logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 28 Agustus 2002 Berita Utama  
Line

Solar Masih Langka

  • DPRD Panggil Pertamina

SEMARANG-Kelangkaan BBM jenis solar yang masih terjadi hingga kemarin, membuat sejumlah pengusaha angkutan kelabakan. Mereka terpaksa mengurangi jumlah armada yang beroperasi.

Ani Suciati (50), pengelola perusahaan otobus (PO) Coyo di Jl Siliwangi, mengakui jumlah keseluruhan armada bus di pool Siliwangi 40 unit. "Namun kami terpaksa hanya mengoperasikan 17 bus," keluhnya.

Kebijakan perusahaan otobus yang melayani trayek Semarang-Tegal-Cirebon itu terpaksa ditempuh, karena terkena imbas kelangkaan BBM jenis solar. Terutama di sepanjang jalur pantura. "Sebenarnya tidak hanya para pengusaha angkutan yang rugi, tetapi juga masyarakat pengguna jasa. Sebab, baik penumpang maupun barang yang dilayani setiap hari jumlahnya cenderung tetap."

Dia menambahkan, keuntungan yang didapat terus menurun drastis, karena armada yang dioperasikan tidak bisa maksimal. Hal itu menimbulkan kekhawatiran baru, karena tidak tertutup kemungkinan langganan tetapnya akan beralih ke perusahaan jasa angkutan lain.

Dampak langsung dari pengurangan operasional armada kendaraan penumpang itu tidak hanya dirasakan perusahaan. Namun juga berdampak pada para kru bus yang tidak beroperasi, karena mereka bekerja tidak berdasarkan gaji tetap bulanan, tetapi dengan sistem komisi.

"Para kru bus memperoleh komisi dari jumlah setoran yang diberikan ke perusahaan. Kalau mereka tidak "narik" berarti tidak mendapat bayaran," katanya.

Khawatir

Sementara itu, Andreas, Pimpinan PT Siba Surya yang mengoperasikan sekitar 600 truk besar untuk wilayah Jawa, mengatakan, tersendatnya solar sangat mengkhawatirkan para pengusaha bidang angkutan jalan raya, khususnya truk. "Padahal, jika satu hari saja terjadi kekosongan solar, akan mengganggu transportasi barang. Dan dampak negatifnya berantai," ungkapnya.

Dia mengatakan, ketepatan waktu dalam pengiriman barang sangat vital, karena menyangkut kredibilitas atau kepercayaan penggunaan jasa transportasi. Padahal, kalau hambatan itu terjadi karena sulitnya bahan bakar solar, jelas di luar kemampuan pengusaha angkutan.

"Yang lebih merepotkan lagi, barang-barang yang diangkut kebutuhan ekspor. Jika kedatangan tidak tepat waktu, bisa ditinggal kapal. Misalnya, kapal masih bisa menunggu tentu ada konsekuensi lain," jelasnya.

Untuk mengatasi sulitnya mencari solar, para pengemudi dituntut saling memberi informasi gethok tular ke rekan lain mengenai SPBU yang masih menyediakan solar. Kondisi itu sangat mengganggu dan merepotkan. Andreas berharap pihak yang berwenang dapat mengatasi persoalan itu. Karena terganggunya pengiriman barang sama saja dengan mengganggu pengiriman ke pelanggan. (ss-64t)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Analisis | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA