logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 30 Agustus 2002 Karangan Khas  
Line

Agama Perlu Disekulerkan?

Oleh: H Ibnu Djarir

DALAM seminar tentang hubungan antaragama di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, beberapa waktu yang lalu (5 Juli yang lalu, SM 6/7-2002), muncul gagasan-gagasan yang antara lain mengarah pada pembenaran perlunya agama disekulerkan, sehingga membuka ruang untuk berdialog bagi siapa saja.

Bila tidak disekulerkan, maka yang sering terjadi adalah pemutlakan dan klaim-klaim kebenaran yang bisa menjadi pemicu kerusuhan. Demikian wacana yang berkembang dalam seminar tersebut.

Kita tidak boleh menganggap enteng dengan proposisi sekularisasi agama semacam itu. Sebab pada dasawarsa 70-an wacana tentang agama (Islam) dan sekularisasi telah menimbulkan polemik tajam dan berkepanjangan antara Nurcholish Madjid dengan HM Rasyidi (alm), yang kemudian diikuti oleh pendukungnya masing-masing.

Macam-macam pengertian yang diberikan pada istilah sekuler, ujung-ujungnya pasti meremehkan agama dan mengutamakan kepentingan duniawi. Jadi, bagi setiap orang beriman yang menjunjung tinggi ajaran agama, sebaiknya memilih istilah lain, dan tidak ber-vivere pericoloso dengan istilah "sekularisasi agama".

Bagi kebanyakan orang, istilah sekularisme, sekularisasi, dan sekuler, masih simpang siur pengertiannya. Di kalangan kaum intelektual saja, misalnya antara Nurcholish Madjid dan HM Rasyidi, juga terdapat perbedaan pendapat tentang pengertian yang diberikan orang pada sekularisasi mesti merupakan penerapan dari sekularisme, atau ada kaitannya dengan pola pikir sekuler.

Sedangkan menurut Nurcholish, sekularisasi tidak mesti merupakan penerapan sekularisme. Namun HM Rasyidi mengingatkan, orang-orang yang berpaham sekuler, yang menghendaki terbentuknya negara sekuler, apa yang dia katakan tentang sekularisasi agama mesti merugikan eksistensi agama sebagai way of life.

Klaim-klaim kebenaran selalu ada dalam tiap agama, sebab setiap agama mempunyai dogma, yaitu ajaran yang dipercayai kebenarannya tanpa perlu dipertanyakan lagi. Dogma dapat didefinisikan sebagai system of beliefs put forward by some authority, especially the church to be accepted as true without question" (The Advanced Learned Dictionary of Current English).

SGF Brandon menyatakan, In Christian theology it came to mean religious truth, established by divine revelation, and recognised and defined as such by church (A Dictionary of Comparative Religion).

Misalnya, konsep ketuhanan dalam agama Nasrani adalah trinity, dalam agama Islam adalah tauhid, dalam agama Hindu adalah panteisme. Kepercayaan semacam itu pasti akan selalu diklaim sebagai kebenaran oleh para pemeluknya masing-masing.

Dalam negara Republik Indonesia yang berlandaskan Pancasila, perbedaan semacam itu diberi kebebasan, karena Pancasila memberi wadah pluralisme dalam segi keyakinan, agama, adat istiadat, budaya, bahasa, suku, golongan, dan lain-lain.

Jadi klaim-klaim kebenaran agama asalkan dalam lingkungan internal pemeluknya masing-masing tak ada masalah. Yang menjadi masalah adalah jika kebenaran agama yang diyakininya itu dipaksakan kepada orang lain untuk mengakuinya. Dalam rangka mengakomodasi pluralisme konsep ketuhanan, maka sila pertama Pancasila berbunyi: Ketuhanan Yang Maha Esa.

Religi dan Duniawi

Menurut ajaran Islam, kehidupan manusia itu dapat dipilah-pilahkan menjadi dua, yaitu masalah religi (agama) dan masalah duniawi, atau masalah yang sakral dan masalah yang profan. Masalah agama misalnya masalah pengamalan salat, puasa, zakat, haji, nikah, akhlaqul karimah, dan lain-lain.

Mengenai masalah duniawi, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, "Kamu lebih tahu tentang urusan duniamu," ketika beliau membicarakan masalah pencangkokan silang pohon buah-buahan. Jadi misalnya masalah pembuatan kapal terbang, bom nuklir, komputer, internet, obat-obatan, pakaian, makanan, minuman, dan sebagainya adalah masalah duniawi.

Nabi tidak pernah membahas masalah bagaimana membuat jembatan, membangun gedung, membuat hujan buatan, dan sebagainya. Ini masalah duniawi yang bisa berkembang sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tetapi masalah duniawi juga tidak semuanya bisa lepas sepenuhnya dari masalah agama.

Misalnya membuat makanan tidak boleh menggunakan bahan baku yang diharamkan oleh agama. Membuat bom nuklir tidak boleh dimaksudkan untuk pemusnahan massal terhadap manusia yang tidak berdosa. Jual-beli tidak boleh mengenai barang yang tidak jelas wujudnya. Membuat pakaian untuk muslim harus menutup aurat.

Dalam seminar itu Abdul Munir Mulkan menyatakan: "Hubungan antarpemeluk berbeda agama atau berbeda paham keagamaan akan bisa dikembangkan lebih manusiawi, dialogis, dan konstruktif bila dibedakan dengan jelas antara yang sakral dan yang profan atau sekuler."

Dengan mencermati kalimat ini sebenarnya tidak perlu sampai pada kesimpulan "agama perlu disekulerkan", sebab yang profan atau sekuler itu bukan wilayah ajaran agama.

Jadi, yang perlu diperlakukan secara sekuler, atau yang perlu disekulerkan adalah masalah-masalah duniawi juga.

Menyekulerkan agama akan menjurus pada reduksionisme makna keagamaan dan fenomena keagamaan. Seperti pendapat di kalangan kaum orientalis yang menyatakan bahwa ibadah haji tidak lebih dari bentuk wisata agama masa lalu.

Puasa adalah kiat efisiensi dalam ekonomi rumah tangga. Zakat adalah bentuk pajak pada masyarakat zaman dahulu. Paham reduksionalisme ini membahayakan keimanan umat beragama, karena menafikan otoritas wahyu Tuhan, dan memberi kesan agama itu produk pikiran manusia masa lalu, yang tidak lepas dari pengaruh lingkungan budaya setempat dan sezaman.

Rasionalisme dan Liberalisme

Paham rasionalisme dan liberalisme mendapatkan lahan yang subur di dunia Barat. Paham tersebut sangat mengandalkan kemampuan otak manusia dan menghendaki kebebasan berpikir.

Ekses kedua paham ini bisa mereduksi makna keagamaan dari fenomena-fenomena keagamaan, menganggap enteng ajaran yang bersumber dari wahyu Tuhan dan lebih memegangi pendapat akal manusia.

Kedua paham tersebut juga mempunyai pengikutnya di kalangan kaum cerdik cendekiawan muslim di berbagai negara.

Memang benar ajaran agama-agama sebagaimana yang kita kenal sampai saat ini merupakan penafsiran manusia atas teks-teks kitab suci. Penafsiran itu masih dalam proses, sehingga belum final.

Namun dalam Islam dikenal adanya nash-nash atau dalil-dalil qath'i (yang sudah pasti maknanya), yang berarti ketentuan hukumnya sudah final. Di samping itu memang ada nash-nash atau dalil-dalil zhanni yang masih terbuka untuk penafsiran. Dalam keadaan yang demikian itulah peran akal manusia sangat diperlukan.

Nurcholish Madjid adalah seorang cendekiawan muslim yang memiliki reputasi yang baik dalam mengemukakan pembaruan pemikiran Islam.

Dia sering mengemukakan pemikiran baru yang mengejutkan masyarakat. Di antaranya dia pernah melontarkan pendapat: (1) Islam yes, partai Islam no!, (2) Sekularisasi dalam agama (Islam), (3) Islam adalah sikap kepasrahan kepada Tuhan. Jadi, siapa pun yang memiliki sikap demikian dapat disebut orang Islam, (4) Jilbab itu menutup dada, bukan untuk menutup rambut kepala.

Gagasan Nurcholish tentang sekularisasi yang muncul pada tahun 70-an, mendapat reaksi keras dari para pemuka Islam. Sebab untuk menentukan batas antara wilayah sakral (agama) dan wilayah profan (duniawi) tidak mudah.

Ajaran Islam itu meliputi segenap aspek kehidupan manusia, sehingga banyak hal yang dalam pandangan umum masuk wilayah duniawi tetapi Islam mengaturnya. Misalnya dalam masalah politik, Islam memberikan landasan tentang etika politik. Masalah jual-beli, sewa-menyewa, Islam juga mengaturnya.

Dalam upaya membina kerukunan hidup antarumat beragama tidak harus melalui "sekularisasi agama".

Menko Kesra Jusuf Kalla, pernah menyatakan, kasus-kasus kerusuhan dan kekerasan yang terjadi dalam konflik antarumat agama seperti yang terjadi di Ambon dan Poso, pada mulanya bukan karena perbedaan agama, melainkan karena masalah persaingan kepentingan ekonomi antarsuku, ditumpangi masalah persaingan kepentingan politik, kemudian membakar sentimen agama. (18)

- Drs H Ibnu Djarir, dosen Ilmu Perbandingan Agama IAIN Walisongo Semarang.


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA