logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 28 Agustus 2002 Tajuk Rencana  
Line

Giran dan Syukuran Merangkak Itu....

- Inilah cara wong cilik mengungkapkan rasa syukur. Giran Hadi Sunaryo (57), Kepala SD Negeri Damarwulan 2, Kecamatan Keling, Jepara, Senin lalu merangkak sejauh 22 kilometer dari tempat tinggalnya di Desa Tempur ke Kantor Kecamatan Keling. Ia membutuhkan waktu 10 jam, dari pukul 02.30 dini hari hingga pukul 12.30 untuk merangkak di wilayah yang berbukit-bukit dan penuh tanjakan itu. Ada apa dengan Giran? Ekspresi syukur itu rupanya sudah diniatkan sebagai nazar. Guru SD itu dan 3.000 penduduk Desa Tempur menyambut dengan sukacita selesainya pembangunan jalan beraspal mulus sepanjang 6 km dan lebar 3,5 meter yang menghubungkan Tempur dengan Desa Damarwulan. Bagi mereka, jalan itu seakan-akan menjadi isyarat terbentangnya sebuah ''kehidupan baru''.

- Desa di pinggang Gunung Muria itu, selama bertahun-tahun dimitoskan sebagai simbol keterpencilan. Masyarakat Tempur sering diasosiasikan sebagai komunitas terisolasi, karena untuk mencapai daerah-daerah lain yang ''lebih maju'', mereka harus berjalan kaki. Dari arah Desa Medani di Kecamatan Cluwak, ada hambatan alam yang berbukit-bukit dan sulit di wilayah Ngrimong. Juga terhalang bentangan Kali Gelis yang berbatu-batu. Kendaraan roda dua pun butuh perjuangan berat untuk bisa mencapainya. Adapun dari arah Damarwulan yang sebenarnya hanya 6 km, kendala memadainya sarana jalan menjadi salah satu penyebab mengakses wilayah tersebut. Padahal, Desa Tempur sebenarnya bisa menjadi salah satu pintu masuk ke wilayah Kudus lewat Rahtawu.

- Dapatlah dipahami betapa gembira warga setempat. Sebagaimana yang digambarkan wartawan harian ini kemarin, mereka tak perlu bersusah payah berjalan kaki bila hendak bertransaksi ke pasar, pergi bersekolah, atau berobat ke puskesmas. Jalan beraspal yang rampung bulan lalu itu membuka banyak kemungkinan interaksi. Kendaraan bermotor kini leluasa hilir mudik membawa ke mana pun yang mereka inginkan. Dulu, ketika masyarakat mencoba bergotong-royong meningkatkan mutu jalan, betapa berat perjuangan untuk melawan alam. Lereng curam, bukit terjal, bahkan warga harus bergelantungan di akar-akar pepohonan dan tali ketika mengepras bukit. Lima belas tahun lalu, terucaplah nazar Giran Hadi Sunaryo yang Senin lalu dilaksanakan.

- Potret kebahagiaan Giran dan warga Tempur merepresentasikan respons sederhana masyarakat kita. Tak perlu muluk-muluk, karena yang sesungguhnya dibutuhkan warga masyarakat adalah ketersediaan sarana dan prasarana kehidupan. Infrastruktur yang bisa menopang dalam menjalankan tugas hidup sehari-hari, dan bagaimana mereka diberi harapan untuk menatap ke depan. Jalan beraspal dari Tempur ke Damarwulan adalah contoh keterbentangan harapan. Jika mobilitas seorang kepala sekolah seperti Giran terdukung oleh sarana lalu lintas yang memadai, ia tentu akan lebih mampu berkonsentrasi ke tugas-tugasnya. Ia juga lebih berpengharapan untuk mengembangkan diri. Begitu juga manfaat-manfaat yang dirasakan warga masyarakat lain.

- Mitos-mitos keterisolasian daerah seperti Tempur sesungguhnya adalah fakta yang menghias hiruk-pikuk kehidupan makro kita sebagai bangsa. Apakah para pemegang kekuasaan dan wakil rakyat membayangkan betapa lama daerah Tempur bisa membuka harapan untuk dapat mengakses daerah lain secara terbuka seperti sekarang? Ketika kampanye pemilihan umum berlangsung, seberapa jauh janji-janji yang disuarakan benar-benar menyentuh kebutuhan riil rakyat? Kalau bukan karena menganggap bahwa memiliki jalan beraspal adalah sesuatu yang ''mewah'', akankah seorang guru seperti Giran sampai harus melaksanakan nazar dengan berjalan merangkak sejauh 22 km? Padahal, bukankah tentu masih banyak daerah lain yang mungkin malah lebih parah dibandingkan dengan Tempur?

- Tempur bukan satu-satunya desa yang mengalami keterpencilan dalam waktu panjang. Tetapi kita berharap aksi Giran mampu merefleksikan fakta yang jauh dari kehirukpikukan kehidupan politik elite kita. Para penyelenggara pemerintahan dan wakil rakyat yang selalu memperdebatkan hak-hak atas fasilitas, pemilihan kepala daerah yang sarat nuansa politik uang, hingga anggota legislatif yang enggan mengembalikan formulir daftar kekayaan mereka. Betapa jarak seakan-akan membentang antara ''yang di Tempur'' dan yang ''di gedung legislatif''. Betapa indah retorika politik yang selalu mengatasnamakan rakyat. Semua serbahebat dan elitis. Dan, nun jauh di keterpencilan Desa Tempur, Giran mensyukuri jalan sepanjang 6 km dengan rangkakan sejauh 22 km....


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Analisis | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA