logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 23 Juli 2002 Budaya  
Line

Mendekonstruksi Wayang Beber

Lukisan karya Boy (inzet) berjudul Kalimasada dan Drupadi  SM/dok

TUBUH Drupadi yang molek melayang di angkasa. Dengan berahi dan amarah memuncak, Dursana memegangi ujung kainnya. Tak kunjung lepas, seolah-olah tubuh perempuan itu terbungkus berlaksa-laksa cita.

Di sekitarnya, dalam dua sisi balairung yang berbeda, ada dua tatapan berbeda. Pandawa menatap peristiwa itu dengan pedih dan marah, sedangkan Kurawa terbuncah oleh nafsu menaklukkan. Dan di angkasa, mulut Batara Surya bergumam-gumam seperti me-wedar-kan mantra penjaga kesucian. Kesucian Drupadi!

Sudah banyak yang tahu, itu adegan yang mengiringi kekalahan permainan dadu Yudistira dari Sengkuni pada epos Mahabharata. Boy Tri Harjanto, pelukis dan fotografer Solo, menyajikan kembali penggalan kisah itu pada lukisan wayang beber berjudul Drupadi. Sebuah lukisan akrilik di atas kain 45 x 60 cm.

Apa yang berbeda? Pada kisah klasik itu tidak termaktub soal tubuh Drupadi yang melayang. Maka ketika goresan Boy menunjukkan itu, muncul kesan seolah-olah dia sengaja mendekonstruksi sosok Drupadi. Drupadi yang dalam epos pewayangan begitu terhina dan tak berdaya dalam genggaman Dursana, pada karya Boy didekonstruksi menjadi sosok yang tegar dan agung. Apalagi, pada karya itu, kain yang membungkus Drupadi membelit menara istana.

Puluhan karya lain lelaki kelahiran Solo 16 Januari 1974 itu, semuanya wayang beber, juga memberikan tengara soal dekonstruksi pada konsepsi mengenai wayang beber. Karya lain yang hampir seluruhnya bermedium akrilik adalah Dadu, Senapati, Guwarso-Guwarsi, Pati Obong, dan Kalimasada berangkat dari konsepsi itu.

''Saya sadar melakukan dekonstruksi pada figur yang saya munculkan. Saya juga sadar soal dekonsktruksi pada konsepsi wayang beber. Boleh jadi, itu upaya untuk rekonstruksi atau apalah...'' katanya.

Lazim dikenal, wayang beber berisi gambar yang lebih menyerupai adegan jejer pada pertunjukan wayang kulit. Lewat kandha atau janturan sang dalang, sebuah adegan diceritakan. Gambar yang tersaji lebih merupakan figur wayang yang ''mati''. Singkatnya, peradegan diringkas dalam bentuk jejer.

Bak Animasi

Pada wayang beber Boy, peradegan digores secara berbeda. Figur-figur tampak begitu hidup. Unsur gerak mendominasi setiap figur. Bahkan, seolah-olah figur itu menari di atas kain atau kaca yang menjadi medium lukisan.

''Sebagai fotografer, saya sering memotret pertunjukan. Banyak hal dari tarian, misalnya, yang mengilhami penciptaan karya saya.''

Maka figur-figur yang seolah menari menjadi karakteristik corak lukisannya. Dalam hal lain, figur yang muncul bahkan menyerupai animasi yang lazim ditemukan pada karya-karya Walt Disney. Bedanya, betapapun ada karya Boy yang menceritakan sebuah fabel, sosok binatang yang muncul tetaplah sosok wayang.

''Banyak yang bilang karya saya menjurus ke animasi. Barangkali itu kebetulan belaka,'' dalihnya.

Lepas dari itu, seluruh karya Boy cukup menantang untuk dinikmati dan diapresiasi. Sebab, kecenderungan mengungkapkan detail dari kisah yang diangkat dalam kanvasnya melahirkan kisah utuh. Apalagi, dia mematok dirinya sebagai pelukis'wayang beber, selain dari dua epos pewayangan, Mahabharata dan Ramayana, inspirasi tumbuh juga dari cerita rakyat. Lukisan Sangkuriang adalah buktinya.

Satu hal yang patut dicatat adalah keberanian alumnus STSI itu memajang karyanya dalam sebuah pameran tunggal di The Japan Foundation, Agustus mendatang.(Saroni Asikin-75)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA