
| Senin, 12 Agustus 2002 | Sala |
Penggali Kubur Nyaris Tewas
SRAGEN - Tiga penggali kubur asal Desa Glonggong, Kecamatan Gondang, sekitar 14 km tenggara Sragen Kota, nyaris tewas terpanggang hidup-hidup. Mereka mengalami luka bakar namun berhasil diselamatkan warga. Korban dilarikan ke RSUD untuk mendapatkan pertolongan karena terluka bakar. ''Setelah diperban, para korban dibawa pulang keluarganya,'' tutur perawat di RSUD itu. Kasus langka itu dialami Narto (23), Yatno (45), dan Jumadi (33), Sabtu (10/8) pukul 10.00. Mereka diserahi tugas menggali kubur untuk pemakaman seorang warga Desa Glonggong yang meninggal. Mereka dibantu warga menggali tanah pekuburan. Penggalian sudah mencapai 1 meter dan tinggal sejengkal. Namun tanah di bagian bawah sangat keras. Mereka berniat mencari air untuk menyiram tanah biar agak lembek dan mudah digali. Namun sebelum niat itu kesampaian ada pula yang mengusulkan tanah dibakar agar gembur. Sebenarnya niat itu ditentang sejumlah orang yang hadir di pekuburan. Sebab, tidak lazim menggemburkan tanah kuburan dengan cara membakarnya. Meski demikian, niat itu tetap dilaksanakan. Kemudian mereka menyiramkan 10 liter bensin dan menyulutnya. Terbakar Lubang kubur yang belum jadi itu pun menimbulkan kobaran. Selang setengah jam, api dipadamkan dan penggalian dilanjutkan. Para penggali merasakan upayanya berhasil karena tanah yang digali lebih gembur. Namun ketika penggali asyik bekerja di liang untuk menggali dan menaikkan tanah, tiba-tiba tanah terbakar. Entah dari mana api berasal. Diduga seorang di antara mereka saat melakukan penggalian merokok, sehingga sisa bahan bakar berupa gas yang menguap tersulut api rokok. Sejumlah orang yang melihat kobaran api itu berusaha menghindar. Adapun tiga penggali kubur sudah terjilat api. ''Mereka berteriak-teriak sambil berebut naik karena kepanasan,'' tutur saksi, Yanto. Sejumlah orang memberanikan diri membantu memadamkan api yang menyulut pakaian yang dikenakan korban. Para korban langsung dilarikan ke RSUD Sragen. Namun tidak sampai menginap, keluarganya mengajak mereka pulang. Sebenarnya luka bakar itu cukup serius, tapi keluarganya buru-buru meminta pulang, sehingga rencana rawat inap dibatalkan. (nin-17c) |