logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 30 Agustus 2002 Budaya  
Line

Hidup Memang Soal Pilihan

Agatha (Samantha Morton) dan John Anderton (Tom Cruise) - SM/fox

WASHINGTON DC, Amerika Serikat, 2054. Kasus pembunuhan turun drastis hingga keamanan 99,8 persen terjamin. Penyebabnya? Polisi divisi prakejahatan menangkapi para calon pembunuh.

John Anderton (Tom Cruise), kepala divisi itu, tidak hanya bekerja keras agar pembunuhan tak terjadi, tapi juga yakin metode campuran antara ramalan dan kecanggihan teknologi yang mendasari langkahnya benar-benar sempurna.

Tapi keyakinan itu goyah ketika tiga peramal bersaudara, yang dipekerjakan dengan paksa, membaca tanda bahwa John bakal menjadi pelaku pembunuhan. Kegoyahan makin menjadi karena dia tak kenal calon korbannya.

Namun pada tahun itu segalanya serba canggih. Bahkan tanda pengenal yang berlaku bukan lagi KTP, SIM, atau sidik jari melainkan bola mata. Maka begitu berniat lari, saat itu pulalah John menjadi buronan anak buahnya sendiri.

Yang menarik dan menegangkan, John sebenarnya tidak sedang lari dari kejaran polisi, tetapi justru lari menuju takdir pembunuhan yang menurut ramalan bakal dilakukannya itu. Singkat kalimat: dia ingin membuktikan bahwa dia tak akan pernah menjadi pembunuh. Tapi kalau itu terbukti, bukankah sama dengan menghancurkan seluruh teori dan metode yang mendasari kerja divisi prakejahatan?

Panorama Masa Depan

Minority Report semula "hanya" cerita pendek karya Philip K Dick. Tapi di tangan penulis skenario Jon Cohen dan Scott Frank, serta sutradara kampiun Steven Spielberg, ia berubah menjadi tontonan yang sangat dahsyat, terutama dari sisi penggambaran teknologi masa depan.

Saking dahsyatnya, dalam film ini kita tidak hanya dapat menikmati kecanggihan berbagai peranti kepolisian dalam menangkal kejahatan, tapi juga menikmati keindahan panorama masa depan.

Masa depan (minimal di Washington DC) tidak digambarkan kering kerontang seperti dalam film Mad Max atau penuh air seperti film Waterworld, namun sangat industrialistis dan glamor. Serta, sekali lagi, serba canggih.

Kita sulit membedakan mana jalan layang, jalan, tol, mana pula jalan biasa. Mobil-mobil dengan desain teramat futuristik berseliweran silang-menyilang dalam keteraturan mirip komidi putar. Meski begitu, ini komedi hitamnya, tetap ada kawasan kumuh yang menawarkan obat-obat terlarang.

Mempersoalkan Takdir

Banyak media menulis, Minority Report termasuk "film gelap" karena penuh misteri, paradoks, dan membutuhkan kecerdasan (rasanya kok lebih tepat kecepatan berpikir). Pernyataan itu tak sepenuhnya benar karena film yang juga dibintangi oleh Colin Farrell, Samantha Morton, Peter Stormare, Max Von Sydow, dan Tim Blake Nelson ini tidak gelap-gelap amat.

Sungguh, asal mau sedikit saja mengikuti irama skenario dan tak terlalu memusingkan istilah-istilah teknis, kita akan tetap bisa menangkap bahwa cerita film ini tak berbeda dari cerita detektif biasa. Ada John yang emosional karena kehilangan anaknya, ada pula atasan berhati busuk bernama Burgess (diperankan sangat baik oleh aktor Swedia, Max Fon Sydor).

Yang membedakan, film ini mempersoalkan takdir yang telah terbaca oleh peramal lewat sebuah pertanyaan kritis: apakah orang yang berniat membunuh bakal benar-benar membunuh? Tidak mungkinkah dia, karena berbagai hal dan alasan, mengurungkan atau tak berani melaksanakan niatnya?

John Anderton memang menghampiri dan menjalani segala kejadian sesuai dengan ramalan, namun ketika menodongkan pistol, dia menjatuhkan pilihan: tak akan membunuh.

Jadi, membunuh dan tidak membunuh bukanlah soal niat dan teknologi melainkan soal pengendalian diri. Setiap orang punya alasan, bahkan mungkin juga motif. Namun selalu saja ada pilihan.

Sayang, di akhir film, Steven Spielberg tak berani mengampil pilihan yang menantang: menggantung adegan. Dia lebih memilih penyelesaian khas Hollywood: membuat penonton lega dan senang. (Budi Maryono-75)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA