logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 12 Agustus 2002 Sala  
Line

Langganan Juara Niyaga

Sekar Kayungyun, Kecil-kecil Cabe Rawit

NIYAGA BOCAH:Murid-murid SD Selopukang, Desa Sendang, Kecamatan Wonogiri mahir menabuh gamelan. Tubuh mereka yang mungil seakan-akan tenggelam oleh gamelan saat unjuk kemahiran di pendapa rumah dinas Bupati Wonogiri H Begug Poernomosidi, belum lama ini.(Foto:Suara Merdeka/P27-14c)

TABUHAN gamelan oleh niyaga Sekar Kayungyun mengalunkan suara rancak, padu, dinamis, dan ritmis mengiringi gending Ketawang Ricik-ricik yang kemudian disambung Mugi Rahayu. Semuanya bertiti laras slendro patet 6.

Kalau hanya mendengar dan tak melihat dari dekat, mungkin banyak yang tak percaya, alunan gending itu berasal dari gamelan yang ditabuh para niayaga cilik, murid SD Selopukang, Desa Sendang, Kecamatan Wonogiri Kota. Karena itu, ketika mereka menabuh gamelan di pendapa Kabupaten Wonogiri, banyak yang berdecak kagum.

''Bukan main, anak-anak sudah mahir jadi niyaga. Tabuhannya pun tak kalah dari pengrawit dewasa,'' puji beberapa penonton saat menyaksikan penampilan grup kerawitan Sekar Kayungyun dalam resepsi resmi peringatan Hari Anak Nasional (HAN) di pendapa Kabupaten Wonogiri, belum lama ini.

''Semua itu berkat ketekunan anak-anak dalam berlatih,'' kata guru SD Selopukang, Triman SPd. Di SD yang terletak di pinggang perbukitan Gajahmungkur itu, timpal Kepala Sekolah Misman SPd, memang ada muatan lokal keterampilan menabuh gamelan. Setiap pekan pelajaran diberikan dua kali. Pembimbingnya guru SD itu, Suhadi dan pelatih spesialis kerawitan dari Kantor Dinas Pendidikan, Pardi.

Langganan Juara

Karena ketekunan berlatih, di hampir semua lomba kerawitan pelajar, SD Selopukang menjadi pemenang. Demikian juga dalam Porseni kabupaten, SD itu langganan juara.

Juga sering dipilih menjadi duta seni anak-anak ketika ada festival kerawitan tingkat Jateng. Bahkan sering diundang untuk memeriahkan pesta orang punya kerja, baik itu untuk klenengan, mengiringi campursari, atau wayangan.

SD Selopukang terletak di pinggang Gunung Cenik, gunung yang puncaknya biasa dipakai untuk peluncuran atlet gantole. SD yang kini memiliki 107 murid, lima guru, dan seorang kepala sekolah itu telah lama memiliki gamelan walau sederhana.

Gamelan itu dulu dibeli dari uang penjualan tanaman yang tumbuh di pekarangan sekolah ditambah iuran swadaya orang tua murid.

''Kami sangat berharap ada pihak yang peduli memberikan bantuan gangsa (gamelan berkualitas, terbuat dari kuningan-Red), sebab gamelan besi yang dimiliki sekarang sudah memprihatinkan,'' ucap Triman.

Karena gamelannya memprihatinkan, siswa sekarang harus sering berlatih di rumah Tjokro di Ngadirojo atau ke pendapa Joglo Pak Bei Tani di Wuryantoro. (Bambang Pur-14c)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA