logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 24 Agustus 2002 Karangan Khas  
Line

Pidato Kebudayaan 60 Th Darmanto Jatman (1)

Jawa di Tengah Arus Perubahan Zaman

SETELAH mengalami tekanan politik PKI yang memaksakan kesenian satu warna di masa Orla, masa awal modernisasi yang dipenuhi keraguan akan mentalitas bangsa yang menurut Kuntjaraningrat tidak berorientasi ke masa depan, meremehkan mutu, tidak berdisiplin, bahkan tidak hemat dan feodal, kita pun sampai pada masa keemasan pembangunan circa 1980 an.

Pada waktu itu muncul harapan lahirnya manusia baru Indonesia yang bermental renesans. Yakni manusia yang rasional, bebas, mandiri dan kreatif. Di awal tahun 80 an ini, dalam acara poetry reading di Rotterdam, Hamburg kemudian Adelaide, Perth, saya memosisikan sebagai semar.

Orang memang sedang berharap terjadinya proses renesans Jawa kedua setelah sebelumnya dianggap telah terjadi di masa para pujangga Yosodipuro, Ronggowarsito.

Saya menaikkan (wayang kulit) semar dan narada di tembok kamar depan rumah. Bathara ismaya yang mahatinggi itu bersedia jadi danyang tanah Jawa, jadi pamomongnya orang-orang Jawa, jadi lurah.

Sementara narada itu manusia biasa yang gentur tapanya sehingga jadi bathara. Saya menuliskan sajak-sajak semacam Isteri, Anak, Rumah. Saya benar-benar mau nyamar ketika pimpinan negara kita, Pak Harto, masih bersedia menerima wacana-wacana orang lain. Tetapi ketika dia sendiri jadi semar, saya bingung.

Lalu posisi apa yang pas untuk saya? Mungkin gareng, petruk, bagong yang suka jagongan dan dipasang sebagai lukisan kaca dijual di Studio Mendut punya Tanto dengan tulisan: "Melik nggendhong lali atau ojo dumeh atau sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti."

Reformasi pun tiba. Saya memang ambil posisi sebagai alternatif dari kekuasaan negara yang hegemonik waktu itu. Saya menulis dan membacakan sajak-sajak seperti: "Apa tidak bosan kamu sampek tuek jadi presiden?" Saya sama sekali bukan pemberani. Toh sajak-sajak itu saya bacakan di TBRS sehari sebelum Pak Harto lengser.

Saya memimpikan satu masyarakat yang adil makmur demokratis. Satu masyarakat civil society yang teguh ayu luput ing baya. Pada masa itulah saya menulis sajak-sajak panjang sebagai pidato-pidato perdamaian. Maklum negeri kita jadi penuh konflik ketika pemerintahan horeg, bumi gonjang-ganjing, langit kelap-kelap katon lir kinoanging aris.

Lalu dari sanalah muncul DPR/DPRD sebagai perwujudan pengembalian kedaulatan ke tangan rakyat. Pelan-pelan tapi pasti legislatif yang merasa memperoleh legitimasi langsung dari rakyat -padahal vox populi vox doi- langsung triwikromo. Bukan eksekutif, legislatif lah yang mengejawantahkan kekuasaan rakyat.

Jadi adalah hak bila mereka memperoleh berbagai fasilitas sebagai atribut bagi kekuasaan mereka. Peristiwa yang dibilang euforia legislatif ini membuat saya jadi kecipuhan. Ewuh aya ing pambudi, ujar Raden Ngabehi Ronggowarsito; terkena sindrom serba salah, istilah dari Prof Dr Satjipto Rahardjo.

Dalam bingung saya ndhodhok. Dalam ndhodhok saya memegang tanah. Dalam memegang tanah saya sesambat maring Gusti Allah. Saya memutuskan mengambil peran bilung karena yang saya mong adalah para kaurawa.

Tidak berbeda dari semar, sesungguhnya tugas bilung dan Togog adalah momong bendaranya. Cuma sudah garisnya, bilung mengabdi pada para satria raksasa seperti Burisrawa.

Ketika Burisrawa jatuh cinta pada subadra dan Burisrawa tidak bisa diingatkan, bilung malah mendorong Burisrawa untuk juga memperistri Srikandi. "Mosok satria gung binathara, sekti mandraguna, istrinya cuma sebanyak istri arjuna.

Salip dong salip." Sampai Burisrawa benar-benar lupa diri dan dilibas gatotkaca dan antaroja. Bilung mempersiapkan para bendaranya yang sewenang-wenang agar segera memperoleh hukumannya.

Perubahan Zaman

Pada awalnya modernisasi adalah langkah awal yang bukan hanya terkontrol dengan baik, tapi juga diharapkan mampu membebaskan bangsa dari sindrom kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Itulah amanah, pesan moral, bahkan noblese oblige bagi satria pengembating praja. Modernisasi adalah cara kita untuk ngeli tapi tidak keli dalam arus besar kemajuan bangsa-bangsa di dunia dengan ujung tombak ilmu dan teknologi, industri dan bisnis serta pasar bebas)tentu saja. Tetapi kemudian mulailah nampak gejala, pelan tapi pasti, not with a bang but a whimper, bahwa kapal besar kita ternyata hanya rakit dan arus perubahan dunia bukan sekadar sungai tenang tempat Joko Tingkir main gethek, tapi kali banjir. Kita tidak bisa lagi mengendalikan rakit. Bukan menendang bola yang kita lakukan tapi mengejar-ngejar bola. Masyaallah!

Tidak sedikit orang mencoba memperingatkan akan jalannya modernisasi jangan sampai kita jadi orang asing di negeri sendiri. Terlambat. Dengan cepat Indonesia melakukan transformasi budaya seperti yang saya tulis dalam sajak saya Patriotisme Kromo setelah mengunjungi beberapa negeri Naga Asia. Kita mulai tidak lagi dikategorikan sebagai negara miskin tapi deep within my heart saya khawatir, cemas akan kemampuan kita mengarungi krisis ekonomi dunia. Gimana? Bilung pun sudah mulai bermain dalam batin saya. Saya menganjurkan Indonesia jadi perusahaan saja, 1993 di Taipei. Sajak itulah yang tahun 2002 ini ditetapkan oleh Pusat Bahasa memperoleh penghargaan penulisan Asia Tenggara.

Dalam psikologi, barangkali semar, gareng, petruk, bagong adalah alterago bangsa seperti juga togog dan bilung. Bila Sigmund Freud memilahkan kepribadian manusia dalam tiga pilihan utama, superego, ego dan id (kemudian Eric Borne memperjelasnya dengan tiga ego state: orang tua, dewasa dan anak-anak. Maka semar mewakili superego bangsa (Jawa), sementara bilung idnya. Dalam menghadapi perubahan zaman yang cepat dan kuat, manusia bisa pontang-panting, bingung, cemas, depresi atau malahan melakukan agresi. Di sinilah semar berperan. Kegagalan semar akan mengakibatkan terjadinya konflik terbuka. Bilung punya kesempatan untuk berperan. Kita tahu, salah satu teori konflik yang paling laku adalah teori frustrasi-agresi, terutama bila ada provokasi. Provokasi itulah posisi bilung. Sementara semar pada posisi mediasi - rekonsiliasi. Percayalah, pada akhir zaman edan, semar akan muncul kembali dengan guyonannya yang padat humor sehat.

Dalam pakem pewayangan Jawa, konflik adalah bagian dramaturginya. Wayang yang semula merupakan metafora kehidupan, ternyata sering menjadi wacana dominan yang justru punya kemampuan membentuk kehidupan sesuai dengan garis hidup wayang. Rekonsiliasi, menurut orang Jawa, tidak mungkin terjadi tanpa melalui "gara-gara" lebih dulu. Masalahnya sekarang di tahun 2002 ini, sudahkah gara-gara ini berlalu?

Memandang kehidupan sebagai tamsil wayang tidak selalu keliru, apalagi pada masa pemerintahan Orde Baru. Tidaklah berlebihan bila banyak Indonesianis menyebut masa itu sebagai masa Orde Wayang. Analisis sosial politik dengan menganalisis dramaturgi wayang bisa persis, termasuk tentu saja ungkapan Pak Harto lengser keprabon madeg pandhita. Kenapa? Karena penataan negara Indonesia pada waktu itu memang mempergunakan tamsil wayang purwa. Kok bisa ? Karena masyarakat Indonesia umumnya, Jawa khususnya masih belum beranjak dari masyarakat agraris lengkap dengan pranata mangsa serta slametan, sarasehan lan liya-liyane itu. Tidaklah berlebihan bila beberapa Indonesianis memotret kepribadian bangsa kita setelah 25 tahun pembangunan mentalitasnya tak terlalu berbeda dari ketika kita mulai dengan gerakan modernisasi. Orang-orang Indonesia belum berorientasi ke masa depan, belum menghargai mutu, masih bermental nrabas, tidak berdisiplin, tidak hemat, munafik, penuh takhyul. Hwarakadah! Jadi apa hasil modernisasi itu ? Ya pada lessen learned nya. Pada pengalaman membangun itu sendiri. Sesuatu yang baru bermakna apabila orang Indonesia bisa mengalami pencerahan budi dari pengalamannya ini.

Kaji Kembali

Marilah kita kaji kembali berbagai wacana yang tumbuh semasa ini. Orde wayang yang legitimasinya bersifat kosmis magis mistis memang cenderung otoriatrian karena mengatasnamakan Yang Illahi, seperti gelar yang disandang oleh Sultan Agung king Mataram, Sultan Agung Hanyokrokusuma Ing Ngalaya Sayidin Panatagama Kaligaullah Ing Tanah Jawa. Kalifatullah di sini diselaraskan dengan pemegang Jimat Kalimasada, Sang Bathara Katon yang berasal dari tradisi Hindhu Jawa agraris. Legitimasi model ini sudah diawali sejak 1945, ketika Bung Karno yang melukiskan dirinya sebagai putra Sang Fajar memproklamasikan Republik Indonesia, serta kemudian Pak Harto bagai satria piningit memasuki istana. Wacana demokrasi pun ditampung, disinkresikan dengan simbol-simbol, yakni semar itu. Inilah jawaban Pak Harto terhadap tuntutan; democracy now! Antara realitas sosial historis dengan realitas magis kosmis jumbuh. Bagi saya ini menunjukkan bahwa memang sudah ada arus besar yang dimulai oleh Pak Harto sendiri yang tak bisa lagi dikendalikan, yakni modernisasi. Justru karena model berpikir ala wayang yang tidak lagi mampu untuk mengelola perubahan dari budaya agraris ke budaya industrial bahkan postindustrialism di akhir milenium yang lalu. Akibatnya ketika dunia mengalami krisis ekonomi-finansial, Orde Wayang pun gagal mengatasinya.

Seseorang bertanya kepada saya, "Kalau Pak Harto berhasil bertahan, apakah itu bisa dijadikan bukti Orde Wayang itu kontekstual?"

Saya jawab, "Tidak." Kalau Orde Wayang berhasil melewati masa kritis yang lalu, ia akan terus menerus tergerus dan suatu kali ia akan gagal to cope the change.

Saya masih melihat apa yang terjadi pada Pak Harto dalam konteks budaya Jawa berbeda dari apa yang dialami Oedipus dengan tragedinya. (bersambung-33)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA