
| Rabu, 28 Agustus 2002 | Berita Utama |
Poltabes Usut Kematian Cisilia
SEMARANG-Poltabes akan memproses kasus kematian Cisilia Puji Rahayu (19), mahasiswi Fakultas Peternakan Undip. Dia diduga meninggal akibat stres setelah mengikuti Pengenalan Kegiatan Ilmiah Kampus (Pekik). Semua pihak, termasuk petugas Rumah Sakit Dokter Kariadi, yang terkait dengan kasus tersebut akan dipanggil untuk dimintai keterangan. "Kalau orang mati dan matinya tidak wajar, apa tidak mungkin kita menyelidiki? Wajar kan?" kata Kapoltabes Kombes Pol Drs Noer Ali di sela-sela peresmian renovasi lantai VIII Gedung Moh Ikhsan Setda Kota Semarang, kemarin. Menurut Kasatserse Komisaris Drs Jafriedi, Poltabes akan menurunkan tim khusus yang diambil dari anggota Unit Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras) untuk menangani kasus tersebut. "Hari ini (kemarin-Red) tim diharapkan sudah mulai bekerja," tandasnya. Dia menambahkan, pengusutan dilakukan untuk mencari kepastian hukum atas kematian warga Jalan Srinindito VI RT 9 RW 1 Ngemplak Simongan, Semarang Barat, tersebut. Hal itu dilakukan agar masyarakat tidak bertanya-tanya lagi. "Semua yang terkait dengan kejadiannya, termasuk orang tua, akan kami panggil untuk dimintai keterangan," kata Jafriedi. Namun Tubini (53), orang tua korban, menyatakan pihaknya sebenarnya tidak ingin kasus yang menimpa anaknya sampai ke polisi. Sebab, bila ditangani polisi, dia khawatir pengusutan nanti akan disertai dengan membongkar makam anaknya. "Bila itu yang terjadi, saya tidak rela," kata dia. Kendati tidak ingin ada polisi ikut campur, Tubini tetap meminta pihak Undip menjelaskan kronologi kejadian yang menimpa anaknya. Dia menginginkan data secara tertulis untuk dasar melangkah selanjutnya. "Sampai hari ini (kemarin-Red) saya belum menerima data lengkap," katanya. Sampai siang kemarin masih banyak orang datang ke rumah korban untuk menyampaikan belasungkawa, termasuk guru-guru SMU Negeri 1 dan seorang teman dekat Puji Rahayu, Andik (18).
Janji Rektor Rektor Undip Prof Ir Eko Budihardjo MSc juga menyatakan belasungkawa dan prihatin atas musibah yang menimpa Puji Rahayu. Dia berharap kasus kematian mahasiswi baru itu bisa menjadi cermin bagi seluruh warga kampus. "Kita lihat sisi positifnya. Apa pun alasannya, yang namanya tindak kekerasan banyak mudlarat-nya. Saya berjanji pelaksanaan Pekik tahun-tahun mendatang tidak akan ada lagi aksi kekerasan," tegasnya. Dia menambahkan, sungguh pun pelaksanaan Pekik sudah diserahkan pada setiap fakultas, tetapi sebagai rektor dia tetap bertanggung jawab. Hari ini (Rabu, 28/8) dia akan bersilaturahmi dengan orang tua dan keluarga almarhumah. "Ini suatu musibah bagi keluarga yang ditinggalkan maupun keluarga besar Undip. Meski almarhumah meninggal paska pelaksanaan Pekik." Jajaran Fakultas Peternakan Undip kemarin menggelar jumpa pers di kampus Tembalang. Namun tidak satu pun mahasiswa yang menjadi panitia kemahasiswaan hadir dalam acara itu. "Kami siap menghadapi tuntutan hukum atas kejadian ini. Siapa yang bersalah harus mendapat sanksi. Kalau dekan yang bersalah harus menerima hukuman. Demikian pula bila mahasiswa yang bersalah," kata Dekan Fakultas Peternakan Ir Bambang Srigandono MSc didampingi Pembantu Dekan III Yon Supriondho, saat menjawab pertanyaan mengenai kemungkinan keluarga Puji Rahayu menuntut secara hukum.
Namun dalam jumpa pers itu pihak fakultas lebih banyak memaparkan kronologis kegiatan Pekik yang berlangsung Selasa dan Rabu (20-21 Agustus). Pekik hari pertama berlangsung pukul 07.30-16.45 dan hari kedua 07.30-14.00 yang digelar oleh dekanat. Sehari berikutnya diisi kegiatan Toefl, pukul 09.00-12.00. "Setelah kegiatan itu, Pekik berakhir. Acara yang digelar Jumat (23/8) dan Sabtu (24/8) merupakan kegiatan kemahasiswaan diketahui pembantu dekan tiga." Mengapa Puji Rahayu sampai di rumah pukul 22.00? Dia menerangkan, jadwal kegiatan hanya sampai pukul 17.00 WIB. Dia menyangkal pula kegiatan kemahasiswaan itu berbau kekerasan. Sebab, kendati acara digelar mahasiswa senior, tetapi diisi ceramah dari dosen. Mengenai kemungkinan Cisilia takut terhadap mahasiswa senior jika tidak ikut kegiatan, ternyata tidak diperoleh jawaban pasti. Dekanat mengakui adanya keterlambatan memberikan kronologis secara tertulis. Fakultas itu hanya menjelaskan rentetan peristiwa secara lisan kepada keluarga Puji Rahayu.
Setelah mendengar kabar duka, pihak universitas segera menjenguk ke rumah keluarga mahasiswa baru itu. "Besok (hari ini-Red) kronologis sudah siap. Dan tim penyelidik kami akan terbentuk untuk mengetahui proses kejadian tersebut," janji Bambang. (D7,D6,G7,G1-64t) Kronologis KejadianSenin, 19 Agustus: Upacara pembukaan penerimaan diikuti 7.975 mahasiswa baru Undip di Stadion Tembalang pukul 08.00-10.00. Selasa, 20 Agustus: Pengenalan Kegiatan Ilmiah Kampus (Pekik) oleh dekanat pukul 07.30-16.45 hari pertama. Rabu, 21 Agustus: Pekik hari kedua pukul 07.30-14.00. Kamis, 22 Agustus: Panitia menggelar Toefl (Senin-Kamis ini Cisilia Puji Rahayu masih ikut). Jumat 23 Agustus: Kegiatan kemahasiswaan. Kesehatan Cisilia Puji Rahayu menurun drastis. Sejak dari pintu gerbang diangkut mobil menuju ruang kesehatan di kompleks Fakultas Peternakan. Setiba di rumah mengeluh kecapaian. Setiap hari berangkat pukul 04.00 pulang pukul 22.00. Sabtu, 24 Agustus:
- Puji Rahayu tidak ikut kegiatan lagi, harus dirawat di ruang kesehatan. - Pukul 13.00 dilarikan ke Rumah Sakit Dokter Kariadi. Pukul 16.30 diantar pulang oleh empat mahasiswa dan mahasiswi seniornya. - Pukul 20.00 kesehatan menurun drastis, dimasukkan ke RS Dokter Kariadi lagi. Setengah jam kemudian baru disarankan mondok oleh petugas. - Masuk Ruang Psikiatri Nomor 8e, segera disuntik. Puji Rahayu terus mengigau. - Pukul 23.00 petugas RS gantian piket, orang tua diminta keluar dari Ruang Psikiatri. Pukul 23.30 orang tua Puji Rahayu kaget melihat anaknya terjatuh dari tempat tidur. Bibir pasien berdarah, lalu disuntik di tangan dan diikat. - Pukul 23.45 Puji Rahayu meninggal dunia Minggu, 25 Agustus: Jenazah Puji Rahayu dimakamkan di TPU Jatiwayang, Ngemplak, Simongan. (G1,D7-64t) ) Data dari berbagai sumber | |||||