logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 12 Agustus 2002 Sala  
Line

"Bolehkah Siswa Mengkritik Guru?"

SOLO- ''Apakah kami boleh membuat berita yang mengkritik guru atau sekolah?'' Pertanyaan itu muncul dari salah seorang peserta Training Jurnalistik yang diselenggarakan OSIS SMU 3 Surakarta, Minggu kemarin. Pelatihan diikuti 40 peserta dari berbagai SMU.

Pertanyaan kritis memang banyak muncul dari para siswa yang ternyata sangat tertarik dengan dunia jurnalistik. ''Saya ingin menjadi wartawan. Karena jika jadi wartawan, bisa bertemu dengan artis idola atau presiden,'' ungkap yang lain.

Pelatihan itu dilaksanakan bekerja sama dengan Suara Merdeka Biro Solo dan dua wartawan senior menjadi pembicara, Joko Dwi Hastanto dan Sri Wahyoedi.

Mereka mengemukakan, selama ini di berbagai SMU sebenarnya sudah berusaha membuat majalah sekolah meski terbitnya ada yang empat bulan atau enam bulan sekali.

''Tulisan akhir yang muncul selalu harus melewati koreksi tim guru pembimbing. Karena itu, sulit untuk memunculkan berita atau tulisan kritis apalagi mengkritik guru.''

Sri Wahyoedi mengemukakan, pada era sekarang memang tidak mungkin lagi mencegah siswa menahan kekritisannya. ''Mungkin, dulu ada siswa membantah guru sudah dianggap sangat tidak sopan. Sekarang lain. Sudah biasa siswa membantah. Tapi yang penting, guru harus bisa mengarahkan kekritisan itu dalam koridor etika.''

Joko Dwi Hastanto mengatakan, kekritisan itu sangat diperlukan bagi seorang wartawan agar bisa menggali informasi lebih dalam dan eksklusif. ''Wartawan sekarang tidak bisa sekadar menggali berita dari pernyataan yang diberikan seseorang. Harus digali lebih dalam latar belakang, informasi tambahan, yang berkait dengan persoalan.''(an-42j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Budaya
Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA