logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 28 Agustus 2002 Jawa Tengah - Kedu & DIY  
Line

Bendung Kali Mongo Mulai Diperbaiki

BATU PERTAMA: Bupati H Marsaid MSi tengah meletakkan batu pertama menandai perbaikan Bendung Kali Mongo, Desa Brenggong, Purworejo. Dengan diperbaikinya bendung tersebut diharapkan mampu mengairi sawah seluas 599 ha. (Foto:Suara Merdeka/yon-56)

PURWOREJO - Setelah lama tidak bisa dipergunakan karena rusak, Bendung Kali Mongo, Desa Brenggong, Purworejo, diperbaiki. Bupati H Marsaid SH MSi melakukan peletakan batu pertama menandai dimulainya perbaikan, Selasa kemarin.

Perhatian Pemkab terhadap perbaikan bendung di Desa Brenggong itu karena terlihat adanya niat warga untuk berswadaya. Sebagai gambaran, bendung yang dibangun tahun 1987 oleh LKMD setempat. Untuk perbaikan itu, ratusan petani dari Desa Brenggong, Cangkrep Lor, Cangkrep Kidul, Ganggeng, dan Semawung sudah menyediakan pasir, batu, dan tenaga untuk bekerja secara gotong royong.

Bupati mengatakan, bendung tersebut kelak akan mengairi 599 ha sawah di daerah irigasi Kalisemo. Dia menyambut baik karena usaha perbaikannya dikerjakan beberapa perkumpulan petani pemakai air (P3A) daerah irigasi Kalisemo bersama masyarakat. Melihat adanya tekad baik dari P3A gabungan, dia menyatakan akan dijadikan pilot proyek pembinaan P3A yang mengarah pada kemandirian.

Kepala Dinas Pengairan Ir Harijadi mengatakan, nilai proyek tersebut mencapai Rp 50 juta. Pemkab membantu 200 sak semen sambil melihat perkembangan apa saja yang dibutuhkan. Termasuk membantu pintu air.

Dia menambahkan, saat ini ada 57 buah P3A. Namun diakui meski keberadaannya sudah sejak sepuluh tahun lalu, tetapi wadah tersebut pasif. Oleh karenanya dia bertekad menghidupkan peran P3A.

"Nantinya P3A tidak hanya mengurus air dan sawah tetapi juga perekonomian secara luas," katanya.

Dijelaskan, irigasi Purworejo kalau berfungsi normal mampu mengaliri areal sawah seluas 27.800 ha. Namun pada musim tanam (MT) 2 di seputar bulan ini hanya mampu menyuplai kebutuhan sebanyak 60 persennya. Hal itu, kata Ir Harijadi, selain karena sumber airnya menipis juga akibat rusaknya sarana prasarana.

Kini sedang dihitung akibat kerusakan sarana prasarana pengairan itu seberapa besar penurunan debit air irigasi di kota itu. Direncanakan mulai tahun depan semua kerusakaan saluran irigasi akan diperbaiki. Sehingga pada lima tahun mendatang irigasi mampu mengaliri 80 persen dari total areal persawahan.

Dia berikan gambaran, kalau pengairannya baik hasil padinya bisa mencapai 10 ton/ha tetapi kalau airnya digilir hanya bisa mencapai hasil panen 7 ton/ha. (yon-56)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Analisis | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA