
| Jumat, 30 Agustus 2002 | Budaya |
Ghufron HasyimPenyair Modis dan Wangi
TIGA malam lalu saya temui dia di kantin kantornya, Suara Merdeka. Dia sedang makan malam. Keringat membasahi dahi. Nikmat sekali! "Rezeki sekecil apa pun mesti kita syukuri," ujar dia. Saya pun segera memberondongkan pertanyaan. Ah, maaf, saya lupa memperkenalkan dia. Ya, dia Ghufron Hasyim. Besok, 31 Agustus, dia membaca puisi bersama Gunoto Saparie didampingi para model di Hotel Patra Jasa Semarang. Ini kali ketiga dia membaca puisi bersama para model. "Apa target sampean membaca puisi bersama model?" Dia berhenti mengunyah, minum air putih, dan berkata, "Memberi warna baru pada fashion show. Jadi, peragaan pakaian tak sekadar lenggak-lenggok di atas catwalk. Ada musik, tembang, puisi, dan pendramaan. Ini juga pema-syarakatan puisi ke kalangan the haves." "Bukan karena tak percaya diri tampil sendirian? Atau barangkali Anda memang sedang bergenit-genit?" Dia tertawa. "Saat saya tampil di Kudus, Mukti Sutarman Espe bilang, saya kini beda dari dulu. Dulu saya tampil seadanya, seperti seniman umumnya. Tetapi kini modis, wangi," katanya. Ya, ya, lelaki yang telah menerbitkan kumpulan puisi Lubang Tanpa Dasar (1993, 1995) dan Matahari-matahari (1999) ini kini memang lebih wangi. Menularkan Keriangan "Bukan cuma itu," imbuh dia. "Menulis dan membaca puisi serta latihan bersama Gunoto dan model membuat saya riang, fresh. Keriangan itu membuat saya lebih bersemangat bekerja di kantor. Keriangan itu juga terbawa ke rumah, menular ke anak dan istri. Mereka senang. Setiap kali saya hendak latihan, istri saya selalu mengingatkan agar saya tak terlambat datang." Oho! Betapa riang. "Ah ya, berapa anak sampean?" Dia tersenyum dan menjawab, "Empat." Mereka adalah Tafrida Tsurayya (16), M Dhani Fadly (12), Andika Surya Alim (8), dan Aditya Surya Hakim (4). Mereka buah kasih dengan Tasrifatun, gadis yang dia kenal di tangga GOR Simpanglima (sekarang Mal Ciputra) tahun 1979. Keduanya menikah 16 Maret 1986. "Anak saya juga cerdas. Melihat sang bapak riang, mereka meminta buku atau mengajak jajan di luar. Saya pun dengan senang hati meluluskan." Ghufron juga bercerita tentang masa remaja yang kaya warna. Saat sekolah menengah dia menjadi kenek, membantu ayahnya yang sopir angkutan umum. Ketika sang ayah meninggal, dia menjadi penjahit dan buruh pabrik di Batang. "Itu pengayaan batin bagi saya. Dan lewat puisi sebagai media ekspresi, cerita itu memperoleh roh, hidup." Dia bergaul erat dengan EH Kertanegara, wartawan Tempo di Pekalongan. Itu melempangkan jalan dia menjadi wartawan Masa Kini Yogyakarta. Tahun 1982 dia ditawari Bambang Sadono SY pindah ke Suara Merdeka. Di media inilah dia menjadi wartawan hingga sekarang. 2G MM Pada kesempatan berbeda saya bertanya kepada Gunoto Saparie, kenapa mau membaca puisi bersama Ghufron, padahal dia pernah menyatakan puisi Ghufron adalah "puisi tanpa estetika". Sebelum menjawab lewat HP kemresek, dia terbahak. "Jangan salah persepsi. Puisi tanpa estetika itu sebuah model penulisan puisi. Jadi, ya nggak masalah tampil bareng dia. Saya juga mau membuat album bersama dia. Kalau mau, Anda bisa gabung, jadi 3G. Ha-ha-ha!" Saya tak begitu ngeh. "Kan sekarang 2G? Gunoto-Ghufron," sambung penyair melankolis itu. "Apa bukan 2G MM? Gunoto-Ghufron multimodel..." sahut saya. Dia terbahak lagi. Dan di ujung tawa dia berpesan dengan nada canda, "Awas, jangan nulis yang jelek-jelek soal kami. Takclurit nanti!" Perbincangan singkat yang menyisakan rasa penasaran. Saya pun mengontak seorang model yang terlibat acara itu, Ni Luh Bunga Anggria Sandy. Mahasiswi USM itu bakal membaca dan menyanyikan puisi Ghufron. Gadis yang menulis puisi sejak SD itu menuturkan, berkolaborasi dengan penyair dalam pembacaan sajak merupakan pengalaman baru dan mengasyikkan. "Bener, ini pengalaman menyenangkan," ujar dia. "Datang deh. Buktikan betapa asyik penampilan kami nanti." Penyair modis dan wangi. Ah... (Gunawan Budi Susanto-75) | |||||