
| Rabu, 28 Agustus 2002 | Jawa Tengah - Kedu & DIY |
Kekeringan di Gunungkidul Mencapai 10 Kecamatan
GUNUNGKIDUL - Bencana kekeringan di Kabupaten Gunungkidul meluas. Kalau tahun sebelumnya hanya terjadi di empat kecamatan, kali ini meluas sampai sepuluh kecamatan . Banyak pepohonan kering dan mati akibat kekurangan air. Bahkan kekeringan yang melanda di kabupaten tersebut sudah memasuki sebagian wilayah kota Wonosari. Biasanya kekeringan terjadi di empat kecamatan, yakni Panggang, Paliyan, Rongkop, dan Semanu. Namun, tahun ini meluas sampai ke enam kecamatan lainnya, yakni Kecamatan Saptosari, Purwosari, Tepus, Girisuko, Tanjungsari, dan sebagian Wonosari. Bencana kekeringan ini terjadi akibat kemarau panjang yang cukup lama. Hampir separo wilayah kabupaten mengalami kekeringan yang cukup memprihatinkan. Tetapi anehnya mengenai pangan, warga mengaku tidak ada masalah. Bagi warga Gunungkidul dalam musim kering seperti sekarang, yang menjadi permasalahan utama justru air bersih. Karena sungai ataupun sendang di daerah pegunungan itu tidak ada airnya. Untuk keperluan menanak nasi atau memasak, masyarakat Gunungkidul terpaksa membeli air atau mencari air ke bak penampungan air yang berjarak lebih dari 5 km dari rumah mereka. Untuk mengatasi kesulitan air, Selasa kemarin PT Bank Mandiri memberikan bantuan air bersih dan uang tunai Rp 20 juta kepada 10 kecamatan yang terdiri atas 75 desa dan 700 dusun, yang dihuni 40.000 kepala keluarga (KK). Bantuan diserahkan Kepala Wilayah VII Jateng dan DIY PT Bank Mandiri Prianto Tirtodiprodjo dan diterima Bupati Drs KRT Hardjo Hadinegoro di Kantor Pemda. Tiga tangki air bersih tersebut langsung didistribusikan ke Dusun Pacing Lor, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu dengan disaksikan Kepala Desa Pacarejo Sarjiyo. Ratusan warga desa langsung menyambut dengan antusias, sambil membawa ember dan drum air. Tidak Ada Air Menurut Ny Sukiyem warga dusun Pacing Lor, pada musim kering seperti sekarang ini warga desanya kesulitan air bersih. Sebab, sumur, sungai ataupun sendang kering tidak ada airnya. Apabila tidak ada bantuan air, ia bersama warga yang lainnya dengan cara patungan terpaksa membeli satu tangki air yang berisi 3.000 liter dengan harga Rp 125.000 sampai Rp 140.000. Itu pun terpaksa berebut, kata Ny Sukiyem sambil menunggu giliran embernya diisi air. Menurut Bupati KRT Hardjo Hadinegoro, pada musim kering seperti sekarang yang dibutuhkan warga air bersih, bukan hujan buatan. Namun, meski sebagian warganya dilanda kekeringan, mengenai pangan tidak ada masalah. Untuk itu Bupati mengharapkan tidak perlu hujan buatan yang dananya mencapai Rp 10 miliar. Lebih baik dana tersebut dibelikan truk tangki untuk menyuplai air bersih yang dibutuhkan warga. Sebab, tambah Bupati, dengan hujan buatan justru akan merusak tanaman yang siap panen. Sebenarnya yang dibutuhkan warga bukan air untuk pertanian, melainkan air bersih, katanya menjelaskan. (sgt-56k) | |||||