logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 2 Agustus 2002 Sala  
Line

Tukar Guling Kantor Koperasi

Agas Tak Paksakan Diri

Romo Tunggul - SM/D11

SOLO - Meski mengaku membutuhkan lahan untuk perluasan hotel, pemilik Hotel Agas Internasional, Romo Tunggul Panuntun, menyatakan tidak akan memaksakan diri untuk mendapatkan Kantor Koperasi dan Kantor Perindustrian di Jl Yosodipuro.

Kantor yang mangkrak itu berada di belakang hotel berbintang tiga tersebut.

''Saya memang ingin memperluas hotel ini. Karena itu, saya mencoba mendekati Pemkot selaku pemilik lahan itu. Secara kebetulan pula, lahan Kantor Koperasi dan Perindustrian yang saya incar itu selama ini terbengkelai karena tidak digunakan lagi,'' jelas Romo Tunggul, kemarin.

Sebagaimana diwartakan (Suara Merdeka, 1/8), Wali Kota Surakarta Slamet Suryanto menyatakan tidak akan menjual Kantor Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM), Kantor Dinas Perindustrian Perdagangan dan Penanaman Modal, serta lahan kosong aset Pemkot yang terletak berjajar di Jl Yoyodipuro.

Slamet mengungkapkan hal itu setelah mendengar kabar tiga lahan yang masing-masing seluas 3.000 m2 itu akan dibeli Hotel Agas.

Romo Tunggul mengaku sudah mengutarakan niatnya dengan sejumlah pejabat Kota Solo yang berkompeten, yakni Wali Kota, Kabag Hukum, dan pejabat lain, termasuk Ketua DPRD Surakarta Bambang Mudiarto.

''Pak Bambang menyatakan tak keberatan atas rencana saya itu. Hanya, langkah ini baru sebatas omong-omong antarkawan. Belum menginjak hal-hal prinsip,'' kata dia.

Niatnya, ungkap pengusaha yang juga dikenal sebagai paranormal kondang itu, pembelian lokasi tidak dilakukan dengan cara imbal beli. Tapi melalui tukar guling dengan lahan lain yang memiliki prospek dan potensi yang sama.

''Kedua bangunan kantor itu akan saya ganti dengan lahan lain yang bernilai sama,'' jelas dia.

Tidak Memaksa

Dia mengatakan, untuk perluasan hotel, pihaknya membutuhkan lahan satu hektar. Saat ini lahan yang dimiliki baru sekitar 4.000 m2.

Jika nanti ditambah lahan bekas kantor Koperasi dan Perindustrian itu, luasnya sudah mencapai 8.000 hektare.

''Saya akan emulai menggarap perluasan hotel yang rencananya saya tambah bangunan berlantai 11, berisi 120 kamar. Nilai investasinya Rp 15 miliar sudah siap dan dimulai akhir tahun ini,'' ungkapnya.

Tapi jika lahan itu tetap digondheli Pemkot, dia tak akan memaksakan diri. Sebab, dia mengaku masih memiliki lahan lain yang diincar untuk mendirikan hotel baru atau membangun bisnis lain. ''Banyak tanah lain yang dapat saya kembangkan,'' katanya.

Mempertegas penyataan Romo Tunggul, Branch Director PT Marante Harapan Pelita, Ir Willy G Wungo, yang mengelola Hotel Agas menyatakan, dalam persoalan tukar guling itu pihaknya bersikap pasif.

''Jika Pemkot mau menjual, daripada ditawarkan ke pihak lain, lebih baik dijual saja pada kami. Tapi jika tidak, kami juga tidak akan memaksa,'' katanya.

PT Marante tengah membangun 21 kamar baru. Tambahan bangunan itu diperkirakan selesai September 2002, sehingga nanti memiliki 66 kamar.

Luas sekitar itu, lanjutnya, sebenarnya untuk ukuran sebuah hotel berbintang tiga sudah cukup memadai. Dengan demikian, kalaupun nanti muncul kendala, misalnya gagal mendapatkan lahan bekas Kantor Koperasi dan Industri, tidak menjadi masalah. (san,an-17c)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA