
| Rabu, 28 Agustus 2002 | Olahraga |
Al-Saadi, Kampanye Sepakbola Libia
NAMA Al-Saadi bin Muammar Gaddafi tidakkah terdengar dari antah berantah di tengah komunitas bos klub-klub sepakbola tenar Italia seperti Massimo Moratti, Gianni Agnelli, Cecchi Gori, atau Silvio Berlusconi? Tetapi percayalah, Al-Saadi bakal melaju menjadi bintang. Setidak-tidaknya dunia telah mempercaturkan dia. Dan, Liga Eropa pun kini mencatat dua bos klub bola berkebangsaan Arab: Mohammed Al-Fayed sebagai pemegang saham terbesar klub Fulham di Liga Inggris dan Al-Saadi sebagai penyetor 7,5% saham di Juventus. Ada apa dengan Libia? Bukankah sejauh ini nama Muammar Gaddafi lebih dikenal sebagai ikon Arab yang berani ndhadani (berhadapan langsung) dengan arogansi Amerika Serikat (baca: Barat) di samping simbol lain Saddam Hussein, Yasser Arafat, dan Usamah bin Ladin? Lalu mengapa Libia lewat representasi keterlibatan Al-Saadi di Juventus membuka diri untuk ''beraliansi'' dengan klub yang pantas disebut salah satu simbol Barat? Libia dikenal sebagai anak nakal, yang oleh Barat pernah dikelompokkan di jajaran pengekspor terorisme internasional. Negeri tempat legenda ''Singa Padang Pasir'' Omar Mokhtar dalam sejarah peperangan melawan fasisme Mussollini ini pernah dikucilkan PBB karena pengeboman pesawat Pan-Am yang jatuh di Lockerbie pada 1988. Korban tewas 270 orang. Barat menuding Gaddafi ada di balik teror itu. Hukuman baru dicabut pada 1999 setelah pemimpin Libia yang lebih suka tinggal di tenda-tenda itu menyerahkan dua warganya yang dicurigai sebagai pengebom untuk diadili di mahkamah internasional di Den Haag. Kengototan Gaddafi sebenarnya beralasan. Baru-baru ini muncul pengakuan dari Abu Bakar, bekas teman pemimpin Fatah-Dewan Revolusioner Abu Nidal - lawan politik Yasser Arafat - bahwa merekalah pengebom tersebut! Sistematis Al-Saadi, putra kesayangan Gaddafi yang aktif di dunia usaha dan dikenal gila bola, tentu tidak sembarangan ketika memutuskan membeli 7% saham Juventus. Pria periang ini bukan hanya gila bola. Dia bahkan menjadi pemain profesional klub Al-Ittihad di Liga Libia dan menjadi salah satu penyerang tim nasional negerinya. Kiprahnya juga pernah menjadi sorotan dunia: anak seorang pemimpin kontroversial berlatih sepakbola di Juventus? Kisah-kisah minor di seputar Al-Saadi pun beredar. Misalnya dia suka menekan pelatih nasional untuk memberi dia tempat dalam starting line up. Juga tidak ada ''kekuatan manajerial mana pun'' yang berani menggantikan kendati dia bermain buruk. Tetapi opini lain juga beredar. Kepiawaian skill Al-Saadi diakui dan dia disebut-sebut punya disiplin keras dalam latihan untuk meningkatkan permainan. Bahwa keterlibatannya dengan Juventus lebih bertaut dengan bisnis, itu diakui. Dia adalah pengusaha yang dikenal baik di Italia, khususnya karena terkait dengan Latifo, sebuah perusahaan pemerintah. Bahkan Al-Saadi juga dikabarkan tengah menyusun rencana membeli saham di sebuah klub Yunani. Lebih dari itu, perhitungan politis tentu lebih besar di balik langkah-langkah Al-Saadi. Minggu (25/8) lalu dia menggelar final Supercoppa Italia di Tripoli yang mempertemukan juara Liga Juventus melawan Parma, juara Coppa Italia yang dimenangi Juve 2-1. Kehadiran Presiden FIFA Sepp Blatter menjadi bagian dari kampanye Libia menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010 yang telah banyak disebut bakal digelar di Benua Afrika. Visi Simpatik Tuan rumah Piala Dunia 2010 bakal diperebutkan sejumlah negara Afrika seperti Afrika Selatan, Maroko, dan Nigeria yang sejak lama mengobsesikan hal itu. Kalau Libia sekarang menghadirkan diri dalam bursa pencalonan, tentu didasari sebuah visi public relations. Pertama, Libia tengah menggalang kepercayaan internasional setelah lama dikelompokkan dalam negara-negara yang menjadi basis pelatihan teroris. Bahwa kemudian Amerika tidak menyebut lagi nama Gaddafi ketika George W Bush menunjuk ''Poros Kejahatan'' - Iran, Iran, dan Korea Utara, juga merupakan perkembangan tersendiri dalam membangun opini bagi Libia. Kedua, Gaddafi sedang bekerja keras untuk melanggengkan kekuasaan ketika sejumlah kelompok ''oposan'' kini mulai berani mengkritik kebijakan-kebijakannya. Apakah dia memang butuh sokongan internasional? Atau dia sedang membangun citra lewat putranya, lewat sepakbola? Mencanangkan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010 berarti memberi pengharapan besar kepada rakyat Libia yang gila bola. Dan itu merupakan kampanye simpatik yang bakal didukung rakyat, kendati indikator-indikator perekonomian negeri itu pun harus diadaptasikan secara total. Artinya, langkah-langkah spektakuler Al-Saadi memang akan selalu menarik untuk dibaca. Bagaimana dengan kiprahnya di liga pro, bagaimana dengan keterlibatannya di sebuah klub sekaliber Juventus, bagaimana kampanyenya untuk memenangi pencalonan tuan rumah World Cup 2010, bagaimana pula langkah-langkah itu membentuk opini baru tentang Libia, dan... apakah Gaddafi mampu ''berselancar'' di atas titian yang dibentangkan sang putra untuk terus bertakhta di pucuk pimpinan negerinya. Di sela-sela itu, sepakbola untuk kali kesekian mampu menjadi makhluk universal yang tak mengutubkan manusia atau kelompok dalam sekat-sekat. Tidak ada Barat - Arab, tidak juga stigmatisasi ''teroris'' dan ''setan besar'', ''poros kejahatan'' dan ''poros humanisme''. (Amir Machmud NS-22g) | |||||