
| Selasa, 6 Agustus 2002 | Sala |
Agus Suparto Dua Jam Rampungkan 70 ''Wiron''
TAK dapat mewiru (membuat tepi lipatan) jarik (kain), jangan panik, serahkan saja pada ahlinya yakni Agus Suparto (50), seorang guru kursus pranatacara Permadani Kabupaten Wonogiri. ''Mungkin karena saya memang lebih dulu paham, menguasai tekniknya, dan punya pengalaman panjang soal miru jarik, banyak yang minta jasa layanan saya,'' kata Agus yang berdinas di Sekretariat DPRD Wonogiri, belum lama ini. Kecakapan mewiru jarik, biasanya dimiliki kaum wanita. Karena itu, ketika ada pria yang mahir dalam soal wiru mewiru jarik sebagaimana dilakukan Agus Suparto ini, banyak orang menyatakan dia sebagai pria yang mempunyai keterampilan lebih. ''Saya sejak kecil akrab dengan urusan mewiru jarik. Itu terjadi karena orang tua dan kakek-nenek saya memang masih keturunan darah biru,'' ucapnya. Dari alur silsilah keluarganya itulah, dia kemudian belajar menekuni cara mewiru jarik sesuai aturan pakem di lingkungan bangsawan Jawa. Menurut dia, mewiru jarik itu tidak sulit, meski harus terus belajar dan tekun melakukannya. ''Lama-lama akan terbiasa dan akan mahir dengan sendirinya,'' katanya. Berbeda Hal-hal yang perlu diperhatikan sejak awal adalah aturan baku. Sebab jarik yang akan dipakai wanita dan pria berbeda ukurannya. Wiron untuk pria lebih lebar dibanding wanita. Ukuran lebar standar untuk pria sekitar 5 cm dan wanita 2 cm. Jarik yang akan dipakai untuk gaya Kasunanan Surakarta dan model Mangkunegaran Solo juga berbeda dengan pakem Kasultanan Yogyakarta. Hal lain yang perlu diperhatikan lagi adalah letak wiron ketika jarik dipakai. Sebab, untuk wanita, wiron harus terletak di kiri dan bagi pria di kanan. Arah corak kain batik pun juga tidak boleh diabaikan. Kalau jarik ada lukisan rumah dan sayap, pucuknya harus diarahkan ke atas, tidak boleh terbalik. Hal yang lebih spesifik lagi, pada jarik corak wahyu temurun, pola wiron-nya juga harus diselaraskan dengan corak wahyu temurun dari atas ke bawah. ''Jangan sampai terbalik,'' ujarnya. Banyaknya lipatan wiron pun setidak-tidaknya harus mencapai sekitar sepertiga dari panjang jarik. Cara melipat diakhir pekerjaan mewiru pun juga ada aturannya. Kalau wiron jarik pria, usahakan dilipat layaknya bentuk yoni. Tapi kalau jarik yang akan dipakai wanita, lipatannya dibuat mirip bentuk lingga. Kualitas jarik pun relatif dapat memengaruhi cepat lambatnya tugas mengerjakan mewiru. Rekor Agus membuat wiron jarik, pernah dilakukan hanya dalam waktu dua jam bisa merampungkan 70 buah. Dia biasa menerima pesanan dari kalangan pejabat dan tokoh-tokoh masyarakat. Pesanan sewaktu-waktu dapat melonjak tajam, ketika ada keluarga kaya yang punya perhelatan. ''Soal ongkos saya tidak pasang tarif,'' ucapnya.(Bambang Pur-14) | |||||