logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 12 Agustus 2002 Sala  
Line

Kebakaran di Gunung Merbabu Pengaruhi Debit Air

  • Hutan yang Terbakar 43,2 Hektare

BOYOLALI- Bencana kebakaran di kawasan hutan Gunung Merbabu dikhawatirkan memengaruhi penurunan debit air. Akibatnya, distribusi air bersih kepada konsumen berkurang sehingga mengganggu kelancaran pelayanan.

Kekhawatiran debit air berkurang diakui Direktur PDAM Boyolali Mulyadi BBA. ''Memang benar akan terjadi penurunan debit air setelah kawasan hutan Gunung Merbabu terbakar. Berapa liter penurunannya sedang kami teliti,'' jelasnya, kemarin.

Sebagaimana diberitakan beberapa kali di harian ini, kawasan hutan Gunung Merbabu pada Rabu (7/8) sekitar pukul 18.00 terbakar. Kobaran api baru bisa dipadamkan keesokannya sekitar pukul 19.00. Hutan yang terbakar di petak 24, 15, 10, dan 6 adalah 43,2 hektare. Petak-petak yang terbakar itu berada di atas Desa Ngargoloka dan Kembang, Kecamatan Ampel, Boyolali.

Mulyadi mencontohkan penurunan debit air saat terjadi kebakaran pada 1997. Sebelum terjadi kebakaran, debit air bersih di kawasan Gunung Merbabu berkisar 130-160 liter/detik. Namun, setelah kawasan hutan terbakar debit air turun separo, menjadi 70 liter/detik.

''Bila sekarang terbakar lagi pasti debit air akan mengalami penurunan. Hanya saja sampai sekarang kami belum mengetahui berapa persen penurunannya.''

Puluhan Tahun

Dia mengungkapkan, sebagian besar kebutuhan air bersih warga kota Boyolali didukung sumber mata air di kawasan Gunung Merbabu. Posisi sumber mata air berada di dataran tinggi, sehingga untuk mengalirkan kawasan kota tinggal memasangi pipa.

Karena pada 1997 dan 2002 terjadi kebakaran, resapan air di kawasan hutan akan berkurang. Akibatnya, debit air pasti menurun. Untuk menghutankan atau menghijaukan kembali hutan yang terbakar diperlukan waktu puluhan tahun.

Dia mengemukakan, pada musim kemarau ini pihaknya kewalahan mengatasi kekurangan air bersih. Untuk konsumen Boyolali pinggiran dan Ampel, pendistribusian air bersih terpaksa dilakukan dengan oglangan.

Hal itu agar konsumen tidak kekurangan air pendistrubusiannya melalui mobil tangki. ''Bila kebakaran hutan kali ini memengaruhi penurunan debit air yang besar, kami tidak bisa membayangkan kebutuhan air bersih pada musim kemarau tahun mendatang.''(shj-14j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA