logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 28 Agustus 2002 Ekonomi  
Line

Investasi Agrobisnis Dikhawatirkan Anjlok

SEMARANG-Kalangan pengusaha agrobisnis khawatir iklim investasi di sektor itu tak lagi diminati masyarakat. Hal itu berkait dengan penutupan perusahaan agrobisnis PT Qurnia Subur Alam Raya (QSAR) yang bermasalah dengan para pemilik modal.

''Memang saat ini belum ada investor kami yang lari. Tetapi dalam jangka panjang kejadian itu akan berdampak terhadap iklim investasi lebih lanjut,'' kata Presiden Direktur PT Larasindo Jaya Agritama, Adam Rustam, kemarin. PT Larasindo merupakan perusahaan agrobisnis berskala nasional.

Dia menuturkan dalam bisnis investasi kepercayaan memegang peranan penting. Karena itu kemunculan kasus itu membuat kepercayaan investor akan terpengaruh. Mereka akan berpikir ulang untuk menanamkan dana ke sektor tersebut. ''Padahal, untuk membangun kepercayaan membutuhkan waktu lama.''

Dia juga mengkhawatirkan sikap pemerintah terhadap perusahaan sejenis. Sebab, setelah terjadi kasus itu dia memastikan pemerintah akan mengambil langkah tegas. Namun dia berharap pemerintah tidak pukul rata dalam menilai perusahaan investasi agrobisnis.

''Banyak perusahaan lain menjalankan usaha secara benar. Karena itu hendaknya masalah ini dapat dijadikan pertimbangan.''

Dia menuturkan dalam kondisi perekonomian seperti sekarang sebenarnya industri agrobisnis dapat mendukung pergerakan sektor riil. Dia menggambarkan, PT Larasindo dapat merangkul sedikitnya 6.000 petani dari berbagai daerah yang menjadi lahan produksinya. Salah satu lahan produksi berada di Desa Sumbang, Banyumas.

''Industri ini sarat tenaga kerja, sehingga jika sampai terhenti akan banyak masyarakat dirugikan, khususnya petani,'' tandas Adam.

Dia mengemukakan investor di perusahaannya sekitar 1.200 orang. Sejauh ini belum ada di antara mereka yang menarik dananya. Namun dia berencana mengadakan pertemuan dengan investor untuk memberikan penjelasan mengenai kondisi perusahaan.

Dia mengingatkan investasi di bidang agrobisnis perlu memperhatikan kepemilikan lahan; milik sendiri atau kontrak. Juga apakah nilai investasi sebanding dengan lahan dan jenis produk.

''Karena itu sebelum investor memutuskan menanamkan modal, kami mengajak mereka melihat lokasi lebih dulu,'' kata dia. (G2-69g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Analisis | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA