
| Senin, 12 Agustus 2002 | Jawa Tengah - Muria |
Pertontonkan Ular Dapat Rp 6 Juta/Hari
SEBUAH bangunan sederhana berukuran sekitar 5 x 5 meter yang berdinding seng tampak berdiri di jalan raya Jepon, arah Desa Turirejo. Cukup menggelitik bagi setiap orang yang lewat dari Pasar Jepon Blora menuju Desa Turirejo, atau sebaliknya. Di dinding depan terpampang puluhan foto seorang bocah cilik tengah bercengkerama dengan ular besar dan beberapa pose lainnya. Melihat ukuran ular di foto yang terpampang itu, cukup bisa membuat hati ini berdesir. Karena memang ukuran ular cukup besar. Ada memang binatang melata sebesar itu jika kita pergi ke kebon binatang. Terlintas bayangan bagaimana jika kita seorang diri bertemu ular sebesar itu di tengah hutan ? Terlebih jika ada gelagat binatang berbisa itu akan memangsa kita ? Suara Merdeka baaru-baru ini menyempatkan untuk melihat ke dalam. Tampak seorang laki-laki setengah baya menyebut namanya Agus Susilo sedang mengelus-elus seekor ular jenis Sanca yang panjangnya 7 meter dengan berat sekitar 200 Kg. Terkesan tak ada rasa canggung saat dia bercengkerama. Sementara itu dalam sebuah ember berdiameter 1,5 meter berisi air, seekor ular jenis Phyton yang ukurannya lebih besar lagi sedang melingkar. Jangan heran jika ular itu juga mempunyai nama, yakni Sariti untuk yang jenis Phyton dan diperkirakan usianya sudah 20 tahun. Sedangkan untuk jenis Sanca yang usianya diperkirakan baru 12 tahun mempunyai nama cukup elok, Dewi Putri Ayu. Dua ular berukuran raksasa dengan jenis kelamin betina itu, dua minggu sekali bisa menghabiskan 10 ekor ayam. Ini yang membuat warga ingin melihat dari dekat, sehingga bisa mendatangkan rezeki bagi Mursid 36, warga dukuh Soko, Desa Kalisari, Kecamatan Randublatung, Blora. Laki-laki yang masih lajang ini adalah penemu sekaligus pemilik ular tersebut. Dia dibantu dua rekannya, masing-masing Agus Susilo (37) dan Ngarjan (35), mempertontonkan dua ular raksasa itu kepada khalayak. Dari Kalimantan Menurut Mursid, ke dua ular itu ditemukan saat merantau sebagai kuli bangunan di Kalimantan tahun 1982. Karena suka dengan binatang berbisa itu, akhirnya dua ular yang ditemukan dirawatnya hingga menjadi besar. Sewaktu dia memutuskan untuk kembali ke kampung halaman, binatang itu dipelihara. Tahun 2000 itu pula pertama kali Mursid memamerkan untuk umum, yakni di daerah Muntilan, Magelang. Sebagian uang hasil pameran disumbangkan untuk membangun sebuah jembatan. Sepanjang tahun 2000 hingga 2002, katanya, sudah banyak kabupaten-kabupaten di Jateng dan Jabar yang ditempati untuk pameran. Saat ini sudah dua minggu mempertontonkan di seputar Pasar Jepon. Dalam pameran di Jepon, meski terbilang sepi penonton dibanding saat pameran di beberapa kota lainnya, rencananya sebagian hasil pameran digunakan untuk membangun Musala Wali Songgo di Kecamatan Jepon. "Di sini penghasilan paling banyak Rp 1 juta tiap hari, kalau dikota -kota lain bisa lebih," ungkap Agus. Dicontohkan, saat pameran di Pekalongan dalam sehari pernah memperoleh Rp 5 juta- Rp 6 juta. Di Jepon pengunjung hanya ditarik Rp 1.000 kalau di kota besar bisa Rp 2.000. "Yang jelas kami mempunyai misi sosial, setiap kali pameran di mana pun sebagian uang hasil pameran kami sumbangkan untuk membangun fasilitas sosial keagamaan," tambah Agus. (Urip Daryanto-58). | |||||