
| Rabu, 28 Agustus 2002 | Jawa Tengah - Muria |
Semua Jalan Desa Prigi Sudah Beraspal
DI perkotaan, jalan atau lorong beraspal sudah bukan hal istimewa. Sebaliknya di desa yang tergolong pedalaman, jalan atau lorong beraspal barangkali cukup mengherankan. Tapi itu benar-benar ada di Desa Prigi, Kecamatan Todanan. Melihat kondisi jalan di semua lorong di desa yang sebagian besar warganya sebagai petani itu sempat mereka-reka apakah tingkat kesejahteraan warga sudah sedemikian mapan, sehingga mampu berswadya untuk membuat jalan aspal? "Semua dana untuk pembangunan jalan itu murni celengan warga yang setiap bulan mendapat dana partisipasi dari seorang pengusaha sarang burung asal Grobogan yang mempunyai rumah burung walet di desa kami. Memang tahun ini Desa Prigi mendapat dana P2SE Rp 110 juta. Hanya, dana itu untuk membangun jalan poros desa," ujar Basuki, warga desa itu. Kata Basuki, yang tahu persis soal dana pembangunan jalan adalah Ketua Panitia Siswanto SPd. Setahun lalu, jalan di desa yang dipimpin Kades Ny Untari itu, baik jalan poros maupun gang, hanya berupa jalan makadam. Batu-batu yang banyak terdapat di sekitar desa ditata begitu saja. Saat ini semua lorong yang panjangnya 4 km dengan lebar 2,5 meter sudah beraspal. Konon, pembangunan itu menghabiskan sekitar Rp 100 juta. Tidak kecil bagi warga pedesaan. Siswanto SPd, ketua panitia pembangunan jalan menjelaskan, biaya untuk membangun jalan lorong di desanya memang celengan warga. Setiap bulan ada bantuan dari pengusaha rumah walet asal Grobogan yang mempunyai usaha rumah walet di Desa Prigi. "Setiap bulan warga Prigi mendapat jatah Rp 2,5 juta dari pengusaha Dewantoro Wijaya. Sebagai imbal balik, warga diminta ikut menjaga keamanan rumah waletnya," jelasnya. Tidak ada dana swadaya dari warga. Bahkan kalau ada warga yang ikut bekerja, tetap dihitung sebagai pekerja dan mendapatkan upah. Dengan dukungan 50 drum aspal dari Pemkab, akhirnya impian masyarakat Prigi terwujud. Sulit dibayangkan, di Blora saat ini banyak pengusaha walet. Mungkin jumlahnya ratusan. Jika para pemilik rumah walet itu mau peduli pada lingkungan di sekitarnya, pembangunan bisa lancar. (Urip Daryanto-17c) | |||||