
| Rabu, 28 Agustus 2002 | Jawa Tengah - Kedu & DIY |
Masalah Pertembakauan Tak Pernah SelesaiTEMANGGUNG - Wakil Ketua Komisi B DPRD Jateng, Drs HA Farid MBA, menengarai sudah puluhan tahun masalah pertembakauan yang muncul setiap panen tak pernah terselesaikan. Tetapi pemimpin Perwakilan PR Gudang Garam Temanggung, Hartanto, mengemukakan daya beli pabrikan turun akibat cukai rokok yang ditetapkan pemerintah tinggi. "Ini perlu pemikiran serius dan cepat. Mau tak mau harus melibatkan banyak pihak. Tentu dengan harapan, tahun depan berbagai persoalan berkurang dan petani bisa kembali meraih kejayaan seperti masa silam," kata dia, saat meninjau pembelian tembakau di Perwakilan PR Gudang Garam Temanggung, kemarin. Rombongan Komisi B yang dipimpin Drs HA Farid itu datang sebagai tindak lanjut atas pengaduan Paguyuban Petani dan Pedagang Kecil Tembakau (P3KT), beberapa waktu lalu. Mereka berdialog dengan sejumlah petani, disaksikan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Jateng Ir Nasarrudin. Cukai Rokok Tinggi Farid mengemukakan masalah itu muncul akibat perbedaan persepsi antara petani sebagai produsen dan pabrikan sebagai konsumen tembakau. Akibatnya, petani menjadi pihak yang lemah selalu mengaku kurang diuntungkan. Permasalahan selalu menumpuk setiap tahun, tanpa ada pemecahan berarti. Alternatifnya, harus sering diadakan dialog dan hasilnya ditindaklanjuti sebaik-baiknya. Setiap pihak harus menyadari peran masing-masing dan menjalani konsekuensi secara sungguh-sungguh. Saya kira hal ini bisa dijadikan awal pemecahan, kata dia. Hartanto mengemukakan penetapan cukai rokok sangat tinggi saat ini membuat harga rokok naik tajam. Akibatnya, daya beli masyarakat turun sehingga mengurangi omzet penjualan sampai 30%. Karena omzet turun, pasti produksi pun diturunkan. Otomatis bahan baku seperti tembakau dan cengkih menumpuk, sehingga pembelian tembakau dari petani dikurangi, katanya. Tahun-tahun sebelumnya pembelian tembakau yang dilakukan PR Gudang Garam selalu di atas 12.500 ton. Tetapi pada panen tahun ini turun menjadi 7.500 ton akibat penurunan produksi rokok. Para petani menyatakan tahun ini rugi cukup besar. Sebab, harga beli pabrikan tak sesuai dengan biaya produksi. (nt-56g) |