
| Senin, 12 Agustus 2002 | Semarang & Sekitarnya |
''Penguasa'' Rawapening Restui Festival Lesung
AMBARAWA- Dua puluh sembilan kelompok musik lesung dari berbagai desa di Bumi Serasi, Minggu (11/8) mengikuti lomba di kawasan Bukit Cinta, Banyubiru. Keluar sebagai pemenang kelompok lesung Tani Maju, Banyubiru. Juara dua dan tiga adalah Lagamum Suko Budoyo, Bergas dan Kodok Ngorek, Tuntang. Lomba yang baru kali pertama diadakan itu dihadiri Kadiknas Provinsi Drs Soebagyo Brotosedjati MPd mewakili Gubernur Jateng, Bupati Semarang H Bambang Guritno, dan para anggota Muspida. Lomba tersebut digelar Pokja Wartawan Ungaran bekerja sama dengan Disparta, PT Bank BPD, PT Coca Cola, dan RS Bina Kasih. Gubernur Jateng mendukung upaya menghidupkan kembali nilai seni budaya daerah yang mulai menghilang itu. Dia minta agar lomba juga diselenggarakan untuk tingkat provinsi. Kabupaten Semarang diminta untuk sebagai penyelenggarannya. Sementara itu, Bambang Guritno kemarin tak banyak berkata saat memberikan sambutan. ''Saya sudah tak sabar ingin mendengarkan musik yang nyaris punah itu.'' Dia menjanjikan, pemenang lomba akan ditampilkan di anjungan Jateng TMII. Khazanah budaya asli pun akan terus digali, antara lain makanan, pakaian, dan musik khas, sehingga daerah tidak meninggalkan jati dirinya. Munculnya kebudayaan asing dan kemajuan teknologi, harus dijawab dengan lebih banyak mengenal budaya daerah seperti Festival Lesung. Tiga Dimensi Koordinartor lomba Sussiady BS mengemukakan, musik lesung memiliki tiga dimensi yang tidak dimiliki aliran atau jenis musik mana pun. Musik khas itu merupakan sarana gotong royong dan komunikasi yang memiliki nilai heroik dan patriotisme. Nadanya merupakan perlawanan terhadap penjajah, dan merupakan musik terapi religius. Musik lain lebih mengutamakan fungsi hiburan ketimbang komunikasi. ''Pentas musik terkadang memunculkan tawuran, tapi lesung justru membangkitkan semangat kekompakan.'' Ada yang unik dalam penyelenggaraan kali ini, Minggu dini hari pukul 01.00. Saat sedang tirakatan di atas panggung, panitia mendadak kedatangan ''tamu''. Pria yang diyakini warga sebagai utusan penguasa Rawapening menyatakan memberikan restu pada acara tersebut sebagai upaya menyatukan nuswantoro. Juru kunci Bukit Cinta Pandiman mengungkapkan, setelah berbincang-bincang ''tamu'' tersebut menghilang. Dia juga yakin, pesan itu dari penguasa Rawapening. Berdasarkan catatan, jarang acara hiburan dan upacara dapat berlangsung dengan baik. Pernah seorang bupati terkatung-katung di tengah Rawapening lantaran perahu yang membawanya diayun ombak dan angin. Kedatangan pria yang minta dipanggil ''romo'' tersebut menjadi kenyataan, acara berlangsung lancar dan hampir semua pejabat yang diundang hadir.(C17-73j) | |||||