kapal saya juga butuh listrik untuk menerangi air laut sekitar kapal. Karena solar terbatas, saya tidak bisa lama ke tengah," katanya. Hal itu, kata dia, sangat memengaruhi perolehan ikan. Lampu penerang kapal di laut sebenarnya bisa membuat ikan-ikan tertarik mendekat. Namun ternyata hanya menyala sebentar. Ikan buyar dan tangkapan pun turun. Depot Kosong Penderitaan juga dialami sejumlah pemiliki depot solar. Sudah sejak empat hari lalu jerigen-jerigen solar mereka kosong. "Sebelumnya saya tidak pernah seperti ini. Jerigen solar saya selalu terisi penuh. Tapi sudah empat hari ini saya benar-benar komplangan (kosong-Red)," kata Abdullah Zaeni (48), pemilik depot solar di Desa Purworejo, Bonang. Biasanya dia dijatah solar 7-9 jerigen dan setiap jerigen berisi 30 l. Kini dia hanya menerima 4 jerigen. Dia memastikan depot solarnya tak bisa memenuhi kebutuhan para nelayan pelanggan. Karena itu Safii (38), pemilik depot solar lain, berharap kebutuhan solar bagi para nelayan dipikirkan pemerintah. Bila tidak, aktivitas nelayan akan terganggu dan memengaruhi pendapatan nelayan. "Di sini sudah banyak nelayan mengeluh. Kelangkaan solar sudah dibicarakan banyak orang. Karena itu kami berharap para nelayan dibantu sehingga lancar mendapatkan solar. Kasihan kalau sampai tak bisa melaut," katanya. Staf Kantor Kelautan dan Perikanan Demak, Andi Suparmono, menyatakan memahami kebutuhan para nelayan di Wedung dan Demak. Namun hingga sekarang pihaknya belum menerima laporan dari petugas di lapangan.
"Kami menunggu laporan dari petugas di lapangan," katanya. Dia menuturkan untuk mencukupi kebutuhan solar nelayan di sana, pemerintah berencana membangun SPBU, khususnya untuk pos solar. SPBU itu untuk memenuhi kebutuhn 5.835 nelayan di Wedung dan 5.463 nelayan di Bonang. Jumlah perahu motor tempel di Wedung 699 buah dan di Bonang 497 buah. (ss,G6,G5-16g) | |||||