
| Senin, 12 Agustus 2002 | Jawa Tengah - Muria |
Wisatawan Swiss Khitanan Massal
YOGYAKARTA- Gebyar peringatan HUT Ke-57 RI mengundang semangat wisatawan mancanegara yang kebetulan singgah di Yogyakarta. Terbukti dua wisatawan asal Swiss, Emonet Karen dan Kontanel Sophie, Minggu (11/8) kemarin di Kampung Sosrowijayan Yogyakarta menggelar khitanan massal. Kegiatan tersebut terlaksana atas kerja sama dengan Komunitas Sosro. Dalam kesempatan itu, 21 anak yatim piatu dan anak tidak mampu yang dikhitan juru supit H Bilal Sujarah, warga Baturan, Gamping, Sleman. Ketua Komunitas Sosro Deni L Wibowo mengemukakan, khitanan massal itu hanya diperuntukkan bagi anak yatim piatu dan warga tidak mampu. ''Anak-anak yatim piatu itu kami ambil dari sebuah panti asuhan di Bantul.'' Selain itu, Karen dan Sofi, panggilan akrab Emonet Karen dan Kontanel Sophie, juga memberi uang saku plus sarung, kemeja, dan peci. Kegiatan tersebut dilakukan dalam memperingati HUT Ke-57 RI. ''Kami melakukan semua ini dengan senang hati,'' ucap Karen dan Sophie ketika ditanya wartawan. Rasa Senang Mereka mengaku apa yang dilakukannya itu sebagai ungkapan rasa senang atas keramahan bangsa Indonesia terutama warga Yogyakarta dalam menyapa setiap wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia. ''Terus terang keramahan tulus itu belum pernah kami dapatkan di negara lain,'' ujar Karen. ''Kebetulan profesi saya guru sekolah dasar, sehingga kami hanya bisa memberikan itu,'' ucap Karen. Sebenarnya ide menyelenggarakan acara tersebut sudah muncul tahun lalu ketika dia datang ke Yogyakarta dan berkenalan dengan Rachmat Eling Cahyadi, warga Kampung Sosrowijayan. ''Ide itu berawal ketika saya berbincang-bincang dengan Rachmat.'' Dalam perbincangan itu, Rachmat kemudian mengusulkan kepada Karen agar sebaiknya ide itu disampaikan kepada Komunitas Sosro. Dari situlah akhirnya keinginan baik Karen dan Sophie dapat terwujud. ''Jadi, kami hanya pelaksana saja. Terus terang sponsor utama kami dua wanita cantik asal Swiss ini,'' tutur Tanto yang bertindak sebagai penerjemah dalam perbincangan dengan wartawan. Sementara itu, Karen dan Sophie, ketika dibilang cantik dengan ramah dan bijaksana berucap, ''Bisa-bisanya Anda bilang begitu. Apa tidak ada yang lebih cantik?'' Pendeknya, apa yang dilakukan Karen dan Sophie hanya sebagai ungkapan rasa senang dan bahagia atas sambutan warga Yogyakarta terhadap dirinya. Apalagi, Sophie kini sedang mendaftarkan diri di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Sementara dua wisatawan asing menyelenggarakan khitanan massal, Komunitas Sosro yang terdiri atas empat kampung, yakni Kampung Sosro Wetan, Sosro Kulon, Sosrodipuran, dan Sosromenduran menggelar jatilan dan musik anak jalanan. Kesenian tradisional jatilan yang dimainkan anak-anak Monjali Sleman menarik perhatian wisatawan mancanegara yang kebetulan lewat dan yang menginap di kampung tersebut. Mereka bersama-sama menyaksikan kesenian itu dengan senang dan kagum, setelah melihat langsung penampilan para seniman tradisional dalam memainkan jatilan.(sgt-74j) | |||||