logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 30 Agustus 2002 Karangan Khas  
Line

Reproduksi Sehat dan Bertanggung Jawab

Oleh: Toto Subandriyo

KONTROVERSI terhadap hasil penelitian tentang seks pranikah yang dilakukan oleh Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan Pusat Latihan Bisnis dan Humaniora Yogyakarta terus berlanjut. Hasil penelitian menyebutkan dari 1.660 responden mahasiswi di Yogyakarta, ternyata 97,05% dari mereka pernah melakukan seks pranikah selama menyelesaikan kuliah.

Penelitian yang dilaksanakan pada 16 institusi perguruan tinggi di Yogyakarta itu juga memberikan data yang sangat memprihatinkan. Dari jumlah responden 1.660 tersebut, 25% di antaranya atau 415 mahasiswi, melakukan seks pranikah dengan lebih dari satu pasangan. Bahkan rata-rata mereka pernah melakukan aborsi berisiko tinggi, antara lain dengan menelan obat flu dan ragi dalam jumlah besar.

Hasil penelitian ini mengingatkan kita pada kurun waktu sekitar 20 tahun lalu, di kota yang sama, seorang pelajar SMU membeberkan hasil penelitiannya tentang kehidupan seks remaja di kotanya. Penelitian kala itu melahirkan istilah "kumpul kebo" yang sangat populer.

Terlepas dari pro dan kontra terhadap validitas penelitian, kita perlu secara bijaksana menyikapi kenyataan pahit ini. Kita juga perlu mawas diri, jangan-jangan dua penelitian yang kurun waktunya sangat berbeda jauh namun hasilnya mendekati kesamaan ini merupakan realita dari kondisi yang ada di masyarakat kita.

Tidak selayaknya kemudian masyarakat atau lembaga tertentu memberikan vonis terhadap hasil penelitian tersebut. Kita harus bersikap dewasa dan menghormati kebebasan akademik seseorang/sebuah lembaga.

Perlu kita sadari juga transformasi nilai dari masyarakat tradisional ke modern sekarang ini membawa dampak yang sangat memprihatinkan. Transformasi nilai ini mempengaruhi pola dan fungsi jalinan keluarga masyarakat Indonesia.

Ikatan keluarga jadi semakin longgar, mobilitas anggota keluarga lebih tinggi dengan sikap yang lebih permisif terhadap norma-norma serta perilaku yang dulu dianggap tabu. Derasnya arus informasi yang bersifat global serta mengendornya mekanisme kontrol kemasyarakatan, semua itu seolah menjadi katalisator terjadinya degradasi moral di kalangan remaja.

Tidak Sehat

Suka atau tidak suka, fakta lebih banyak berbicara bahwa perilaku reproduksi remaja sekarang banyak menjurus pada cara reproduksi yang tidak sehat dan bertanggung jawab.

Menurut hemat penulis, perilaku reproduksi dikatakan sehat dan bertanggung jawab dapat dilihat dari tiga unsur. Ketiga unsur tersebut antara lain dipandang dari segi cara melakukan reproduksi (biologis), dari segi hukumnya (legal) dan dipandang dari norma agama/budaya.

Secara biologis, reproduksi diartikan sebagai upaya memperoleh keturunan yang akan melanggengkan generasi pada masa mendatang. Kegiatan ini diawali dari hubungan seksual. Proses berikutnya terjadi pembuahan sel telur oleh sel kelamin jantan, dan melalui beberapa siklus akhirnya dihasilkan seorang anak manusia.

Hal yang sama sangat krusial dalam kesehatan reproduksi yaitu bagaimana hubungan seksual itu secara fisik dilakukan. Reproduksi dikatakan sehat dari segi fisik bila dilakukan oleh seorang wanita dan seorang pria yang jasmaninya sehat, tidak sedang mengidap penyakit berbahaya dan dilakukan sesuai dengan kaidah kesehatan. Memperhatikan akibat yang ditimbulkan oleh kemungkinan penularan penyakit dengan menggunakan alat pelindung yang dianjurkan (kontrasepsi).

Berdasarkan hasil penelitian di Yogya tersebut, ada 25% responden yang melakukan hubungan seks dengan lebih dari satu pasangan serta hanya 27% dari remaja yang menggunakan alat kontrasepsi.

Dari data ini dapat dilihat cara reproduksi di kalangan remaja tidak sehat. Hubungan seks dengan berganti-ganti pasangan serta tidak digunakannya alat kontrasepsi mengakibatkan kondisi rentan tertular penyakit hubungan seksual yang berbahaya atau penyakit seperti AIDS.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh WHO saat ini di dunia tidak kurang dari 12 juta jiwa yang terinfeksi HIV. Dari jumlah tersebut 60 persen di antaranya disebabkan oleh hubungan seks dari pasangan heteroseksual. Penyebaran HIV/AIDS menunjukkan fenomena gunung es dari waktu ke waktu. Indikator waktu lipat dua jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS yang pada tahun 1991 berkisar kurang dari satu tahun, menunjukkan penyakit ini tengah menjalar dengan kecepatan tinggi.

Meningkat

Di Indonesia selama 7 tahun, kasus HIV/AIDS meningkat menjadi lebih dari 28 kali lipat atau tiap tahun naik 5 kali lipat. Berdasarkan data 1995, jika dikelompokkan pada segi usia, penyakit HIV/AIDS ini terbesar menyerang pada kelompok usia produktif 20-49 tahun (86,43%). Dari jumlah tersebut sekitar 49% dari golongan usia remaja 20-29 tahun.

Dipandang dari aspek hukum, reproduksi sehat dan bertanggung jawab dilakukan oleh seorang wanita dan seorang pria yang terikat perkawinan sesuai UU No 1/1974 tentang Perkawinan.

Hubungan seks pranikah merupakan cara reproduksi yang tidak sehat dan tidak bertanggung jawab secara hukum. Oleh karena itu hubungan seks pranikah merupakan tindakan terlarang yang harus dihindari.

Sikap permisif dari masyarakat terhadap gejala sosial menyimpang seperti tergambar dalam hasil penelitian tersebut merupakan bentuk awal penghancuran generasi. Sebagaimana dilaporkan dalam penelitian, 23 orang melakukan "kumpul kebo" tanpa ikatan perkawinan lebih dari 2 tahun. Lima orang mendapat izin orang tua, bahkan 2 orang tinggal seatap dengan orang tua.

Dipandang dari sudut agama hubungan seks tanpa nikah merupakan perbuatan dosa besar.

Sebagai akhir tulisan ini sekali lagi penulis sampaikan bahwa untuk menyelamatkan generasi muda sekarang ini memerlukan kepedulian moral dari semua pihak. Para ulama, pendidik, tokoh masyarakat, keluarga, orang tua, serta semua unsur masyarakat mempunyai tanggung jawab menyelamatkan mereka dari hilangnya sebuah generasi sesuai dengan kapasitas masing-masing.

Kita jadikan hasil penelitian tersebut sebagai terapi kejut bagi kita semua meski hasilnya memang sangat pahit dan mencoreng muka.(33)

-Ir Toto Subandriyo, anggota Jamiyah Miftahul Huda Kabupaten Tegal, dan aktif menulis masalah keluarga berencana


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA