logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 28 Agustus 2002 Berita Utama  
Line

Ada Apa dengan Pekik (1)

Keselamatan Tak Dijamin

KEMATIAN Cisilia Puji Rahayu (19), mahasiswi baru Fakultas Peternakan Undip yang diduga stres setelah mengikuti Pengenalan Kehidupan Ilmiah Kampus (Pekik), mengagetkan berbagai kalangan. Wartawan Suara Merdeka Ali Arifin Muhlish dan Agus Toto Widyatmoko merekam pengalaman para mahasiswa saat mengikuti kegiatan tersebut. Hasilnya ditulis dalam laporan bersambung mulai hari ini.

KEKERASAN yang dilakukan mahasiswa senior terhadap mahasiswa baru yang terjadi di kalangan masyarakat kampus di Indonesia, seperti sudah membudaya. Ketika masih bernama Mapram (Masa Perpeloncoan Mahasiswa), Posma (Pekan Orientasi Mahasiswa), Ospek (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus) hingga Pekik (Pengenalan Kehidupan Ilmiah Kampus), berbagai praktik perpeloncoan yang berbau militerisme tetap tak bisa dihindari.

Dulu di UGM pernah ada senior menggojlok mahasiswa baru dengan mengisi bak dengan air yang diwadahi bekas botol minyak angin. Beberapa tahun silam, masyarakat juga pernah dibuat heboh dengan aksi perpeloncoan gaya Fakultas Kedokteran Undip. Saat itu, mahasiswa baru diwajibkan menggigit katak.

Sabtu malam (24/8) lalu, Cisilia Puji Rahayu (19), mahasiswi baru Jurusan Sosial Ekonomi Peternakan Fakultas Ilmu Peternakan Undip menjadi salah satu korban. Dia meninggal di RSUP Dokter Kariadi setelah mengikuti Pekik.

Rektor Prof Ir Eko Budihardjo memang sudah menegaskan meninggalnya Cisilia bukan pada saat mengikuti Pekik. Pembantu Dekan III Fakultas Perikanan Undip Dr Ir Yon Supriondho MS juga sudah melakukan klarifikasi di media massa. Karena kondisi kesehatannya terus menurun, sejak hari Jumat (23/8) almarhumah sudah tidak mengikuti kegiatan Pekik yang digelar panitia mahasiswa.

Menurut Yon, saat itu Cisilia ditempatkan di ruang kesehatan (diisolasi). Namun secara implisit orang tua Cisilia, Tubini (53), tetap menganggap kematian anaknya karena terlalu lelah dan tidak tahan mendengar bentakan para seniornya.

Terlepas dari semua itu, pengalaman Yuli Kristanto Nugroho (23) cukup menjadi bukti betapa ang-kernya "sarang" Pekik . Alumnus SMUN Banjarnegara ini diterima di Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Undip tahun 1997. Namun karena tidak tahan terhadap perlakuan para seniornya saat mengikuti Ospek, dia rela mengundurkan diri sebagai mahasiswa Undip.

Senior Mabuk

"Saya memang sangat berminat menjadi mahasiswa Undip. Maka saat disodorkan formulir pendaftaran mahasiswa baru melalui jalur PMDK (penelusuran, minat, bakat, dan kemampuan) saya langsung memilih Undip. Sayangnya, saya gagal." Untunglah pada seleksi penerimaan mahasiswa baru (sipenmaru), dia diterima sebagai calon mahasiswa Jurusan Teknik Mesin pada Fakultas Teknik Undip. "Saya merasakan tekanan luar biasa saat mengikuti hari pertama Ospek. Sikap senior sangat kasar. Kami semua baris dengan muka menunduk dan tidak boleh melihat apa pun yang sedang terjadi," katanya.

Saat itulah salah seorang senior memukuli mahasiswa baru satu per satu. Bahkan, ada temannya yang berada di barisan belakang, mungkin karena berbuat kesalahan, dihajar habis-habisan. Beberapa senior yang lebih muda tidak berani mengingatkan, apalagi menghentikan tindak kekerasan tersebut. Perpeloncoan ala militer itu dilakukan sejak siang hingga sore.

"Selain dipukuli, kami juga disuruh push up dan berbagai kegiatan lain yang berbau militer. Rambut kami juga dicukur dengan gaya yang tidak mungkin untuk tampil di hadapan umum. Saya tahu betul, senior yang menjadikan kami sansak hidup itu sedang mabuk. Belakangan saya ketahui, senior itu anak salah satu orang penting di Kota Semarang," katanya.

Selesai mengikuti hari pertama, Yuli menemui seniornya yang juga berasal dari Banjarnegara. Dia berusaha mencari bocoran program apa saja yang akan dilaksanakan para senior selama Ospek. "Menurut senior yang baik hati itu, salah satu program senior adalah duel antarmahasiswa baru. Jadi, kami disuruh berkelahi. Namun katanya itu belum seberapa."

Sebab, ada yang paling mengerikan. Yaitu saat kemah bakti menjelang penutupan Ospek. Jika ada mahasiswa baru yang punya ilmu kekebalan, justru akan diperlakukan secara khusus.

"Pada kegiatan kemah bakti, siang hari masih ditunggui dosen. Namun pada malam hari, mahasiswa baru sepenuhnya milik para seniornya. Sejak saat itu pula saya memutuskan mengundurkan diri. Karena saya mengalami sendiri, dosen ternyata tak bisa mengendalikan senior," tambahnya.

Sejak memutuskan mengundurkan diri sebagai mahasiswa Undip, Yuli kemudian bekerja pada sebuah perusahaan pemasaran minyak pelumas, sembari kuliah di Universitas Terbuka.

"Saya mengundurkan diri, karena tidak ada jaminan keselamatan yang diberikan dosen kepada mahasiswa baru. Saya kuliah lagi di UT yang tidak ada aksi kekerasannya." (64t)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Analisis | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA