logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 25 Juli 2002 Jawa Tengah - Banyumas  
Line

Didemo Warga, Kades Suyono Hadi Mundur

  • Dituduh Menilep Uang Lelang

DEMO: Setelah didemo ratusan warga Tambaksogra, Kades Suyono Hadi menyatakan mundur. Dia dituduh melakukan korupsi dan LPJ ditolak BPD. Dia membantah tuduhan itu, dan balik menuduh demo digerakkan rivalnya yang kalah dalam Pilkades. (Foto:Suara Merdeka/in-68)

PURWOKERTO - Mendapat tekanan keras dari warga, Suyono Hadi BA terpaksa mengundurkan diri dari jabatan Kepala Desa Tambaksogra, Sumbang, Banyumas.

''Demi kebaikan bersama saya mundur,'' katanya di hadapan ratusan warga setempat yang mendemo di balai desa kemarin pukul 12.00.

Pernyataan Suyono di hadapan pejabat Pemkab Banyumas dan Camat Sumbang, disambut dengan histeris ratusan pendemo yang mendatangi balai desa sejak pukul 09.00. ''Saya puas, akhirnya Yono mundur,'' kata seorang wanita setengah baya yang ikut demo.

Demo yang diikuti sekitar lima ratus warga itu dipimpin Slamet tokoh pemuda dan Suharto HS Ketua BPD setempat berlangsung seru. Massa yang datang dari berbagai kelompok membawa poster yang isinya meminta kades agar mundur. Mereka juga memasang pamflet di sekitar kelurahan. Dua buah spanduk besar juga digelar di depan kantor desa.

Warga meminta kades mundur karena sering menilep uang milik rakyat dari hasil lelang tanah banda desa, dari pabrik mi soun Rp 7,6 juta, retribusi pasar maupun uang proyek pengembangan kecamatan. Warga melihat perbuatan itu tidak pantas dilakukan seorang kades yang menjadi panutan. ''Dalam setiap kegiatan tidak mengikutsertakan BPD. Dia juga mengubah program kerja tanpa sepengetahuan kami,'' kata Suharto.

Ditolak

Sebelum warga dan BPD melakukan demo, kades mengemukakan LPJ bulan lalu, tapi ditolak BPD. Alasannya laporan kades tidak jelas, banyak pos yang mengalami kenaikan tak wajar dan tidak bisa dijelaskan kades. Karena laporan ditolak, BPD minta mundur.

Kades Suyono ketika dihubungi mengatakan, tuduhan BPD tidak benar. Dirinya tidak melakukan manipulasi dan korupsi uang lelang tanah dari pabrik mi soun. Uang Rp 7,6 juta adalah pelunasan sewa tanah, dan uang itu masih utuh. ''Uang proyek PPK sebanyak Rp 2,5 juta juga masih utuh dan saya bawa sekarang,'' jelasnya.

Semua tuduhan terhadap dirinya, menurut Suyono bersifat pribadi dan datang dari orang-orang yang tidak senang kepadanya. Mereka yang memimpin demo adalah rivalnya dalam Pilkades tahun 1997 lalu. ''Karena mereka punya strategi lebih baik saya kalah, yang demo adalah pendukung dia. Pendukung saya masih lebih banyak,'' ungkapnya.

Sebelum pernyataan mundur diucapkan Suyono, massa yang diwakili para tokohnya melakukan dialog dengan Kabag Pemdes Sunaryo, didampingi Joko Sembodo Camat Sumbang. Namun dialog tidak memuaskan warga, sehingga mereka meminta Kades mundur hari itu juga.

Karena menemui jalan buntu, usul dari Pemdes agar masalah ini diselesaikan secara baik ditolak, akhirnya masalah tuntutan warga dikembalikan ke BPD. Pengurus BPD kemudian melakukan rapat tertutup dengan Kades, dan terjadilah musyawarah, sehingga akhirnya Suyono bersedia menyatakan mundur.

Dalam pertemuan tertutup Kades minta agar tuduhan terhadap dirinya diselesaikan melalui prosedur hukum tapi ditolak. Mengenai desakan agar mundur, dia menyatakan akan berpikir dulu, juga tidak diterima. ''Karena kondisinya seperti ini, saya pikir mundur lebih baik,'' ujarnya.

Meskipun sudah mundur, Suyono akan tetap ke kantor sampai ada SK dari bupati. ''Kalau tidak dipermasalahkan saya akan masuk kantor menyelesaikan tugas. Tapi kalau dilarang masyarakat saya akan duduk manis di rumah,'' katanya.

Setelah Kades mundur, kata Sunaryo proses berikutnya BPD membuat surat yang ditujukan kepada bupati melalui camat mengenai pengunduran diri Kades. Berdasarkan surat itulah bupati akan mengeluarkan SK pemberhentian Kades. (in-68)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA