
| Rabu, 28 Agustus 2002 | Berita Utama |
Pelaku SO 1 Maret Meninggal
YOGYAKARTA-Brigjen (Purn) Marsoedi (80), salah seorang pelaku dan saksi hidup Serangan Oemoem 1 Maret 1949 (SO 1 Maret 1949), Selasa (27/8) pukul 14.10 WIB meninggal dunia di Rumah Sakit (RS) Fatmahwati, Jakarta. Almarhum meninggal akibat penyakit stroke, telah dirawat di rumah sakit tersebut selama satu bulan lebih. Menjelang tiada, almarhum sempat tidak sadarkan diri selama 7 hari. Meski pihak rumah sakit telah berusaha, namun Tuhan menghendaki lain. Almarhum meninggalkan empat anak, yaitu Sri Kusleny, Sigit Marwoto, Endang Triwahyuni, dan Watik. Dari Jakarta jenazah almarhum akan disemayamkan di rumah duka Jalan Namburan Lor 64 Yogyakarta. Sedangkan Rabu sore sekitar pukul 14.00 WIB jenazah almarhum dimakamkan di Makam Keluarga Gabusan, Jalan Parangtritis, Kabupaten Bantul. ''Sebenarnya almarhum terserang stroke sudah cukup lama, dan ini yang kali ketiga,'' kata Saifuddin dan Basuki Widodo serta Subardi, teman seperjuangan almarhum di SO 1 Maret 1949, kepada Suara Merdeka saat melayat di rumah duka Jalan Namburan Lor 64 Yogyakarta, kemarin. Menurut salah seorang kerabat almarhum, jenazahnya akan dimakamkan di makam keluarga Gabusan, Bantul, berdekatan dengan Ranudiarjo, orang tuanya. ''Almarhum memang pernah berpesan, kalau meninggal tolong dimakamkan dekat Bapak (maksudnya Ranudiarjo-Red),'' kata Saifuddin menirukan pesan almarhum kepada salah seorang anaknya. Almarhum yang dikenal mempunyai pendirian cukup kuat dan hidup sederhana ini, banyak memiliki penghargaan dan bintang jasa pemberian negara. Sebagai pelaku dan saksi hidup SO 1 Maret 1949, almarhum merupakan orang kepercayaan almarhum Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Bahkan, ketika Yogyakarta bergejolak karena pendudukan tentara Belanda, almarhum merupakan kurir Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan para pejuang yang ada di luar keraton pimpinan Panglima Besar Jenderal TNI Soedirman. Sehingga wajar bila almarhum sangat tahu persis, siapa sebenarnya penggagas dan arsitek SO 1 Maret 1949. Di kalangan teman-teman seperjuangan, almarhum sangat disegani, selain tutur katanya enak didengar, juga dikenal sangat sederhana. ''Saudara kami hanya tinggal beberapa orang saja, karena hampir semua saksi sejarah dan pelaku SO 1 Maret 1949 sudah meninggal,'' kata Basuki Widodo yang saat SO 1 Maret 1949 sebagai Komandan Hantu Maut yang bertugas di perempatan Gading. Ketika Soeharto masih berkuasa, hidup almarhum sama sekali tidak diperhitungkan. Apalagi mendapat gaji atau pensiun dari negara, karena hampir semua teman-teman dekat almarhum seluruhnya tidak pernah mendapat gaji, apalagi mendapat pensiun dari negara. (sgt-64t) | |||||